Roger Milla, Sang Singa Afrika yang Bermain di Indonesia

– Kamerun terkenal sebagai negara yang menghasilkan penyerang tajam. Salah satu nama yang populer adalah mantan bintang Barcelona dan Inter Milan, Samuel Eto’o.

Sampai saat ini, Samuel Eto’o masih menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Afrika.

Bacaan Lainnya

Sebelum masa Eto’o, Kamerun juga memiliki penyerang legendaris yang memiliki insting gol yang kuat. Ia juga sering menjadi pembicaraan karena selebrasi khasnya dengan menari di sudut lapangan, terutama dalam Piala Dunia 1990.

Pemain tersebut membawa Kamerun menjadi tim Afrika pertama yang mampu mencapai perempat final Piala Dunia. Striker tersebut bernama Roger Milla.

Gelar untuk Kamerun

Dikutip dari African Football, pria dengan nama lengkap Albert Roger Milla memulai karier profesionalnya di klub Kamerun, Leopard de Douala, pada awal tahun 1970-an.

Setelah beberapa tahun berkarya di Kamerun, pada tahun 1977 Roger Milla pindah ke Prancis.

Di sana, Milla mengikuti beberapa klub seperti Valenciennes, Monaco, Bastia, Saint-Etienne, dan Montpellier.

Milla mencatatkan prestasi luar biasa dengan meraih gelar Coupe de France (Piala Prancis) secara berurutan pada tahun 1980 (bersama AS Monaco) dan 1981 (bersama Bastia).

Di tingkat tim nasional, karier Milla lebih mencolok. Sejak dipanggil pada 1973, Milla menciptakan kenangan indah bersama Les Lions Indomptables, singa Afrika yang sulit dikendalikan.

Lelaki yang lahir pada tahun 1952 tersebut memiliki catatan 102 penampilan dengan total 28 gol. Milla berkontribusi signifikan dalam dua gelar Piala Afrika yang diraih Kamerun pada 1984 dan 1988.

Roger Milla hampir menciptakan rekor sebagai pemain pertama yang berhasil mencatatkan nama dalam sejarahhattrickPemenang Piala Afrika. Namun, dalam Piala Afrika 1986, Kamerun kalah dari Mesir di laga final melalui proses adu penalti.

Meskipun demikian, pada tahun itu Milla dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam turnamen.

Pemain yang mencetak gol paling tua dalam Piala Dunia

Penampilan Roger Milla dalam Piala Dunia tidak kalah menarik. Seperti yang ditulisdi laman resmi FIFA,Milla memulai debutnya dalam turnamen besar empat tahunan tersebut pada 1982 dengan hasil yang mengecewakan, tersingkir di babak grup.

Milla akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain sepak bola bersama timnas Kamerun pada tahun 1988 ketika berusia 36 tahun.

Namun, pada tahun 1990, Roger Milla yang berusia 38 tahun akhirnya kembali memperkuat tim nasional setelah Kamerun berhasil lolos ke Piala Dunia. Ia kemudian pergi ke Italia untuk tampil dalam Piala Dunia 1990.

Keputusan untuk mengundang kembali Milla tidak salah. Meskipun sudah berusia 38 tahun, ia tampil dengan baik. Milla berhasil mencetak empat gol. Permainannya yang menari di sudut lapangan juga menjadi perhatian.

Penampilan menarik Milla berkontribusi pada keberhasilan Kamerun melangkah ke babak perempat final, namun akhirnya kalah dari Inggris melalui adu penalti. Kamerun menjadi negara Afrika pertama yang mampu mencapai babak perempat final Piala Dunia.

Milla kemudian mendapatkan penghargaan pemain terbaik Afrika tahun 1990. Penghargaan ini merupakan yang kedua kalinya diraih oleh Milla setelah sebelumnya pada tahun 1976.

Cerita Milla tidak berhenti di situ. Ia kembali masuk ke dalam tim Kamerun pada Piala Dunia 1994 saat berusia 42 tahun.

Sayangnya, ia tidak mampu menunjukkan performa terbaiknya seperti saat Piala Dunia 1990. Kamerun kalah dalam babak penyisihan grup.

Meskipun demikian, golnya ke gawang Rusia membuat Milla menjadi pencetak gol tertua dalam sejarah Piala Dunia.

Pada tahun 2004, Milla masuk dalam daftar 125 pemain sepak bola terbaik yang masih hidup, yang dipilih oleh legenda Brasil, Pele. Milla juga diangkat sebagai pemain Afrika terbaik dalam 50 tahun terakhir oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika pada tahun 2007.

Menutup karier di Indonesia

Pada tahun 1994, klub Indonesia Pelita Jaya menggaet Roger Milla yang sudah berusia empat puluhan.

Dikutip dari Kompas.id, kehadiran Milla diharapkan mampu menghidupkan kembali Pelita Jaya yang sedang tertinggal dalam kompetisi Liga Dunhill.

Tidak memerlukan waktu lama bagi Milla untuk membantu membangkitkan Pelita Jaya dari keterpurukannya.

Roger Milla berhasil membawa tim Pelita Jaya mengalahkan Persiku Kudus dengan skor 5-0 dan mencetak dua gol.

Hingga akhir bulan Januari 1995, nama Milla muncul di puncak daftar pencetak gol terbanyak bersama Roswanda (PS Bengkulu), Yoesoef Bachtiar (Persib), serta Kas Hartadi dan Widiyantoro (BPD Jateng).

Lima pemain tersebut berada di bawah dua pemain yang saat itu telah mencetak tujuh gol, yaitu Abdul Rahman (PSMS) dan Irwansyah (Persiraja).

Setelah bermain untuk Pelita Jaya, Milla kemudian bergabung dengan Persisam Putra Samarinda. Di sana ia mengakhiri kariernya dalam sepak bola pada tahun 1996 ketika berusia 44 tahun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *