Ratusan Siswa Sekolah Rakyat Berdoa Bersama untuk Korban Banjir Sumatera

Ringkasan Berita:

  • Doa dari berbagai agama yang diucapkan secara bergiliran oleh perwakilan siswa SRMA 13 Bekasi dari lima agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
  • Doa bersama dari Sekolah Rakyat diharapkan mampu memperkuat semangat jiwa masyarakat Sumatera.
  • Gus Ipul menyatakan bahwa seluruh siswa Sekolah Rakyat wajib menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA.

, JAKARTA– Ratusan siswa Sekolah Rakyat, bersama dengan orang tua dan guru, mengadakan doa lintas agama untuk masyarakat Sumatera yang terkena dampak bencana. – Banyak siswa dari Sekolah Rakyat, beserta orang tua dan para guru, melaksanakan doa bersama lintas agama untuk masyarakat di Sumatera yang terkena bencana. – Siswa Sekolah Rakyat, bersama orang tua dan guru, berdoa lintas agama sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat Sumatera yang terkena dampak bencana. – Dalam rangka membantu masyarakat Sumatera yang terkena bencana, ratusan siswa Sekolah Rakyat, orang tua, dan guru melakukan doa lintas agama.

Bacaan Lainnya

Upacara doa bersama siswa Sekolah Rakyat dalam rangka para korban bencana di Sumatera diadakan di Lapangan Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi, Jawa Barat, pada hari Rabu (24/12/2025).

Acara dihadiri oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wali Kota Bekasi, para anggota Forkopimda Provinsi Jawa Barat dan Kota Bekasi, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi, perwakilan Suku Dinas Sosial Jakarta Timur, serta jajaran Kementerian Sosial.

572 siswa dari Sekolah Rakyat serta 526 orang tua atau wali siswa hadir dalam acara tersebut.

Mereka berasal dari SRMP 6 Jakarta Timur, SRMP 10 Bogor, SRMA 9 Jakarta, SRMA 10 Jakarta, SRMA 12 Bogor, SRMA 13 Bekasi, serta SRT 43 Bekasi.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan khotmil Quran oleh siswa Sekolah Rakyat sebagai upaya spiritual dan doa perlindungan bagi bangsa, khususnya masyarakat Sumatera yang sedang mengalami bencana.

Bacaan ayat suci Alquran terdengar dengan penuh kekhusyukan, membuka seluruh rangkaian acara dengan suasana rendah hati dan harapan.

Doa dari berbagai agama yang diucapkan secara bergantian oleh perwakilan siswa SRMA 13 Bekasi dari lima agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

“Kami serahkan saudara-saudara kami di Sumatera yang terkena bencana. Kami juga menyampaikan doa untuk masyarakat Sumatera yang terkena musibah agar diberi kekuatan kembali,” kata perwakilan siswa saat membacakan doa.

Setelah doa yang melibatkan berbagai agama, siswa Sekolah Rakyat memberikan pidato dalam tiga bahasa sebagai lambang perhatian terhadap keberagaman budaya dan semangat global kalangan muda.

Pidato itu disampaikan oleh M Kiendra Lian Damarta (Bahasa Inggris), Mico Ardiansyah (Bahasa Arab), dan Nur Aisyah (Bahasa Mandarin).

Doa bersama dari Sekolah Rakyat diharapkan menjadi penguatan jiwa bagi masyarakat Sumatera serta menjadi pengingat bahwa seluruh anak bangsa berdiri sejajar, saling memohon doa, dan bekerja sama menghadapi kesulitan.

Tak Boleh Putus Sekolah

Pada kesempatan itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan bahwa seluruh siswa Sekolah Rakyat wajib menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA.

Ia menekankan bahwa tidak boleh ada seorang siswa Sekolah Rakyat yang berhenti sekolah.

“Para siswa Sekolah Rakyat harus menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Tidak boleh ada yang berhenti. Semua harus lulus sampai SMA,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul mengatakan setelah lulus SMA, negara tidak akan meninggalkan tanggung jawab.

Untuk siswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, Sekolah Rakyat akan memberikan bimbingan dan dukungan agar mereka dapat melanjutkan kuliah sesuai dengan minat serta kemampuan akademisnya.

“Setelah menyelesaikan SMA, bagi yang ingin melanjutkan studi akan didampingi dan dibimbing agar dapat kuliah. Seluruh biaya ditanggung pemerintah. Bisa masuk ke perguruan tinggi negeri atau juga ke institusi pendidikan tinggi lainnya sesuai dengan minat dan bakatnya,” ujar Gus Ipul.

Ia juga menyebutkan, siswa lulusan SMP yang memiliki kemampuan akademik memenuhi kriteria dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Garuda.

Siswa yang belum memenuhi kriteria tetap melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat hingga lulus SMA, dengan kesempatan yang sama untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui program KIP Kuliah.

Gus Ipul menyampaikan bahwa pendekatan pendidikan di Sekolah Rakyat tidak bersifat seragam karena setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda.

“Tidak bisa dipaksa, bakat anak-anak Bapak Ibu berbeda-beda. Ada yang memang ingin menjadi akademisi dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi, hal ini akan diawasi oleh Sekolah Rakyat. Hal ini sesuai dengan petunjuk dan arahan Presiden, sekaligus menjadi harapan Presiden,” katanya.

Selain jalur pendidikan akademis, Gus Ipul memastikan bahwa negara juga menyediakan jalur keterampilan serta dunia kerja.

Bagi para siswa yang tidak tertarik melanjutkan studi ke perguruan tinggi, pemerintah akan memberikan pendidikan vokasi sehingga mereka dapat menjadi tenaga kerja yang terampil.

“Jika ingin bekerja di luar negeri, nanti akan bekerja sama dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Jika bekerja di dalam negeri, akan bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan,” katanya.

Sekolah Rakyat juga memberikan kesempatan bagi lulusannya yang ingin menjadi pengusaha.

Mereka akan diberi bimbingan dan pendampingan agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

“Jika ada yang ingin menjadi wirausaha, akan dibimbing untuk menjadi seorang wirausaha yang handal. Intinya di Sekolah Rakyat, setelah lulus SMA tidak boleh berhenti,” ujar Gus Ipul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *