Saksi Mata: Pandangan Petugas Lapangan tentang HIV/AIDS di Ternate

Ringkasan Berita:

  • Dari bulan Januari hingga Oktober 2025, terdapat 144 kasus baru yang dilaporkan, dengan sebagian besar penderita berada dalam kisaran usia 20 hingga 49 tahun.
  • Saksi Kata episode 10, kami berkesempatan melakukan wawancara dengan Gem, seorang petugas lapangan yang setiap harinya mendampingi individu yang tergolong ODHIV (Orang Dengan HIV).
  • Terdapat sedikit percakapan antara pembawa acara dan narasumber dalam wawancara.

, TERNATE –Kota Ternate, Maluku Utara yang terletak di sebelah timur Indonesia, sedang menghadapi situasi sulit: peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS yang menargetkan kalangan usia produktif.

Dari bulan Januari hingga Oktober 2025, terdapat 144 kasus baru yang dilaporkan, dengan sebagian besar penderitanya berada dalam kisaran usia 20 sampai 49 tahun.

Data ini mengungkapkan bahwa HIV bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan, masa depan, dan harga diri seseorang.

Namun di balik angka-angka yang dingin, terdapat manusia yang memiliki harapan, perjuangan, rasa takut, serta usaha untuk tetap hidup dengan harga diri.

Saksi Kata episode 10, kami berkesempatan melakukan wawancara dengan Gem, seorang petugas lapangan yang setiap hari mendampingi individu yang tergolong ODHIV (Orang Dengan HIV).

Gem memanggil kita untuk menjelajahi kenyataan di balik angka-angka, di mana terdapat kisah nyata, tantangan, serta harapan akan perubahan.

Berikut sedikit penjelasan mengenai percakapan antara pembawa acara dengan narasumber dalam wawancara.

HOST

Bisa berikan sedikit penjelasan mengenai peran dan tanggung jawab seorang petugas lapangan yang menangani orang dengan HIV di Kota Ternate?

NARASUMBER

Jadi dulu saya memulai dengan kontrak PKBI Sulawesi Utara, di mana saya ditugaskan sebagai petugas lapangan dengan fokus pada intervensi terhadap pekerja seks perempuan.

Pekerja seks perempuan di Kota Ternate ini terbagi menjadi dua kelompok, ada yang bekerja secara langsung dan ada yang tidak langsung. Saya mendampingi khusus untuk pekerja seks perempuan dan pasangannya.

Setelah itu kami melakukan pendataan, penyuluhan, dan sosialisasi tentang penyebaran HIV/AIDS kepada mereka. Jika ditemukan salah satu dari mereka yang positif dan bersedia didampingi, saya dapat menemani mereka ke fasilitas kesehatan.

Saya sebenarnya mulai terlibat sejak semester kedua tahun 2011, namun aktif bersama PKBI Sulawesi Utara sejak awal tahun 2024 hingga saat ini. Kami terbagi dalam Pekerja Seks Perempuan, Waria, dan kelompok lainnya. Terdapat enam populasi kunci.

HOST

Sebagai petugas lapangan, melihat kasus HIV/AIDS yang menurut data mengalami peningkatan, namun bagaimana kondisi nyata di lapangan?

NARASUMBER

Sebenarnya data dari Januari hingga Oktober 2025 adalah yang teridentifikasi. Namun, dalam hal HIV/AIDS, kondisinya seperti gunung es, di mana satu kasus yang ditemukan berarti masih ada yang belum terdeteksi.

Contoh pada bulan November, terdapat lomba voli untuk kelompok waria. Di Kota Ternate terdapat lebih dari 100 waria yang termasuk dalam usia produktif. Namun ketika kami melakukan kegiatan mobile, hanya sekitar 50 lebih yang bersedia untuk dilakukan pemeriksaan. Ini berarti ada 50 di antara mereka yang tidak terdeteksi.

HOST

Apakah terdapat pola di mana HIV ditemukan pada usia produktif?

NARASUMBER

Yang sebenarnya terdapat berbagai usia, baik yang lebih muda maupun lansia. Usia muda biasanya ditemukan pada rentang usia 18 hingga 20 tahun, sedangkan usia lanjut ditemukan pada usia 55 tahun ke atas. Jadi, ketika membicarakan data tersebut, artinya yang telah ditemukan. Sebenarnya masih banyak pula yang belum teridentifikasi.

HOST

Faktor utama yang menyebabkan peningkatan angka HIV/AIDS di Kota Ternate pada tahun 2025, berdasarkan data, adalah LSL (Lelaki Seks Lelaki). Apakah hal ini benar-benar faktor utama atau justru mengalami perubahan setiap tahunnya?

NARASUMBER

Global Fund memasuki Maluku Utara pada tahun 2011 dan menemukan bahwa penyebab utama penyebaran HIV/AIDS berasal dari pekerja seks wanita serta penggunaan narkoba melalui suntikan.

