Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar, SVD
Gereja Kunjungan St. Perawan Maria
Paroki Pamakayo Solor Keuskupan Larantuka
Minggu, 28 Desember 2025
Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yusuf
Sir 3:2-14; Mzm 128:1-5; Kol 3:12-21; Mat 2:13-23
Warna Liturgi: Putih
BERCERMIN PADA KELUARGA KUDUS NAZARET
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Pesta Natal merupakan pesta kekeluargaan yang sangat unik. Bagi semua keluarga di segala penjuru dunia, Natal adalah hari yang sungguh-sungguh penuh berkat karena pada hari Natal itu lahirlah Penyelamat kita Sang Emanuel.
Hari ini kita merayakan Pesta keluarga Kudus Nazaret, kita merayakan Pesta keluarga kita masing-masing. Saya mengajak kita sekalian pergi ke Nazaret, tinggal dan belajar realitas hidup keluarga Kudus.
Pertama, hidup di Nazaret. Realitas hidup yang dijalani oleh Yesus, Maria dan Yusuf adalah sebuah realitas yang diwarnai oleh situasi kesederhanaan desa bernama Nazaret.
Dalam kesederhanaan sebagai keturunan Daud, Keluarga Kudus sangat menghargai hukum administratif dan sosial masyarakat.
Semangat dan hidup doa Keluarga Kudus yang sangat mendalam, doa bersama di Sinagoga, ritus-ritus dan sejumlah pesta bernuansa religius dari masyarakat Yahudi dijalani dengan baik (seperti upacara sunat, pesta pondok daun, ziarah ke Bait Allah di Yerusalem).
Di samping penghargaan terhadap adat istiadat dalam budaya Yahudi dan dalam kesibukan sehari-hari, Keluarga Kudus tetap hidup dalam suasana hening di rumah Nazaret, mereka merawat dan membesarkan Sang Mesias, Yesus Kristus Penyelamat dunia sejak kecil dan masa remajaNya hingga karya publikNya di dalam mewartakan Injil Kerajaan Allah.
Kedua, keseharian kerja yang menggembirakan. Santo Yusuf sang kepala Keluarga Kudus, mengisi keseharian hidupnya dengan bekerja sebagai tukang kayu di desanya. Dan seperti para bapak keluaga, dia mengajarkan pekerjaannya kepada anaknya Yesus.
Dia mencintai dan mengerjakan pekerjaannya dengan baik, yang mengajarkan putranya dengan kesabaran dan ketegasan, seorang yang penuh perhatian dan sopan tetapi juga kuat dan seorang penjaga keluarga yang setia. Yusuf sebagai kepala keluarga, berperan mendampingi Maria dalam seluruh hidupnya, teristimewa seputar kelahiran.
Hal ini nyata dalam kisah injil hari ini bahwa Yusuf mendampingi Maria untuk mengungsi ke Mesir agar terhindar dari bahaya pembunuhan oleh Raja Herodes. Maria sang pembuat roti dan penambal kain. Membuat roti adalah tugas penting sehari-hari bagi Maria.
Ia mulai dengan menggiling gandum, mempersiapkan adonan untuk roti pada malam hari dan untuk hari berikutnya (Lukas 17: 35). Kalau roti dibuat terlalu lama dan disimpan, menjadi tidak enak dan menjamur.
Maka Maria membakar roti setiap hari, kecuali pada hari Sabat (Lukas 11: 3). Bila ada kain yang sobek, Maria mengambil kain, duduk di atas tikar dan mulai menambal ( Markus 2: 21; Matius 9: 6; Lukas 5: 36).
Maria ibu Yesus pasti menyimpan baik-baik kain-kain itu dan secara rutin memeriksa, jangan sampai dimakan ngengat, kemudian menjemurnya (Matius 6: 20).
Dalam kesibukan dan aktivitas hidup harian, Maria dan Yusuf dengan setia memberikan pendidikan religius bagi Yesus sebelum memulai karya publikNya. Keluarga Kudus menjadi sekolah iman. Di sanalah Yesus sang imam Agung Bapa, dibesarkan, belajar sekaligus menjiwai keluargaNya sendiri.
Ketiga, keheningan merupakan spiritualitas doa bagi keluarga kristiani. Keheningan keluarga kudus lahir dalam diri seorang Maria yang menyimpan banyak perkara di dalam hatinya dan merenungkannya.
Keheningan Keluarga Kudus bersinar dalam kesibukan Yusuf sang tukang kayu yang tak banyak bicara dalam kerja. Maria dan Yusuf hening untuk menangkap dan menterjemahkan rencana dan kehendak Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Keluarga Kristiani dewasa ini, sedang hidup dalam arus kebisingan dan kesibukan kerja, globalisasi dan persaingan, maka keheningan adalah sebuah doa untuk menjalin relasi dengan Allah.
Doa yang mendalam itu termanifestasi dalam setiap ritme kehidupan dan dalam hubungan sosial. Keheningan menjadi doa untuk merenungkan kembali pengalaman kesibukan yang telah terjadi dan merencanakan kembali segala yang hendak dikerjakan bagi anggota keluarga.
Berkat keheningan di tengah keluarga, maka akan melahirkan keharmonisan, saling mengisi dan menerima bahkan segala konflik bisa diatasi bila itu dibicarakan dan dicarikan solusinya secara bersama-sama.
Bercermin pada teladan hidup Keluarga Kudus Nazaret, keluargakeluarga kristiani diundang untuk bersatu hati dan saling mendukung serta menampakkan tanggung jawab mereka di dalam pelayanan sekaligus mendorong anak-anaknya untuk aktif terlibat dalam setiap aktivitas gerejani.
Dalam situasi sekarang ini, di tengah aneka tawaran duniawi yang merasuk setiap insan manusia, tak luput juga keluarga-keluarga kristiani, sangat penting dan mendesak untuk kembali memaknai dan menghayati spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret sebagai model hidup sepanjang masa.
Doa: Allah Bapa kami sumber kebahagiaan. PuteraMu merasakan keramahan, kemesraan dan kerasan di dalam keluarga. Di situlah Engkau mengucapkan sabda kekal di dunia dan menguduskan keluarga tempat Engkau tinggal di antara kami. Curahkanlah berkatMu kepada setiap keluarga, rumah tangga dan semoga kami hidup damai dan rukun serta saling membagi rejeki. Demi Kristus Tuhan dan Juruselamat kami…Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta keluarga Kudus Nazaret, Selamat Pesta untuk keluarga kita masing-masing. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus….Amin. (Pastor John Lewar SVD)







