Ringkasan Berita:
- Kasus Intimidasi: Viral video keluarga kepala desa di Desa Panggalih, Garut, melakukan intimidasi dan kekerasan fisik terhadap warga bernama Holis Muhlisin.
- Pemicu Kejadian: Korban mengkritik pembangunan di desa melalui media sosial, yang memicu kemarahan keluarga kades.
- Respons Gubernur: Dedi Mulyadi mengecam tindakan tersebut dan meminta aparat desa untuk tidak antikritik serta berhenti mengancam warga.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara terhadap video viral yang memperlihatkan keluarga kepala desa di Garut mengintimidasi warga.
Video keluarga kepala desa mengintimidasi warga tersebut beredar viral di media sosial.
Peristiwanya sendiri terjadi di Kampung Babakangadoh RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada 27 Oktober 2025 lalu.
Dalam videonya, terlihat beberapa orang yang berbicara dengan nada tinggi kepada seorang pria yang tertunduk sambil bersandar di pagar.
“Kamu mau bagaimana? Mau tenar? Mau sok jago di media sosial?” ucap seorang pria bertopi kepada korban.
Pria lainnya bahkan menggenggam jaket bagian leher korban dan melepasnya dengan dorongan.
Lalu, seorang perempuan mendekati korban sambil merekam menggunakan ponsel dan mengumpat menggunakan kata kasar.
Menanggapi peristiwa tersebut, Dedi Mulyadi pun berpesan kepada seluruh perangkat desa, RT/RW, hingga kepala dusun untuk berhenti melakukan hal ofensif terhadap warga.
“Manakala ada orang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman,” kata Dedi Mulyadi, dikutip dari TikTok pribadinya, Sabtu (3/1/2026).
“Dalam dunia yang semakin terbuka, kita nih aparat kalau ada warga yang menceritakan jeleknya pembangunan, harus menerima dengan lapang dada. Selanjutnya, kita berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan.
Menurut Dedi Mulyadi, caci maki adalah bagian dari konsekuensi seorang pemimpin yang harus dihadapi ketika terpilih.
“Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan mencaci maki orang yang mengkritik,” tutur Dedi Mulyadi.
“Bahkan, kita harus tahan terhadap caci maki, karena bisa jadi kita jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki,” bebernya.
Mantan Bupati Purwakarta itu pun berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan meminta kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Garut untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut.
“Semoga peristiwa itu tidak terulang lagi. Saya minta ke seluruh jajaran masyarakat, kepala desa yang ada di sana, melakukan rekonsiliasi dan perbaikan pembangunan,” ujar Dedi Mulyadi.
“Kepada bupati untuk segera menanganinya, jangan membiarkan ada tindakan-tindakan intimidatif terhadap kritik,” tutupnya.
Kronologi Kejadian
Adapun, peristiwa keluarga kepala desa mengintimidasi warga di Garut ini menimpa korban bernama Holis Muhlisin (31).
“Iya betul itu adalah saya, kejadiannya tanggal 27 Oktober 2025, kemudian saya posting di Facebook 31 Desember 2025,” ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (3/1/2025) malam.
Ia menuturkan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya hendak bertemu dengan seseorang di wilayah desanya untuk membicarakan urusan akun Facebook.
Namun, singkat cerita pertemuan itu ternyata dilakukan di halaman rumah sang kepala desa yakni di Kampung Pasircamat.
“Padahal urusan saya dengan teman soal akun Facebook palsu sudah selesai, tapi tiba-tiba ada beberapa keluarga kepala desa yang mengintimidasi saya,” ungkapnya.
Intimidasi itu ucapnya, dilakukan oleh empat orang, yakni istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa.
Holis mengaku sempat mendapatkan kekerasan berupa cekikan di leher dan pukulan di punggungnya.
“Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa,” ucapnya.
Dalam video yang diunggahnya Holis terlihat dimaki-maki keluarga kepala desa, diantara mereka bahkan mengucapkan kalimat hinaan terhadap korban.
Holis terlihat hanya bisa terdiam, sementara dua laki-laki dan satu perempuan terus memaki-makinya.
“Video itu direkam oleh teman saya yang sebelumnya janjian dengan saya,” ungkapnya.
Sebelumnya pada tanggal 14 Oktober, ia juga mengaku sempat dipanggil oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panggalih untuk mengklarifikasi unggahannya di Facebook soal jalan rusak.
Dalam pertemuan tersebut, kata Holis, BPD mengingatkan dirinya agar mengkritik secara santun dengan tidak menyebutkan nama desa.
“Sebetulnya saya juga takut pas upload, tapi saya ingat kata Pak Gubernur agar mengunggah pembangunan di desa,” tandasnya.
telah mencoba melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Minggu malam yang bersangkutan belum memberikan respons.
(/Rheina, Sidqi Al Ghifari)
Baca berita lainnya diGoogle News.







