Ringkasan Berita:
- Ritual suci Salat 40 warga Lambung Bukik berisiko hilang sepenuhnya tahun ini.
- Banjir besar menghancurkan Surau Jamiaturrahmah, hanya tersisa tumpukan batu besar.
- Warga menangis kehilangan pusat kepercayaan mereka tepat saat bulan suci sudah dekat.
- Bukan hanya sebuah bangunan, masjid ini menjadi saksi bisu dari doa-doa warga yang kini telah hancur berantakan.
- Bagaimana masyarakat dapat menjaga martabat tradisi tanpa memiliki tempat ibadah?
, PADANG –Kekhawatiran besar kini menghiasi masyarakat Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, setelah Surau Jamiaturrahmah hilang akibat dampak banjir bandang.
Warga setempat merasa sedih karena upacara Salat 40 yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun terancam tidak bisa dilaksanakan tahun ini.
Sampai mata memandang pada Sabtu (17/1/2026), lokasi yang dulu menjadi tempat berdirinya Surau Jamiaturrahmah kini hanya menjadi bidang luka.
Tanah yang dahulu sakral kini tertutup batu-batu besar dan kayu-kayu yang tergeletak tidak beraturan.
Banjir bandang yang terjadi di akhir November 2025 ternyata tidak hanya membawa lumpur. Arus derasnya mengangkat bangunan seluas 15×15 meter hingga ke akar-akarnya, meninggalkan area kosong yang kini hanya dihiasi tumpukan puing.
Masjid Jamiaturrahmah bukan hanya sekumpulan batu bata dan semen, tetapi gudang kenangan yang menjadi milik berbagai generasi di Lambung Bukik.
Di sana, setiap inci lantai menyimpan jejak sholat masyarakat yang jumlahnya tidak terhitung.
Kini, jejak tersebut telah tertutup oleh material bencana, meninggalkan rasa kosong yang menyedihkan bagi siapa pun yang pernah berdoa di dalamnya.
Dasri Ben, seorang penduduk yang rumahnya juga hilang di dekat surau, mengatakan bahwa bagi dirinya, surau tersebut adalah saksi bisu perjalanan hidupnya, tempat ia berdoa untuk melampiaskan beban kehidupannya setiap kali merasa berat.
“Segalanya telah hilang. Rumah saya, tempat di mana kami semua berdoa. Sekarang tidak ada lagi yang tersisa untuk menjadi tempat berpegangan jiwa,” katanya.
Rasa sakit Ben mencerminkan perasaan seluruh penduduk Lambung Bukik. Kehilangan tempat ibadah di tengah kondisi pasca-bencana seperti kehilangan perlindungan bagi jiwa yang sedang luka dan terluka secara emosional.
Di balik reruntuhan tersebut, muncul kecemasan yang semakin meningkat seiring mendekatnya bulan suci Ramadan.
Terdapat tradisi yang hampir punah, sebuah upacara yang dikenal sebagai “Salat 40”, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat setempat.
Salat 40 bukan hanya sekadar ibadah berjamaah biasa. Ia merupakan bentuk kehidupan spiritual masyarakat yang dimulai sebelum datangnya Ramadan.
Tanpa Masjid Jamiaturrahmah, ritual yang menjadi simbol persiapan batin ini kehilangan tempatnya.
Reni, warga yang terkena dampak lainnya, menceritakan bagaimana biasanya seminggu sebelum puasa melakukan salat 40.
“Kami biasanya sibuk mempersiapkan ibadah selama 40 hari. Kini, tempat kami berkumpul telah terbawa oleh air. Terasa ada yang hilang dari tradisi kami,” ujar Reni dengan suara lembut.
Kehilangan surau ini secara perlahan mengikis ruang sosial masyarakat. Surau selama ini menjadi tempat berkumpul, di mana isu-isu warga dibahas dan solusi dicari dengan semangat kekeluargaan.
Sekarang, warga yang ingin melaksanakan tradisi tersebut harus beralih ke surau di daerah lain. Namun, bagi mereka, perasaan khusyuk dan ikatan emosional di Surau Jamiaturrahmah tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya.
Setiap pergerakan warga menuju masjid lain kini dianggap sebagai pengingat akan kesedihan yang mendalam. Ada rasa rindu yang dalam terhadap suasana hangat di bawah atap Jamiaturrahmah yang kini telah hilang.
Pemugaran kembali surau tersebut tentu membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar. Namun, bagi masyarakat Lambung Bukik, bukan sekadar bangunan yang megah yang mereka harapkan, melainkan kehadiran kembali tempat yang menjadi tempat kembalinya mereka untuk meredakan jiwa.
Surau Jamiaturrahmah kini memang telah menjadi kenangan yang terbawa oleh banjir. Namun, di dalam hati masyarakat, semangat untuk membangkitkan kembali semangat spiritual tersebut tetap berkobar meskipun dengan berbagai keterbatasan.(*)







