Akhirnya kembali mengisi kolom kategori Film di ! Adakah yang rindu? Ya, saya sendiri rindu hehe.
Sejujurnya sudah terlalu lama tidak menikmati salah satu kegiatan pelepas penat, yaitu menonton film hehe. Ibaratnya, bioskop sudah merindukan saya! Ditambah lagi langganan berbagai platform untuk menonton film yang terbuang percuma, tak pernah digunakan.
Setidaknya di penghujung tahun 2025 ini, satu-satunya series Indonesia yang dinikmati sampai akhirnya jatuh pada Pertaruhan The Series 3. Tentu bukan tanpa alasan. Justru kehadiran series yang ketiga ini tak bisa ditolak dengan alasan apapun. Sekalipun kesibukan pekerjaan, tidak punya kuota, apalagi hanya sekadar malas nonton.
Ya, kecintaan saya pada series ini sudah tidak diragukan lagi! Jika dilihat ke belakang, Pertaruhan The Series pernah saya buatkan artikelnya. Tepatnya 2 tahun lalu saat berakhirnya series keduanya. Menjadi Artikel Utama di penghujung tahun 2023 silam.
Dalam artikel Review Pertaruhan The Series 2, saya sudah secara lengkap menjelaskan dari awal. Mulai dari film Pertaruhan, sampai akhirnya berakhir menjadi series. So, nampaknya tidak perlu dibahas lagi. Mari kita fokus membahas series ketiganya saja. Bagi yang belum pernah menonton dari awal, bisa dimulai dengan membaca review sebelumnya!
Jika penonton berpikir bahwa Elzan yang diperankan oleh Jefri Nichol dan Ical yang diperankan oleh Giulio Parengkuan sudah mencapai titik terendah di musim kedua, maka jawabannya salah. Penderitaan mereka tak pernah berhenti. Seperti menggali tanah yang entah dasarnya sampai sedalam apa.
Masih melanjutkan kisah sebelumnya. Di mana Elzan yang mendapatkan penawaran dari Bos Besar (Ferry Salim) dan tangan kanannya, Kumala (Aulia Sarah) yang menggantung di series sebelumnya. Pertanyaan itu terjawab saat menonton Pertaruhan The Series 3.
Elzan tak punya pilihan selain menerima tawaran itu. Di satu sisi, ia membutuhkan penghidupan untuk dirinya, Ical, dan juga Wulan (Graciella Abigail). Dan di sisi lain, ia sadar betul ke mana pun ia pergi, ia akan selalu dicari.
Kehidupan mulai berubah. Elzan bekerja di siang hari sampai malam hari sebagai penanggung jawab pabrik salah satu usaha milik Bos Besar. Mereka tinggal di rumah yang jauh lebih layak. Memiliki kamar masing-masing dan berusaha hidup normal seperti orang lain.
Sedangkan Ical memilih menghabiskan waktunya di pasar untuk membantu kekasihnya, Salma (Allya Syakila). Membantu berjualan soto ayam dan mendukung kegemaran Salma yang berjualan online dan menjadi affilate media sosial.
Wulan kembali sekolah. Menjalani kehidupan sebagai anak normal seusianya lagi. Bahkan tak terasa sebentar lagi menginjak bangku SMP.
Sedangkan Ara (Clara Bernadeth), kembali bekerja di salah satu bar milik Kumala dan sering berkunjung ke kediaman Elzan. Sekadar memberikan makanan, memasak untuk Elzan dan keluarnya, serta turut sibuk menyiapkan pendidikan Wulan. Hanya Ara yang dapat diandalkan perkara ini.
Semua berubah ketika Elzan membantu seorang gadis yang kabur di pelabuhan. Ia bernama Laras yang diperankan oleh Maudy Effronisa. Tak ada pilihan selain memberikan tumpangan sementara untuk tinggal bersama di rumahnya. Laras mengaku tidak bisa pulang tanpa menyebutkan secara detail kondisinya.
Ara merasa cemburu dengan kehadiran Laras di rumah itu. Apalagi ketika Laras adalah koki handal yang jelas mengalahkan masakan Ara. Elzan memuji masakan Laras. Wulan pun begitu mudah akrab dengan Laras.
Elzan tak mau semakin runyam sehingga membawa Laras menghadap Bos Besar. Saat mencicipi masakan Laras, Bos Besar langsung jatuh hati pada masakan Laras. Tanpa pikir panjang, Laras langsung diangkat sebagai koki di markas Bos Besar.
Semuanya nampak kembali normal, tetapi Elzan dihantui oleh maling-maling di pabriknya yang harus ia ungkap. Jelas jabatannya dipertaruhkan. Belum selesai dengan masalah itu, Elzan justru dituduh menjadi pembunuh Bos Besar. Sejak saat itu, semuanya berubah kembali. Mencekam dan kehilangan kebebasan. Tidak hanya Elzan, seluruh orang terdekat Elzan pun ikut dikejar oleh anak buah Bos Besar.
Sejujurnya, Peraturan The Series 3 harus mampu memenuhi ekspektasi tinggi para penonton. Itu semua karena musim sebelumnya yang berhasil memuaskan penikmat series ini. Apakah kali ini berhasil?
Musim ketiga ini tidak lagi sekadar tentang adu jotos atau perebutan wilayah kekuasaan. Ini adalah tentang dua saudara yang mencoba mencari jalan keluar dari labirin yang mereka bangun sendiri, namun justru menemukan jalan buntu.
Secara visual, Pertaruhan 3 menaikkan standar koreografi aksi di Indonesia. Pukulan terasa lebih berat, tulang patah terdengar lebih ngilu, dan darah yang tumpah terasa lebih mahal.
Namun, bukan itu kekuatan utamanya. Bukan pula dari sisi cerita. Karena dari sisi cerita, masih ada kesamaan dengan sebelumnya. Di mana Elzan selalu dikhianti oleh orang yang ia coba untuk percaya. Masih saja sama seperti itu.
Justru kekuatan terbesar series ketiga ini adalah lagi emosional karakter yang semakin hidup.
Giulio Parengkuan sekali lagi mencuri panggung. Transformasi Ical di musim ini menakutkan sekaligus menyedihkan. Ical dengan ucapan frontalnya yang khas masih kadang bikin terkekeh di tengah-tengah menonton. Sampai semuanya berubah kegita adegan kehilangan yang kembali ia rasakan. Bukan air mata yang ia tunjukkan, aksi brutalnya menjawab semua kekecawaan yang ia bendung tentang kehidupan. Tanpa sadar, menonton adegan ini sampai menitikan air mata. Padahal Giulio dalam memerankan Ical bukan sosok yang cengeng meski dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Tidak hanya berhasil menghidupkan karakter Ical dengan sempurna. Giulio juga semakin matang membangun tektokan bersama lawan mainnya. Yang masih sama seperti musim sebelumnya, duet mautnya dengan sang polisi, yaitu Iskandar. Masih saja menjadi adegan yang paling dinantikan adu mulut sampai perbedaan pendapat dan reaksi dengan karakter yang dibawakan oleh Jeremy J. Tobing.
Lebih gong lagi, saat Giulio satu frame dengan Graciella Abigail sebagai Wulan. Antara Om dengan keponakannya yang intim. Ical sebagai Om yang justru takut dengan Wulan. Seringkali mengalah dan tak bisa membantah perintah Wulan. Tapi di saat Wulan tak mau mengikuti perintahnya, Ical bisa lebih galak berkali-kali lipat dari biasanya.
Sementara itu, Jefri Nichol sebagai Elzan berhasil menampilkan sisi merasa menjadi “kakak yang gagal”. Rasa bersalah karena tidak bisa melindungi semua orang yang ia sayangi jelas dari gestur tubuhnya yang semakin membungkuk menanggung beban. Elzan mengajarkan penonton bahwa realita itu pahit. Terkadang, niat baik saja tidak cukup untuk menang melawan sistem yang jahat.
Untuk Pertaruhan The Series 3, karakter yang paling saya jagokan adalah Ara. Ya! Clara Bernadeth semakin memukau dengan karakter yang lebih dewasa. Ia berperan sebagai Ibunya Wulan. Sekaligus menjadi orang yang paling mempercayai Elzan, selalu. Bahkan sudah menerima Ical dengan legowo meski Ical adalah pembunuh kakaknya (Rio) yang diceritakan pada series pertama.
Di balik karakter Ara yang tangguh dan penuh keceriaan, ia menunjukkan reaksi cemburunya yang terlihat natural. Saat dia menatap Elzan penuh kesal, sampai tutur katanya yang to the point menggambarkan ia tak suka dengan keadaan.
Ara juga diberi porsi banyak pada adegan aksi pada episode terakhir (episode 8). Menonton Ara di series ketiga ini seolah melihat sosok perempuan yang paket kumplit. Jiwa keibuan, rela berkorban, pintar, dan berani! Clara Bernadeth berhasil menampilkan sisi Ara dengan matang.
Beberapa tokoh yang muncul di musim sebelumnya pun kembali hadir. Seperti Romo, Gober, Apoy, dan Wortel. Mereka berempat tetap seperti biasanya. Menghibur tapi bikin tegang!
Tentunya Pertaruhan selalu menghidupkan karakter baru yang unik. Di series ketiganya, penonton diajak berkenalan dengan sosok pemimpin kampung aneh, yaitu Cikawe. Dipimpin oleh Kalkun yang diperankan oleh Aming. Lalu ada sosok Elang, mas-mas jawa yang menyeramkan. Pewaris manja bernama Gom-Gom bersama asistennya yang cantik tapi lincah dalam perkelahian, Leak.
Semua pemeran baru itu turut menghidupkan cerita dengan porsi yang unik. Meski dibeberapa adegan sosok Elang atau pun Gom-Gom bikin geli sendiri karena terlihat dibuat-buat. Namun masih oke untuk ditonton. Sayangnya, saya tidak terlalu puas dengan karakter Laras. Entah memang porsinya hanya sebatas itu atau memang Maudy yang kurang memahami Laras lebih dalam lagi.
Sebenarnya serial ini memotret dengan jujur bahwa bagi sebagian orang di pinggiran ibu kota, kekerasan bukanlah pilihan hobi, melainkan satu-satunya mata uang yang laku untuk membeli sesuap nasi dan sedikit harga diri. Mereka tidak bertarung karena ingin terlihat jagoan. Mereka bertarung karena sistem tidak menyisakan ruang bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang normal.
Benar kata Iskandar, Elzan bersama orang-orang terdekatnya adalah orang yang paling sial sekaligus paling beruntung di dunia. Mereka tak pernah berhenti dikejar masalah. Tetapi mereka juga selalu bisa mengatasi masalah karena saling membantu satu sama lain.
Bagi kamu yang mengikuti perjalanan Elzan dan Ical dari awal, siapkan hati. Karena musim ini ditutup dengan hati yang renyuh. Tontonan wajib bagi mereka yang percaya bahwa keluarga adalah satu-satunya alasan untuk tetap berdarah-darah.