Berpindah waktu antara tahun 2013 hingga 2014, ditemukan bahwa banyak kasus berasal dari Ibu Rumah Tangga (IRT) dan laki-laki yang suka bermain. Namun pada tahun 2021 hingga saat ini, banyak kasus berasal dari LSL. Memang, yang ditemukan di lapangan adalah demikian.

Mengapa jumlahnya banyak? Karena banyak pekerja seks laki-laki yang menjajakan layanan mereka kepada sesama pekerja seks laki-laki, kemudian beralih ke LSL. Namun perlu dipahami bahwa LSL berbeda dengan pekerja seks laki-laki. Karena orientasi seksualnya berbeda, LSL hanya tertarik dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki, sedangkan pekerja seks laki-laki bisa memiliki hubungan seks dengan laki-laki maupun perempuan (Bisexual).

HOST

Apakah ada kasus terkait HIV/AIDS yang berdampak selama menjalankan tugas sebagai petugas lapangan?

NARASUMBER

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mendampingi sejumlah ibu rumah tangga heteroseksual. Awalnya mereka kaget ketika dinyatakan positif HIV, dan ada juga yang menolak untuk menjalani pengobatan. Setelah mendapatkan sosialisasi dan edukasi, mereka mulai terbuka dan bersedia menerima pengobatan.

Namun, pernah juga saya temui orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya karena sangat takut terhadap penyakit ini. Kami memberikan bantuan melalui pendidikan dan konseling, dan Alhamdulillah mereka berhasil keluar dari lingkaran stigma tersebut.

HOST

Biasanya para ibu rumah tangga ini terpapar HIV karena tindakan suami yang sering berkunjung ke tempat-tempat tertentu atau ada faktor lain?

NARASUMBER

Apa yang saya temui di lapangan tidak selalu demikian, mungkin saja orang ini (IRT) merupakan pekerja seks wanita. Karena masa inkubasi virus HIV bisa berkisar antara 2 bulan hingga ada yang mencapai 10 tahun. Misalnya, jika dia terdeteksi saat berusia 40 tahun, maka dengan menghitung mundur, kemungkinan dia tertular pada usia 34 hingga 35 tahun. Tidak selalu IRT menjadi korban dari suaminya, seperti yang saya temukan sebelumnya.

Saya menemukan informasi bahwa sebelumnya dia adalah pekerja seks wanita dan positif. Namun kini, berkat Alhamdulillah, suaminya menerima dan mereka hidup bersama hingga saat ini.

HOST

Stigma apa saja yang sering dialami oleh penderita HIV di tengah masyarakat?

NARASUMBER

Jika saya berbicara tentang Kota Ternate, yang saya lihat sejak bergabung pada tahun 2011 hingga saat ini, jumlah kasus dengan tingkat stigma terhadapnya jauh lebih sedikit. Kasus saat ini sekitar 1.500, di mana yang masih hidup berjumlah 1.051, dan meskipun kami menemukan adanya diskriminasi, jumlahnya sudah sedikit.

Terkadang, seseorang dengan ODHIV ini terlalu kaku. Belum bertemu dengan prasangka, ia sudah lebih dulu menutup diri.

Terdapat kasus yang pernah kami temui di mana satu keluarga menolak anggota mereka yang diketahui positif HIV. Namun, setelah kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan KPA Kota Ternate dalam melakukan advokasi, sosialisasi, serta edukasi, berkat izin Tuhan, anggota tersebut akhirnya diterima kembali.

Kurang lebih tiga minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang pria heteroseksual yang datang bersama anggota keluarganya. Sebelumnya, ia mengalami perlakuan tidak adil dari keluarganya, sehingga saya memberikan edukasi kepada keluarga tersebut. Akhirnya, keluarganya dapat menerima dia. Saya juga meminta salah seorang teman saya untuk menemani si ODHIV tersebut agar bisa mendapatkan akses layanan kesehatan.

Artinya, pihak berwenang perlu melakukan sosialisasi dan edukasi terkait hal ini. Sebenarnya, virus ini hanya menular melalui hubungan seksual atau penggunaan jarum suntik, karena virus berada di dalam tubuh dan tidak menyebar melalui udara, berbeda dengan covid. Jadi seharusnya tidak perlu merasa takut.

Kemungkinan besar virus ini tidak menyebar melalui air liur. Kejadian ini bisa terjadi saat hubungan seksual oral dilakukan dan salah satu pihak sedang mengalami sariawan. Namun, jika hanya satu orang yang mengalami sariawan, penyebarannya sangat kecil.

Penggemar, percakapan kalian dengan Gem mengenai kondisi nyata yang mereka alami saat mendampingi orang yang terinfeksi HIV di Kota Ternate, Maluku Utara dapat dilihat di YouTube Tribun Ternate atau klik video di bawah ini. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *