– Hari ini, tepat pada 22 Desember 2025, Indonesia merayakan Hari Ibu yang sering diiringi dengan berbagai ucapan terbaik mengenai sosok yang “dipuja” karena ketabahannya dan selalu dianggap sebagai contoh dari kebajikan.
Ibu sering kali digambarkan sebagai figur yang hampir sempurna, selalu tangguh, selalu sabar, dan selalu benar. Dalam cerita ini, peran ibu menjadi lambang yang rapi dan menyenangkan.
Tidak ada yang salah dengan gambaran seorang ibu seperti ini yang berasal dari niat tulus. Ia menjadi bentuk penghormatan bersama terhadap peran yang sering kali tidak diakui secara resmi.
Di banyak rumah tangga, ibu sering mengemban tugas ganda: merawat anak-anak, mengatur kebersihan rumah, menjaga suasana emosional keluarga, bahkan turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas finansial. Perayaan Hari Ibu memberikan kesempatan untuk menyampaikan rasa syukur yang seringkali tertunda.
Namun, inilah intinya. Ketika sebuah cerita terus-menerus diulang, lama kelamaan ia menjadi satu-satunya kisah yang dianggap benar. Padahal banyak ibu yang jauh dari ideal yang digambarkan oleh narasi masyarakat.
Banyak figur ibu yang berkembang dari luka masa lalu yang tidak dapat ia putus, sehingga semakin menurun sebagai “hukuman” bagi anak, padahal kasih sayang tidak mengharapkan apa-apa dan tidak menyakitkan, tetapi justru memberi kebebasan.
Anak seharusnya tidak merasa terbebani dengan rasa terima kasih di masa depan karena “tidak bisa memilih untuk lahir”. Konsep ibu yang hanya menjalankan tugas “Semesta” untuk membimbing anak tanpa mengharapkan imbalan apa pun terasa sulit dipahami dalam tenggang waktu “keidealan” konsep ibu yang terus diulang dalam masyarakat saat ini.
Bahkan sosok seorang ibu yang tidak meminta anaknya untuk mendoakannya demi “surga” di masa depan, seringkali dilupakan dan dianggap sebagai “aib” bagi perempuan yang dinilai “tidak beragama”.
“Sayang, kau tidak perlu memberimu apa pun kepadaku, kau tidak memiliki kewajiban apa pun kepadaku, bahkan kau tidak harus mendoakanku masuk surga jika kau tidak tulus. Aku akan berusaha meraih “surga” ku sendiri, kau hanya bertanggung jawab untuk berjuang demi hidupmu sendiri!,” demikian yang pernah diucapkan seorang ibu bernama Kori kepada anaknya pada masa tertentu.
Seperti yang diungkapkan oleh Sizuka dalam laporan Antara, ibu tidak lagi dilihat sebagai seseorang dengan berbagai pengalaman hidup, melainkan sebagai tokoh sempurna yang harus selalu dihormati. Segala hal yang bertentangan dengan konsep tersebut cenderung diabaikan, dianggap tidak layak muncul dalam perayaan tersebut.
Di ruang publik, hampir tidak ada ruang untuk membicarakan ibu yang lelah, salah arah, atau terjebak dalam metode pengasuhan yang bermasalah.
Kehamilan dianggap sebagai wilayah suci yang tidak boleh dikritik, seakan-akan mempertanyakan kegiatannya berarti menghilangkan peran dan kasih sayang itu sendiri.
Akibatnya, Hari Ibu sering kali menjadi perayaan tentang peran, bukan pemikiran mendalam mengenai hubungan. Yang diperingati adalah fungsi sosial seorang ibu, bukan dinamika nyata antara ibu dan anak yang terkadang rumit.
Meskipun hubungan keluarga, seperti hubungan manusia secara umum, tidak selalu berjalan lancar dan sempurna.
Kisah yang terlalu monolitik ini tidak sepenuhnya salah, tetapi jelas tidak menyeluruh. Ia menenangkan, namun juga mempermudah.
Ia menghormati, tetapi sekaligus menutupi sisi-sisi yang tidak sesuai dengan gambaran sempurna.
Mungkin inilah saatnya Hari Ibu diberikan makna yang lebih luas. Bukan untuk mengurangi rasa hormat, tetapi untuk memperkaya pemahaman.
Karena penghargaan yang dewasa tidak hanya muncul dari pujian, tetapi juga dari keberanian menghadapi kenyataan secara jujur dan seimbang.
Memutus siklus
Pada titik ini, Hari Ibu bisa diberi makna yang lebih luas. Bukan hanya sebagai perayaan peran, tetapi juga sebagai ruang untuk merenung bersama mengenai hubungan dan tanggung jawab antar generasi.
Penghormatan terhadap ibu tidak hanya sebatas pujian, tetapi bisa berkembang menjadi usaha sadar dalam menciptakan hubungan yang lebih baik.
Mengakui bahwa beberapa hubungan antara ibu dan anak meninggalkan luka bukan berarti tindakan yang tidak etis.
Sebaliknya, pengakuan tersebut merupakan awal dari pemahaman bahwa cinta tidak selalu muncul dalam bentuk yang tepat.
Niat tulus tidak selalu menghasilkan dampak yang positif, terutama jika kekuasaan, rasa takut, dan komunikasi yang tidak seimbang dibiarkan berlangsung tanpa perbaikan.
Bagi generasi yang saat ini menjadi orang tua, atau sedang mendekati tahap itu, refleksi ini memiliki makna yang penting.
Pertanyaannya bukan lagi siapa ibu yang paling berkorban, tetapi bagaimana peran sebagai ibu dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah anak diberi kesempatan untuk berkembang sebagai pribadi yang utuh, atau justru dibesarkan dalam ketaatan yang diam?
Pendekatan pengasuhan reflektif menekankan kepentingan kesadaran orang tua terhadap luka dan pola hubungan mereka sendiri, sehingga tidak secara otomatis diturunkan kepada anak.
Menghentikan siklus tidak berarti memutus hubungan. Artinya adalah mengganti pendekatan. Mengganti ancaman dengan dialog, kontrol dengan kepercayaan, serta tuntutan moral dengan kehadiran emosional.
Ia juga mengandung makna bahwa kehilangan kendali bukan berarti kehilangan cinta. Anak yang telah dewasa tidak sedang meninggalkan orang tuanya, melainkan sedang menjalani kehidupannya sendiri.
Hari Ibu bisa menjadi kesempatan untuk mengubah perspektif tersebut. Bukan hari untuk mengabaikan realitas yang tidak menyenangkan, melainkan peluang untuk memperluas pemahaman mengenai kasih yang lebih adil.
Cinta yang tidak mengharapkan, tidak menyakiti, dan tidak memperlakukan pengorbanan sebagai alat pengendali.
Generasi yang menyadari luka yang mereka alami memiliki kewajiban etis untuk tidak mewariskannya. Kesadaran ini seringkali tidak mudah, karena membutuhkan keberanian untuk belajar, memperbaiki diri, dan pada waktu tertentu, meminta maaf.
Namun di sanalah terletak kebijaksanaan dalam kenyataan, bukan hanya dalam penampilan.
Dengan pendekatan tersebut, Hari Ibu tidak lagi menjadi perayaan yang bersifat simbolis. Ia menjadi tanda proses panjang menuju hubungan yang lebih sehat, setara, dan manusiawi.
Karena menghormati ibu tidak hanya sekadar mengingat masa lalu, tetapi juga memastikan masa depan yang lebih baik untuk generasi selanjutnya.
Ada (juga) luka
Di balik gambaran perayaan yang teratur, hubungan antara ibu dan anak dalam kehidupan nyata sering kali lebih kompleks. Tidak semua ikatan dibentuk dari kehangatan dan rasa aman.
Pada beberapa situasi, hubungan tersebut justru dipenuhi dengan ketegangan yang berlangsung lama dan seringkali tidak diungkapkan.
Salah satu pola yang terlihat adalah pemanfaatan hubungan kekuasaan dalam mendidik anak, bahkan ketika anak sudah mencapai usia dewasa.
Dengan alasan pengalaman, pengorbanan, atau cinta, beberapa ibu masih merasa berhak mengontrol pilihan hidup anak mereka, mulai dari karier hingga hubungan pribadi.
Pengendalian ini sering kali tidak dianggap sebagai masalah, karena disampaikan dalam bahasa kepedulian.
Dalam konteks masyarakat yang beragama, tekanan tersebut terkadang diperkuat melalui istilah-istilah seperti moral dan spiritual.
Ancaman “kemunafikan” menjadi batasan yang menyulitkan anak untuk berbicara. Ketaatan muncul bukan dari ikatan emosional, tetapi dari rasa takut melanggar aturan dan nilai yang dianggap suci.
Hubungan tetap berjalan dengan ketidakseimbangan: rasa hormat tetap terjaga, namun keakraban menghilang.
John Bowlby dan Mary Ainsworth, dua ahli psikologi yang memperkenalkan Teori Kelekatan, menemukan bahwa hubungan yang didirikan berdasarkan rasa takut dan pengendalian cenderung menghasilkan ketaatan yang palsu, bukan ikatan emosional yang baik.
Tidak selalu diperlukan kekuatan nyata dalam dominasi. Dalam berbagai hubungan, pengaruh dipertahankan melalui perasaan: mudah merasa tersinggung, menyimpan rasa marah, atau menjadikan diri sebagai pihak yang selalu menderita.
Perbedaan pendapat sering dianggap sebagai ketidakpatuhan, sementara percakapan sering terhenti, sebelum benar-benar dimulai.
Perbedaan pengalaman antar generasi turut memperumit kondisi yang ada. Banyak ibu tumbuh di lingkungan dengan pilihan hidup yang terbatas dan sedikit ruang untuk berdiskusi emosional.
Kekuatan lebih dihargai daripada kejujuran emosional. Pola ini kemudian dibawa ke dalam cara mendidik anak, tanpa selalu disadari pengaruhnya terhadap mereka.
Perlu dicatat bahwa kekerasan dalam hubungan keluarga tidak selalu berupa fisik atau kata-kata kasar. Bentuknya bisa bersifat simbolis dan emosional, teratur, berulang, serta sulit terdeteksi.
Banyak anak yang baru menyadari bahwa hubungannya tidak sehat ketika mereka dewasa, setelah memiliki kata-kata untuk mengenali luka tersebut.
Mengakui fakta ini tidak berarti menghilangkan kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu. Namun, memahami situasi tertentu tidak selalu menghapus konsekuensinya.
Hubungan yang menyakitkan tetap meninggalkan bekas, meskipun berawal dari maksud yang dianggap baik. ***







