Rumah Hendri dan Mamhud sudah rata, tenda darurat kini jadi tempat sementara

.CO.ID, ACEH — Puluhan tenda berdiri di tepi Sungai Tamiang yang melintasi Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Senin (5/1/2026). Tenda-tenda itu kini menjadi hunian sementara bagi warga Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, yang rumahnya hilang tersapu banjir bandang.

mendatangi tenda-tenda itu ketika matahari sudah terbenam. Nyala lampu dari dalam tenda terlihat samar. Namun, aktivitas warga yang mengungsi tenda-tenda darurat itu masih terlihat. Beberapa sedang berkumpul dengan keluarga, ada yang sedang berbincang entah soal apa, ada pula yang tengah memasak di dalam tenda.

Bacaan Lainnya

Hendri adalah salah satu warga yang menghuni tenda darurat itu. Sudah sekitar sepekan ia mendirikan tenda yang diberikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lokasi yang terlihat selayaknya tanah lapang itu. Bersama istri dan dua anaknya, Hendri sementara tinggal di dalam tenda berukuran sekitar 3×4 meter itu, lantaran rumahnya yang berada di samping lokasi tenda berdiri sudah rata dengan tanah.

Ia masih ingat betul ketika banjir bandang datang pada 26 November 2025 silam. Ketika itu, air mulai naik sejak sekitar pukul 06.00 WIB. Lama kelamaan, air mengepung perkampungan tempatnya tinggal.

“Mulai kencang air, warga pun pada panik ya, karena airnya terlalu deras,” kata dia, Senin malam.

Ketika itu, air sudah mengepung rumahnya. Beruntung, ada petugas yang berpatroli menggunakan perahu karet. Ia pun lantas menyelamatkan diri bersama anak-anaknya yang masih berusia 5 dan 2 tahun dengan istrinya ke tempat yang lebih tinggi.

Hendri mengaku sama sekali tidak lagi memikirkan barang-barang yang ada di rumahnya. Ia hanya berpikir cara untuk selamat dari kepungan banjir bandang itu. Alhasil, tidak ada barang-barang miliknya yang selamat dari terjangan banjir bandang.

“Habis semua, baju di badan ajalah bawa waktu banjir kemarin tuh. Surat apa pun habis semua,” kata lelaki yang biasanya berkerja sebagai sopir itu.

Menurut dia, banjir bandang itu tidak langsung menenggelamkan rumahnya. Namun, air yang datang makin lama makin tinggi. Hingga dua hari setelahnya, air yang ketinggiannya disebut mencapai lebih dari 10 meter itu menghanyutkan rumahnya.

“Pertama air udah naik tinggi, (lalu) air itu udah berubah airnya, udah lumpur sama kayu-kayu besarlah ya, balok-balok besar. Itulah mungkin menghancurkan rumah,” kata dia.

Laki-laki itu sempat menunjukkan sisa bangunan rumahnya yang sudah roboh seluruhnya. Dalam samarnya malam, hanya terlihat sejumlah sisa tembok berwarna merah muda dan oranye sisa rumah milik Hendri. Namun, bentuk bangunan yang telah menjadi tempat tinggalnya sedari lahir itu sudah sejajar dengan tanah. Tidak ada lagi sisa tembok yang berdiri, tidak ada lagi sisa barang-barang dari dalam rumahnya.

Puing-puing sisa rumahnya itu pun kini tepat berada di tepi Sungai Tamiang. Padahal, sebelumnya jarak dari rumah itu ke tepi sungai sekitar lebih dari 10 meter.

“Rumah saya itulah tuh di belakang juga sudah rata dengan tanah,” kata dia. “Karena semenjak habis banjir ini, longsor, makin lebar sungai ini.”

Ia mengatakan, bukan hanya rumahnya di Desa Sukajadi yang hilang terbawa banjir bandang. Ada sekitar 300 rumah warga lainnya yang ikut hanyut. Ratusan rumah yang semula berdiri di lokasi itu hanya tersisa balok, puing-puing, dan kenangan.

“Yang sisa ya paling itulah, yang cuma balok, separuh hancur, tinggal lantai,” kata Hendri dalam kegelapan.

Salah seorang warga lainnya, Mahmud Syah, juga ikut terdampak akibat banjir bandang itu. Rumah tempatnya tinggal bersama keluarga sudah hilang terbawa air entah ke mana.

Sama seperti Hendri, Mahmud kini tinggal di tenda darurat bersama istrinya. Pakaian, karpet, selimut, dan berbagai peralatan lainnya untuk bertahan hidup saat ini adalah hasil bantuan dari berbagai kalangan. Harta benda miliknya yang masih bisa diselamatkan hanyalah dua unit kendaraan roda dua.

“Hilang (semua). Enggak ada (yang bisa diselamatkan), cuma kereta (motor) ini satu, itu satu, yang bisa selamat. Yang lain, ya habislah. Dua kereta. Ya ini pun belum hidup,” kata laki-laki yang sudah berusia 60-an tahun itu.

Mahmud mengaku sudah sejak kecil tinggal di bantaran Sungai Tamiang. Namun, baru kali ini banjir yang meluap dari sungai dekat rumahnya itu sebegitu hebatnya.

Ia mengatakan, banjir besar memang pernah terjadi pada sekitar 1996 dan 2006 di tempatnya tinggal. Namun, banjir bandang yang amat besar baru kali ini terjadi. “Seumur hidup saya inilah yang paling besar,” kata Mahmud.

Menurut Hendri, banjir memang kerap terjadi di sekitar tempat tinggalnya itu setiap tahun. Namun, banjir itu tidak pernah masuk ke dalam rumahnya. Air biasa hanya mengenang rumah yang berada di bagian bawah.

Banjir besar yang pernah masuk ke rumahnya hanya pernah terjadi pada 1996 dan 2006. Namun, banjir yang terjadi puluhan tahun silam itu dinilai tidak ada apa-apanya dibandingkan yang terjadi akhir November lalu.

“2006 di sini cuma setengah meter kenanya. Rumah saya ini setengah meter. (Sekarang) lebih dari 10 meter. Habis semua,” kata Hendri.

Mencari tempat tinggi

 

Hendri mengaku sempat bingung mecari tempat aman ketika kali pertama meninggalkan rumahnya yang diterjang banjir bandang. Ia bersama keluarga sudah berkeliling, tapi tempat-tempat yang didatanginya juga terdampak banjir.

Awalnya, Hendri bersama istri dan dua anaknya yang masih balita pergi ke RSUD Aceh Tamiang untuk mencari tempat aman. Namun, tempat itu juga tergenang banjir. Alhasil, pada hari pertamanya mengungsi, istri dan anak-anaknya mesti tidur di atas meja yang ditumpuk, di area taman RSUD Aceh Tamiang yang terbuka, agar tidak terkena air.

“Udah semua keliling udah enggak tahu ke mana ya, (akhirnya) tidur di atas meja semalaman tanpa makan minum,” kata dia.

Setelah itu, Hendri bersama keluarganya juga sempat mengungsi ke sebuah masjid. Bersama istri dan dua anaknya, ia tinggal di posko pengungsian itu sekitar satu bulan lamanya. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya yang sudah rata dengan tanah untuk mendirikan tenda, lantaran merasa tidak enak terus menumpang tidur di masjid.

Mahmud yang juga mengungsi dari rumahnya yang dihantam banjir bandang juga sempat kebingungan mencari tempat aman. Setelah pergi dari rumah, ia bersama istrinya sempat menginap di rumah saudaranya. Namun, pada hari selanjutnya, rumah kerabatnya itu ikut tergenang banjir, sehingga mereka harus mencari tempat persinggahan selanjutnya.

Ia pun akhirnya menemukan sebuah masjid yang dijadikan posko pengungsian. Namun, ia hanya bertahan tiga hari di sana karena air pun ikut mengenangi masjid tersebut. Terlebih, di tempat itu terdapat banyak warga lain yang juga mengungsi.

“Hari keempat saya berjalan dari ke rumah sakit. Jalan kaki itu, dengan Aqua gelas satu biji kongsi tiga. Sikit-sikit minumnya,” kata Mahmud.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menumpang di rumah keponakannya yang aman. Di tempat itu, Mahmud bersama istri tinggal selama sekitar 20 hari. Namun, ia mengaku tidak enak hati karena terus menumpang. Karena itu, ia memilih kembali ke rumahnya yang bangunannya sudah tidak tersisa.

“Kan enggak enak juga kita lama di rumah. Memang kemenakan, tapi ya (akhirnya) pindah kemari lah,” kata dia.

Sudah sepekan

Hendri mengaku sudah sejak sepekan terakhir tinggal di tenda darurat itu. Pasalnya, petugas sudah membersihkan area tersebut dari balok kayu dan puing yang sebelumnya berserakan.

“Di sini ada dimasukkan alat berat tuh untuk bersih-bersih kayu ini kemarinlah, makanya ini agak bersih. Bisa pun kami pulang ke mari,” kata dia.

Setelah tempat itu bersih, warga yang semula mengungsi di berbagai lokasi akhirnya kembali. Masing-masing warga mendirikan tenda yang ditempati bersama keluarganya.

Meski sudah sepekan tinggal di tenda darurat, baru sejak dua hari terakhir tempat itu bisa dialiri listrik PLN. Pada hari-hari sebelumnya, listrik dalam tendanya hanya mengandalkan tenaga surya solar panel. “Alhamdulillah lampu sudah hidup, tinggal air ajalah yang belum,” kata dia.

Menurut Hendri, pasokan air ke tenda-tenda darurat yang berdiri di tepi Sungai Tamiang itu masih sangat terbatas. Bahkan, ia harus mandi dengan air yang masih kotor. Karena itu, ia berharap pemerintah segera memenuhi kebutuhan air bersih kepada warga terdampak bencana.

Sementara untuk kebutuhan makan, warga di tenda darurat masih mengandalkan bantuan dari berbagai kalangan. Kadang kala, petugas memberikan makanan jadi untuk para warga. Namun, kadang kala makanan tidak dibagikan, sehingga warga harus memasak sendiri dengan logistik yang ada.

Mahmud mengiyakan bahwa kebutuhan logistik untuk makan warga sudah lebih dari cukup. Namun, air bersih untuk keperluan sehari-hari masih sulit ditemukan. “Kalau kami ini kekurangan air, susah,” kata dia.

Menanti kepastian

 

Mahmud mengaku tidak tahu akan sampai kapan tinggal di tenda darurat. Pasalnya, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai tempat tinggal untuk mereka ke depannya.

Ia mengatakan, petugas sudah sempat mendata warga di Desa Sukajadi yang rumahnya hilang akibat banjir bandang. Kabarnya, pendataan itu dilakukan untuk keperluan hunian sementara (huntara). Namun, kepastian soal itu masih menjadi tanda tanya.

“Ya sudah didata, tapi ya belum ada nampak kan,” kata dia.

Senada, Hendri juga masih bingung mengenai nasibnya bersama keluarga ke depan. Pasalnya, tidak mungkin ia bersma istri dan anaknya yang masih kecil-kecil bakal tinggal di tenda darurat selamanya. Apalagi, tenda itu kerap bocor ketika hujan turun.

“Harapannya kalau bisa secepatnya lah ya, enggak mungkin di tenda kalau hujan susah bocor semua, basah,” kata Hendri.

Diketahui, bencana yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November lalu tak hanya berdampak di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Bencana itu terjadi di 53 kabupaten/kota, di Provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).

Berdasarkan data BNPB hingga 6 Januari 2026, total terdapat 1.177 orang meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor itu. Sementara 147 jiwa masih dinyatakan hilang.

Bencana itu juga menyebabkan lebih dari 242 ribu warga harus mengungsi, dengan jumlah pengungsi tertinggi berada di Aceh Tamiang, yaitu mencapai lebih dari 74 ribu orang. Adapun rumah warga yang dilaporkan rumah mencapai 175.126 unit, dengan rincian 53.432 rumah rusak berat, 45.106 rumah rusak sedang, dan 76.588 rumah rusak ringan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *