Ratusan ton gabah di Bangka Selatan diserap Bulog, petani padi tak waswas lagi

TOBOALI, BABEL NEWS – Mitra Penggilingan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) di Kabupaten Bangka Selatan, terus berperan dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani. Sentra pertanian padi di daerah itu mencatat serapan gabah kering panen yang signifikan. Salah satunya Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani yang berhasil menyerap ratusan ton gabah kering panen (GKP) selama periode panen pertengahan tahun 2025.

Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani, Desa Rias, Iman Qolbi mengatakan, pada periode pertengahan Juli hingga akhir Oktober 2025, pihaknya telah menyerap gabah kering panen sebanyak 411.875 kilogram. Penyerapan tersebut dilakukan di sejumlah sentra produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan. Terutama di Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Desa Rias, Desa Serdang, Kecamatan Toboali dan Desa Pergam, Kecamatan Airgegas.

Bacaan Lainnya

“Penyerapan dilakukan pada masa panen indeks pertanaman (IP-200) di beberapa wilayah pertanian sentra produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan,” kata Iman Qolbi, Minggu (28/10).

Diakui Iman Qolbi, penyerapan gabah dilakukan sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah pusat, yakni sebesar Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen. Harga ini menjadi acuan utama dalam transaksi antara mitra Bulog dan petani. 

Menurutnya, keberadaan program penyerapan GKP oleh Bulog dan mitra penggilingan sangat dirasakan manfaatnya oleh petani. Dengan adanya harga acuan yang jelas, harga padi di tingkat petani relatif stabil dan tidak mengalami penurunan signifikan saat panen raya. 

Kebijakan ini dinilai tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga mendorong peningkatan produksi padi secara nasional. “Saat ini harga padi di tingkat petani masih standar, tidak terlalu jatuh. Karena sudah ada acuan harga dari Mitra Bulog sebesar Rp6.500 per kilogram GKP,” jelas Iman Qolbi.

Namun demikian, selama proses penyerapan gabah, pihaknya juga menghadapi sejumlah kendala, terutama faktor cuaca. Curah hujan yang tidak menentu sepanjang musim panen menjadi tantangan utama dalam proses pengeringan gabah. Kendala tersebut lebih dirasakan oleh mitra Bulog lainnya yang belum memiliki fasilitas pengering gabah modern. Proses penjemuran yang tertunda akibat hujan berpotensi menurunkan kualitas gabah dan beras yang dihasilkan.

Saat ini, Mitra Bulog Marsudi Tani belum melakukan penyerapan gabah karena petani di Bangka Selatan belum memasuki musim panen. Penyerapan diperkirakan akan kembali dilakukan pada akhir Desember 2025 seiring masuknya panen padi IP-300. 

“Dengan harga saat ini penggilingan swasta akan kewalahan karena harus mengimbangi harga Rp6.500 per kilogram. Bahkan ada yang membeli di atas harga ketentuan untuk mendapatkan gabah,” paparnya.

Untuk penyerapan lanjutan pihaknya masih menunggu instruksi resmi dari Perum Bulog. Utamanya mengenai jadwal dan target penyerapan berikutnya. Ia berharap pada tahun 2026, program penyerapan gabah oleh Bulog tetap berlanjut. 

“Mudah-mudahan tahun 2026 penyerapan masih terus dilanjutkan. Harapan petani, program ini tetap berjalan karena sangat membantu menjaga harga padi,” pungkas Iman Qolbi. (u1)

Minta Kuota Pupuk Subsidi Ditambah

PETANI di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, meminta pemerintah menambah kuota pupuk subsidi. Hal ini disampaikan setelah menurunnya tingkat keasaman (pH) tanah sawah akibat penggunaan pupuk kimia jangka panjang.

Petani menilai, tanpa dukungan pupuk penyeimbang tanah produktivitas pertanian terancam menurun. Meski indeks penanaman yang dilakukan petani terus meningkat setiap tahunnya.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bangka Selatan, Tahang HS mengatakan penurunan pH tanah menjadi keluhan utama petani dalam beberapa waktu terakhir. Intensitas penanaman yang terus meningkat hingga mencapai indeks pertanaman (IP) 300 membuat penggunaan pupuk kimia juga semakin tinggi. Tanpa dukungan pupuk tambahan yang mampu memperbaiki struktur tanah, lahan pertanian dikhawatirkan mengalami penurunan kualitas.

“Kadar pH sawah petani semakin lama semakin rendah karena penggunaan pupuk kimia. Selama ini pemupukan memang didominasi urea dan Phonska,” kata Tahang HS, Jumat (27/12).

Tahang memaparkan pada tahun 2025 alokasi pupuk subsidi untuk Desa Rias mengalami peningkatan signifikan seiring naiknya indeks penanaman dari IP 200 menjadi IP 300. Total penyerapan pupuk tahun ini mencapai 988 ton, terdiri dari 280 ton pupuk urea dan 708 ton pupuk NPK Phonska. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya menyerap 558 ton pupuk.

Meski penyerapan pupuk meningkat, ia menilai alokasi yang ada masih perlu disesuaikan dengan kondisi lahan saat ini. Ia menyebutkan, idealnya penggunaan pupuk urea yang sebelumnya sekitar 125 kilogram per hektare perlu ditingkatkan menjadi 200 kilogram per hektare. Sementara untuk pupuk NPK Phonska, kebutuhan mencapai sekitar 300 kilogram per hektare agar tanaman tetap memperoleh unsur hara yang seimbang.

Selain penambahan urea dan Phonska, petani juga berharap pemerintah dapat memasukkan pupuk lain ke dalam kuota subsidi tahun 2026. Pupuk seperti kapur pertanian, dolomit, pupuk organik, serta SP36. Semuanya dinilai sangat dibutuhkan untuk menaikkan pH tanah dan memperbaiki kesuburan lahan sawah.

“Pupuk-pupuk ini penting untuk memperbaiki tanah, bukan hanya mengejar hasil panen jangka pendek,” papar Tahang. (u1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *