Sabtu Bersama Ibu: Merawat Nostalgia, Menjelajah Rasa

Pengalaman Jalan-jalan Bersama Ibu

Hampir satu bulan, Ibu ingin ditemani jalan-jalan. Sederhana saja, Ibu hanya ingin ke kebun binatang bersama anak bungsu sekaligus perempuan satu-satunya. Melongok segelintir waktu, ternyata banyak pertimbangan dan terus tertunda. Sampai-sampai, Ibu terus bercerita dan merogoh kenangan — masa-masa di mana saat anak-anaknya balita selalu diajak ke kebun binatang. Sekilas, seperti melihat anak kecil yang kalau belum dituruti pasti terus berbicara.

Tapi, disitulah saya tertampar. Soal waktu untuk Ibu saja harus pakai pertimbangan segala. Akhirnya, saya mengagendakan hari sabtu untuk dihabiskan bersama Ibu.

Bacaan Lainnya

Kegiatan di Kebun Binatang Ragunan

Kagok. Mau menyambangi kebun binatang saja bingung perkara tiket. Maklum, efek bertahun-tahun tak mampir, kecuali sebatas lewat depan gerbang sebab satu-satunya jalan menuju GOR. Kebingungan itu akhirnya terhempas, dengan satu kali tap kartu JakOne. Terhitung tiket masuk, plus biaya parkir. Semudah itu rupanya.

Jika dibandingkan beberapa tahun silam, memasuki kebun binatang Ragunan agaknya sudah cukup berbeda. Lebih rapi dan jauh lebih banyak outlet makanan-minuman, baik lokal sampai siap saji ternama. Sejauh mampir, semua harga normal! Tak ada yang menggetok. Bahkan, ada beberapa outlet yang menggelar semacam promo paket, salah satunya teh kemasan: 3 botol sedang hanya dibandrol Rp10.000. Untuk ukuran di tempat wisata, ini murah betul.

Selain area foodcourt, juga terpampang restoran besar, satu diantaranya Bakso Lapangan Tembak Senayan. Sempat mampir, lokasi yang nyaman (indoor + outdoor) dan pilihan menu yang beragam, tak heran jika masih pagi sudah banyak pengunjung yang memilih sarapan di sana.

Sekitar jam 8 pagi, saya dan Ibu mulai berkeliling. Betul-betul disambut lingkungan yang bersih, tak nampak sampah berserakan. Dibeberapa area satwa, rupanya juga sudah dipasang papan himbauan untuk tak membuang sampah sembarangan, khususnya ke dalam kandang entah memberi makan atau melempar ragam benda.

Bak tak berpenghuni, saat mulai berkeliling kami dikagetkan dengan beberapa kandang satwa yang kosong. Setelah diperhatikan, rupanya tidur! Harimau, singa, orangutan… Ada rombongan yang sedih tak bisa berpapasan dengan satwa, ada juga yang nyeletuk, “Singanya abis begadang semalem ikut Night at the Ragunan Zoo, jadi sekarang ngantuk bobo,” ujar seorang Bapak yang berguyon.

Jasa Fotografer di Tempat Wisata

Asyik berkeliling. Saya dan Ibu berniat ngadem di area pusat dekat Primata. Tak sengaja melihat gelaran foto dari jauh. Semula mengira pameran kecil, ternyata jasa fotografer! Ahh, lama tak jumpa, hati sumringah!

Cukup mengagetkan bagi kami, ternyata jasa fotografer masih ada di tempat wisata saat ini. Kalau diingat-ingat, mungkin terakhir kali melihatnya saat saya masih kecil. Sang fotografer sedang tertunduk lesu. Lantas, saya dan Ibu langsung bertanya, “Berapa biayanya Pak kalau mau foto?” Dengan sumringah ia menjawab, “Cuma 15 ribu aja neng!” setelah kami mengiyakan Bapak fotografer langsung bangun dan mengarahkan, “Mau di bagian mana? Sini boleh, atau di depan situ juga pemandangannya bagus,” tunjuknya dengan semangat.

Sesi foto selesai, hanya butuh 2 menit langsung tercetak! Hasil foto dengan gelaran yang berjejer tampak serupa, seperti ada efek hijau sepia + light shadows. Ibu senang betul melihat hasil fotonya. Serupa ada di nuansa zaman muda, ujarnya. Apik!

Di taman wisata, foto seharga Rp15.000 dengan hasil sebagus ini dan lumayan besar cetakannya, membuat kami sedikit bertanya, kok bisa murah? “Dijual 20 ribu ngga laku. Jual 15 ribu untung 1 aja gapapa, asal lancar, Bu. Gapapa buat anak cucu,” ujar Pak Yayan, sang fotografer sembari mengecek foto. Beliau nyambung bercerita, bahwa kegiatan yang digelutinya ini sudah dilakukan sejak muda, “Foto udah 15 tahun Bu, dari bujang. Ngga di sini aja, kadang di tempat lain juga,” ungkapnya.

Jelajah Rasa

Bergegas pulang. Sekitar 500 meter dari area kebun binatang, pandangan kami teralihkan dengan poster jumbo bertuliskan “Bakso Asli Malang”. Tergiur, saya dan Ibu mampir. Saya penasaran dengan kata ‘Asli’ yang terselip. Apa yang membedakan dari bakso malang lain khususnya di Jakarta. Sebab, juga tak ada pilihan menu yang ditawarkan atau sekadar milih isian.

Dua porsi bakso asli malang tersaji. Berisi 1 bakso urat kriwil, 1 pangsit rebus, 1 bakso goreng, 1 risol, 1 tahu putih, 2 kerupuk pangsit, dan kuah bening. Sejauh mengigit enak! Rupanya, yang membedakan dari bakso malang umumnya ialah pada bagian isi atau olahan. Gurih daging bakso + isi pangsitnya khas betul dan kenyal. Kuahnya baru terasa pas jika ditambahi sambal dan sedikit kecap. Ibu bilang, bakso malang ini adalah yang paling enak daripada bakso malang lain yang biasa dicicipinya di Jakarta. Khas olahannya!

Kalau dirimu mau mencoba, boleh! Hanya merogoh kocek Rp18.000 sudah bisa menikmati. Langsung saja ke Jl. Harsono RM No.02, RT.7/7, Ragunan. Atau, mudahnya bisa cek google maps “Bakso Malang Asli Isma Jaya”, tak jauh dari pintu masuk utama Ragunan.

Ayam Bakar Favorit Keluarga

Sore hari, kami kembali jelajah rasa ke kedai ayam bakar favorit keluarga saat ramadhan. Di cabang yang hanya bisa dipesan untuk dibawa pulang. Secara tampilan, memang sama seperti ayam bakar umumnya. Tapi, soal rasa juara! dengan bumbu bakar orange yang khas dan meresap. Sekilas mirip bumbu padang, namun berbeda.

Ayam bakar umumnya memakai lalapan mentimun dan selada, namun ayam bakar ini hanya menggunakan daun singkong. Sajian daun singkongnya sendiri tidak pahit sama sekali, melainkan memiliki rasa manis! Khas lainnya, terdapat pada sambal. Bukan sebatas pedas, tetapi lagi-lagi memiliki rasa olahan yang khas gurih dan segar. Sambalnya ini primadona, kalau dilahap rasanya tak mau berhenti ngunyah meski sudah kepedesan. Nagih!

Cukup membayar Rp23.000 sudah bisa menikmati seporsi ayam bakar jumbo yang nagih ini lengkap dengan nasi. Mau ikut icip-icip? Boleh! Buka di Jl. Damai Raya / Pasar Cipete Utara, Jakarta Selatan. Simpelnya, langsung ketik saja di google maps “Ayam Bakar Mas Budi”, tersedia di beberapa cabang lainnya masih dalam kawasan Jakarta Selatan.

Kesimpulan

Menghabiskan sabtu bersama Ibu. Rasanya, kami menikmati waktu untuk merawat nostalgia semasa kanak-kanak, yang mungkin dulu pernah terlewatkan begitu cepat atau belum sempat tersampaikan. Yap, semua terlihat sederhana saja. Makanan yang kami icip, juga sering dinikmati oleh orang lain. Tapi, yang berbeda bagi saya dan Ibu ialah kenangan rasa dan memorinya. Bahagia…

Terima kasih sudah mampir membaca perjalanan saya kali ini bersama Ibu. Salam sehat dan bahagia selalu yaa untuk dirimu yang lagi membaca 🙂

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *