Prospek Obligasi Korporasi Tumbuh, MI Siapkan Strategi Investasi

, JAKARTA – Tingkat daya tarik pasar modal Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya prospek pasar obligasi perusahaan dan pasar saham dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah dua pilihan instrumen tersebut, para manajer investasi semakin teliti dalam menyusun strategi agar dapat meraih pengembalian yang maksimal bagi para pemodal.

Kepala Divisi Pendapatan Tetap Sinarmas Asset Management, Fikri Syuhada, menganggap obligasi perusahaan memiliki prospek yang menarik di tahun depan. Alat ini dianggap sebagai cara untuk memperluas portofolio dari pasar saham yang memiliki risiko lebih tinggi.

Bacaan Lainnya

Menurut Fikri, Sinarmas Asset Management berencana memperbesar proporsi obligasi perusahaan dalam portofolio investasinya. Obligasi perusahaan dianggap memiliki jangka waktu yang cukup singkat serta tingkat pengembalian yang menarik.kupon)yang lebih tinggi dibandingkan surat utang negara (SBN), sehingga dianggap lebih stabil terhadap fluktuasi pasar.

Namun demikian, peningkatan proporsi obligasi perusahaan tetap mempertimbangkan beberapa aspek, seperti ketersediaan instrumen di pasar serta keseimbangan antara imbal hasil dan risiko kredit.

“Porsi obligasi perusahaan masih bisa ditingkatkan dalam portofolio reksa dana kami. Namun, kenaikan ini akan mempertimbangkan faktor ketersediaan instrumen pasar, keseimbangan ideal antara imbal hasil dan risiko kredit, hingga batasan komposisi produk,” ujar Fikri kepadaBisnis, Selasa (16/12/2025).

Di sisi lain, Sinarmas Asset Management tetap memasukkan saham dalam komposisi portofolio. Menurut Fikri, reksa dana campuran yang memiliki proporsi saham berpotensi meraih keuntungan lebih tinggi seiring berjalannya kebijakan domestik yang fokus pada pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menganggap bahwa dalam tengah tren positif pasar obligasi perusahaan, beberapa risiko masih mengancam penerbitan surat utang baru. Untuk menghadapi situasi ini, Panin Asset Management menerapkan strategi alokasi yang berbeda untuk setiap produk reksa dana.

Di reksa dana Panin Gebyar Indonesia 2, Panin menyalurkan seluruh dana ke obligasi pemerintah. Sementara itu, Panin Dana Utama Plus 2 menempatkan 10–30 persen di obligasi perusahaan dan sisanya di obligasi pemerintah. Di sisi lain, Panin Dana Pendapatan Berkala mengalokasikan 30–50 persen pada obligasi perusahaan, dan Panin Dana Pendapatan Utama menempatkan 40–70 persen dana mereka pada obligasi perusahaan.

“Secara rasional, akan berada dalam kisaran tersebut. Peningkatan bobot misalnya dari 40 hingga 50% lebih besar jika ada penawaran yang menarik atau valuasi yang murah pada obligasi pemerintah,” kata Rudiyanto kepadaBisnis, Selasa (16/12/2025).

Meskipun prospeknya menjanjikan, penerbitan surat utang perusahaan tidak selalu memberikan sentimen yang menguntungkan. Salah satu risikonya adalah kemungkinan penurunan bunga obligasi baru karena tren penurunan suku bunga acuan.

Pandangan serupa juga diungkapkan Fikri. Ia menganggap, tren penurunan bunga berpotensi meningkatkan keuntungan modal dari kenaikan harga obligasi, tetapi sekaligus menimbulkan risiko investasi ulang. “Namun hal ini membawa risiko investasi ulang di mana sulit menemukan instrumen pengganti dengan kupon yang sama atau lebih tinggi ketika obligasi jatuh tempo,” ujarnya.

_________ 

Disclaimer: berita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *