Isi Artikel
SURABAYA, – Perjalanan panjang dimulai dari Surabaya. Kendaraan yang dikemudikan Muh. Arfah (26) bersama rombongan relawan berangkat menuju Sumatera, menempuh ribuan kilometer demi tujuan mulia, yaitu membantu masyarakat yang terkena dampak banjir di beberapa daerah Sumatera.
“Dari tiga provinsi yang kami kunjungi, keadaan di Aceh Tamiang paling buruk,” kata Arfah, pendiri Barakarsa sekaligus dosen Universitas Sunan Gresik (USG), saat menceritakan pengalamannya di lapangan sebagai relawan kepadamelalui panggilan telepon, beberapa waktu yang lalu.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di kawasan Sumatera pada akhir November 2025, meninggalkan luka yang sangat dalam bagi para korban.
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang paling memerlukan penanganan segera. Di Kampung Landuh dan Karang Baru, Kecamatan Rantau, air belum benar-benar surut dan masih terdapat genangan air keruh akibat banjir.
Dulunya, rumah-rumah penduduk di sana terendam oleh lumpur, kini sebagian dari mereka berubah menjadi bangunan yang tidak lagi menunjukkan bentuk aslinya. Jalanan terputus, pasokan listrik sangat terbatas, dan air bersih menjadi barang langka serta sulit diperoleh.
Pada situasi tersebut, Arfah bersama tim relawan hadir memberikan bantuan yang berasal dari hasil kerja sama masyarakat Gresik dan sekitarnya.
“Saya bersama tim relawan hadir guna memberikan bantuan dan mendukung warga agar dapat bangkit kembali dari musibah ini,” kata Arafah.
Kegiatan kemanusiaan dengan tema “Aksi Nyata Peduli Banjir Sumatera dan Aceh” ini diinisiasi oleh Arfah sebagai pembina himpunan mahasiswa, kemudian dijalankan secara bersama-sama oleh seluruh organisasi kemahasiswaan di Universitas Sunan Gresik, bekerja sama dengan Yayasan Barakarsa Indonesia.
“Ini adalah gerakan bersama. Mahasiswa juga turun langsung, baik dalam mengumpulkan donasi di jalan maupun secara online melalui QRIS,” ujar Arfah.
Jumlah donasi yang berhasil terkumpul dari kegiatan tersebut mencapai puluhan juta rupiah. Dari Barakarsa, dana sebesar Rp 66.514.966 dialokasikan dalam bentuk paket sembako.
Di sisi lain, Universitas Sunan Gresik mengumpulkan donasi sebesar Rp 38.183.458 yang diwujudkan dalam bentuk bantuan sembako dan perlengkapan belajar.
Bantuan tersebut kemudian dialirkan ke tiga provinsi yang terkena dampak, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Arfah mengungkapkan, perjalanan para relawan tidaklah singkat. Dari Surabaya, tim berangkat ke Padang dan Bukittinggi untuk bertemu dengan relawan lain, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke Langkat, Sumatera Utara, hingga akhirnya tiba di Aceh Tamiang. Ketika berada di Aceh, bantuan berupa bahan makanan pokok tersebut diberikan kepada sekitar 100 kepala keluarga (KK).
Pemandangan Menyayat Hati
Namun, hal yang paling mengesankan bagi Arfah bukanlah jarak yang ditempuh atau kelelahan dalam perjalanan. Yang justru teringat adalah wajah-wajah penduduk yang ia temui di kampung tersebut.
“Yang paling menyentuh adalah ketika warga harus mengajukan permohonan bantuan secara langsung kepada relawan. Karena memang jarang ada relawan yang masuk hingga ke desa-desa,” katanya dengan suara bergetar.
Menurut Arfah, bantuan yang tiba di kawasan tersebut masih tergolong sangat sedikit. Banyak penduduk harus bertahan dalam kondisi yang tidak memadai.
Beberapa orang hanya sempat menyelamatkan diri dan keluarga saat banjir tiba-tiba muncul di malam hari. Barang-barang tidak bisa diselamatkan, bahkan ada yang masih kehilangan anggota keluarga.
“Banyak orang duduk di depan sambil menangisi rumah mereka yang telah hancur atau tertutup lumpur. Mereka bingung harus memulai dari mana,” kata Arfah.
“Beberapa di antaranya menangis karena masih ada anggota keluarga atau kerabat yang belum berhasil diselamatkan dan belum diketahui keberadaannya,” tambahnya.
Arfah juga menyampaikan pesan dari seorang warga Aceh Tamiang, kota Lintang bernama M. Mas’ud Haryadi yang memohon bantuan kepada seluruh masyarakat yang bersedia membantu.
“Saya sebagai korban bencana di Aceh Tamiang membutuhkan bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, dan tangki air, jika ada donatur atau yang ingin memberikan bantuan, kami sangat berharap kepada para pemberi bantuan,” kata Haryadi yang terekam dalam video oleh Arfah.
Selain makanan dan air bersih, terdapat kebutuhan lain yang sering terlewat, seperti kasur busa, karpet, tangki air, obat-obatan pokok, hingga sepatu bot untuk warga yang beraktivitas di tengah sisa lumpur dan genangan.
Dukungan Kampus
Di balik kegiatan kemanusiaan tersebut, Universitas Sunan Gresik tidak hanya bertindak sebagai pihak pendukung logistik. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan USG, Abdul Rochim (43), menyatakan bahwa partisipasi kampus merupakan bagian dari proses pembelajaran rasa empati sosial bagi mahasiswa.
“Peristiwa semacam ini memerlukan partisipasi dari seluruh pihak. Mahasiswa sebagai agen perubahan perlu diajarkan untuk peduli terhadap sesama,” kata Abdul Rochim saat dihubungi. pada Minggu (21/12/2025).
Ia menjelaskan, pengumpulan dana dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan mahasiswa, dosen, organisasi mahasiswa, serta masyarakat luas.
Kampus juga memberikan dukungan moral dan materi, serta menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi langsung di lapangan.
Menurut Abdul Rochim, tindakan sosial semacam ini bukan yang pertama dan juga tidak akan jadi yang terakhir. Sejak awal berdirinya, USG telah melaksanakan berbagai program kepedulian sosial melalui gerakan USG Peduli.
“Kampus bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri,” ujarnya.
Kemitraan dengan lembaga seperti Barakarsa dianggap relevan agar kegiatan kemanusiaan dapat berlangsung lebih terencana dan tepat arah.
Bahkan, selain bantuan berupa kebutuhan pokok, Universitas Sunan Gresik juga menyediakan akses bantuan pendidikan dengan memberikan penghapusan biaya UKT bagi para korban bencana yang ingin melanjutkan pendidikannya.
Harapan di Tengah Bencana
Di sisi lain, bagi Arfah, pengalaman ini menjadi pelajaran paling berharga mengenai perhatian dan kebersamaan terhadap sesama yang tidak pernah sia-sia.
“Bencana mengajarkan kita bahwa bantuan yang sekecil apa pun sangat berharga bagi mereka yang terkena dampak. Keberadaan para relawan memberi harapan bahwa mereka tidak sendirian,” katanya.
Arfah bersama tim relawan berharap, kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap bencana ini semakin meningkat, sehingga semakin banyak pihak yang termotivasi untuk memberikan bantuan dan dukungan dalam proses pemulihan masyarakat yang terkena dampak bencana, khususnya di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan lebih khusus lagi di kawasan Tamiang, Provinsi Aceh.







