Isi Artikel
- 1 Bagian Badan dan Ekor Pesawat Ditemukan di Bukit Selatan
- 2 Tim AJU Disiapkan Terlebih Dahulu ke Bagian Terbesar
- 3 Medan Sulit dan Kabut Menjadi Penghalang Utama
- 4 Potongan Kecil Pintu Pesawat Ditemukan
- 5 Jalur Evakuasi Melalui Pendakian, Ratusan Petugas Diturunkan
- 6 Penjelasan Jumlah Awak Pesawat oleh Indonesia Air Transport
- 7 Perbedaan Antara Data Kru dan Manifest Penumpang
- 8 Pernyataan Kementerian Perhubungan: POB Terdiri Dari 10 Orang
- 9 Tiga Aparatur KKP Mengikuti Penerbangan
- 10 Pencarian Terus Berlangsung, Penyebab Masih Dalam Pemeriksaan
Ringkasan Berita:
- Tim operasi penyelamatan bersama menemukan tubuh dan ekor pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di lereng selatan Gunung Bulusaraung pada hari Minggu (18/1/2026) pagi.
- Posisi penemuan berada di lereng curam dengan jangkauan pandang yang terbatas karena kabut.
- IAT menyebutkan bahwa kru on-board terdiri dari tujuh orang, sedangkan Kemenhub memastikan jumlah POB sebanyak 10 orang termasuk tiga pegawai KKP.
Usaha pencarian yang terus-menerus akhirnya menghasilkan keberhasilan. Setelah beberapa jam melalui medan berat dan tertutup kabut tebal, tim SAR gabungan berhasil menemukan bagian utama pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di Sulawesi Selatan.
Temuan ini menjadi titik penting dalam operasi pencarian yang sejak awal dihadapkan pada tantangan berat di kawasan pegunungan Bulusaraung, yang dikenal dengan lereng terjal, hutan yang lebat, dan jalur yang sulit untuk dilalui.
Bagian Badan dan Ekor Pesawat Ditemukan di Bukit Selatan
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa bagian tubuh dan ekor pesawat ditemukan di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung pada hari Minggu (18/1/2026) pagi.
“Pada pukul 07.49 ditemukan bagian pesawat dan ekornya di lereng sebelah selatan, sedangkan dari puncak sebelah utara,” kata Andi Sultan kepada wartawan, di posko Balocci, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).
Lokasi tersebut terletak di wilayah yang sulit diakses, jauh dari jalur yang aman, sehingga setiap tindakan evakuasi harus dilakukan dengan perencanaan yang matang untuk memastikan keselamatan seluruh personel di lapangan.
Tim AJU Disiapkan Terlebih Dahulu ke Bagian Terbesar
Melanjutkan temuan tersebut, Basarnas segera mengirimkan Tim AJU untuk terlebih dahulu menuju lokasi bagian tubuh dan ekor pesawat yang merupakan potongan terbesar.
“Bagian terbesar, kami mengirimkan tim AJU terlebih dahulu menuju ke badan pesawat tersebut,” katanya.
Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari rencana evakuasi bertahap, mengingat ukuran fragmen dan kondisi medan yang bisa berisiko.
Medan Sulit dan Kabut Menjadi Penghalang Utama
Andi Sultan menekankan bahwa akses ke lokasi penemuan sangat sulit.
Lereng terjal mengharuskan tim SAR gabungan untuk lebih waspada sebelum melakukan proses evakuasi.
Akses untuk turun ke bagian pesawat ini cukup curam, sehingga kita perlu memastikan keamanannya terlebih dahulu. Namun, sudah tersedia, dan kendala yang saat ini masih terjadi adalah kabut,” katanya.
Kabut tebal yang mengelilingi area tersebut menjadi penghalang tambahan, mengurangi jangkauan penglihatan serta memperlambat pergerakan tim di lapangan.
Potongan Kecil Pintu Pesawat Ditemukan
Selain tubuh dan ekor pesawat, tim SAR bersama juga menemukan potongan kecil berupa bagian jendela pesawat di titik koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT.
“Dari awak helikopter, terlihat potongan kaca pesawat yang kecil,” katanya.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa lokasi jatuhnya pesawat berada di sekitar area tersebut, sekaligus membantu dalam pemetaan titik kecelakaan secara lebih rinci.
Jalur Evakuasi Melalui Pendakian, Ratusan Petugas Diturunkan
Dalam proses evakuasi, Basarnas memilih jalur pendakian yang dianggap paling aman meskipun membutuhkan waktu lebih lama. Sekitar 500 anggota tim SAR gabungan diterjunkan dalam operasi tersebut.
Kami tetap merencanakan jalur evakuasi melalui jalur pendakian karena akar yang ada lebih mudah untuk dilalui.
Ada yang dekat namun curam, jadi kita memilih keamanan,” katanya.
Keputusan itu diambil guna mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan tambahan dalam situasi cuaca yang tidak menguntungkan.
Penjelasan Jumlah Awak Pesawat oleh Indonesia Air Transport
Di sisi lain, PT Indonesia Air Transport (IAT) memberikan penjelasan mengenai jumlah awak pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).
Kepala Eksekutif PT IAT, Tri Adi Wibowo, menyatakan bahwa jumlah awak pesawat yang bertugas dalam penerbangan tersebut adalah tujuh orang, bukan delapan sesuai informasi yang tercantum dalam Passenger Manifest yang beredar.
“Saya memberitahukan, dari PT Indonesia Air Transport bahwa kru yang berada di dalam pesawat berjumlah tujuh,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
Perbedaan Antara Data Kru dan Manifest Penumpang
Tri Adi Wibowo selanjutnya menyebutkan nama-nama anggota kru yang bertugas, yaitu Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan satu orang lagi yang belum diungkap namanya.
Dari daftar tersebut, hanya Andi Dahananto, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita yang terdaftar dalam Passenger Manifest.
Sementara nama-nama lain yang tercantum dalam manifest tetapi tidak disebutkan Tri, yaitu Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, dan Junaidi.
Meskipun terdapat perbedaan data, Tri tidak memberikan penjelasan mendetail mengenai alasan perbedaan antara daftar awak yang bertugas dengan Passenger Manifest.
Pernyataan Kementerian Perhubungan: POB Terdiri Dari 10 Orang
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, menyampaikan bahwa jumlah seluruh awak dan penumpang di dalam pesawat mencapai 10 orang.
Pastikan Kapten Sukardi tidak ada di pesawat, sehingga jumlah penumpang hanya 10 orang.
Berdasarkan informasi dari operator pesawat IAT,” kata Lukman saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Tiga Aparatur KKP Mengikuti Penerbangan
Selain tujuh anggota kru dari Indonesia Air Transport, pesawat ini juga membawa tiga staf dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, menjelaskan ketiganya yaitu Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana, serta Operator Foto Udara Yoga Naufal.
“Menanggapi informasi yang beredar di masyarakat tentang logo Kementerian Kelautan Perikanan, perlu kami sampaikan bahwa benar ada pegawai KKP di dalam pesawat tersebut,” ujar Sakti pada kesempatan yang sama.
Tiga karyawan tersebut melakukan penerbangan sebagai bagian dari pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara (air surveillance) di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.
Pencarian Terus Berlangsung, Penyebab Masih Dalam Pemeriksaan
Sampai saat ini, pihak KKP mengakui belum menerima data lengkap mengenai kondisi penumpang serta penyebab pasti pesawat yang hilang kontak saat melakukan perjalanan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Proses pencarian dan penyelamatan masih berlangsung terus-menerus oleh tim SAR gabungan. KKP menyatakan terus bekerja sama dengan Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan dalam memantau perkembangan serta menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada pihak berwenang.
“KKP tentu telah dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam memantau perkembangan pencarian pesawat yang dilakukan melalui sistem pengawasan udara, mengenai proses pencarian serta kejadian tersebut, kami menyerahkan sepenuhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan,” katanya.
***
(TribunTrends/Beberapa artikel diubah dari Kompas)
Jangan lewatkan berita-berita menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook







