Kebakaran hebat yang terjadi di gedung Terra Drone Indonesia di Daerah Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi peristiwa yang sangat menggemparkan. Kerugian material yang luar biasa, hilangnya data penting, dan paling tragis lagi, kehilangan puluhan nyawa pekerja membuat kasus ini menjadi sorotan utama. Akibat dari kejadian ini, Direktur Utama Terra Drone ditahan oleh pihak berwajib.
Dalam konferensi pers yang diadakan pada hari Jumat, 12 Desember 2025, polisi menyatakan bahwa penyebab kebakaran diduga kuat berasal dari kelalaian di ruang penyimpanan baterai. Menurut informasi yang diperoleh, tidak ada pemisahan antara baterai rusak dan baru, tidak ada sistem sprinkler atau detektor asap standar, bahkan akses darurat yang memadai juga tidak tersedia. Di dalam ruangan tersebut juga ditempatkan genset yang rentan terhadap kebakaran.
Sebagai seorang profesional dengan pengalaman selama 20 tahun di perusahaan logistik Multinasional Company (MNC), saya melihat kasus ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah tragedi yang lahir dari kegagalan sistematis dan budaya yang meremehkan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta manajemen inventaris.
Di setiap gudang MNC yang pernah saya kelola, protokol Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Manajemen Risiko adalah prioritas utama. Ketika mendengar kondisi di ruang baterai Terra Drone, saya melihat adanya kesenjangan yang sangat besar antara standar industri dan praktik di lapangan. Berikut beberapa hal yang menjadi perhatian:
- Penyimpanan Rusak vs. Baru: SOP logistik mengharuskan adanya pemisahan fisik yang jelas antara unit serviceable dan unit End-of-Life (EOL). Hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi atau potensi korsleting yang fatal.
- Mitigasi Api Pasif: Tidak adanya fire sprinkler dan smoke detector di area berisiko tinggi adalah pelanggaran K3 yang serius. Dalam sistem manajemen gudang yang baik, area penyimpanan barang berbahaya harus memiliki proteksi kebakaran kelas tertinggi.
- Peran Top Management: Tugasnya adalah memastikan SOP bukan hanya dokumen di laci, tetapi terimplementasi di lantai gudang. Kegagalan ini menunjukkan adanya ketidaktegasan dalam audit, pelatihan K3 yang kurang memadai, dan mindset bahwa biaya keamanan bisa dihemat.
Di sinilah letak akar masalahnya. Budaya yang meremehkan SOP adalah ancaman nyata bagi keselamatan dan keberlanjutan bisnis. Saya teringat dengan momen yang membuat saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari salah satu perusahaan MNC, meskipun karier saya sedang menanjak. Seorang petinggi perusahaan pernah berkata di forum resmi:
“Tak perlu terlalu kaku sama SOP. Lihat saja tukang nasi goreng jalanan, dia tidak pakai SOP namun nasi gorengnya enak dan ramai.”
Analogi “nasi goreng” ini mencerminkan budaya yang membunuh profesionalisme. Saya dan banyak orang lain telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun sistem logistik yang efisien dan aman. Pernyataan seperti itu seolah meruntuhkan semua kerja keras tersebut.
Mengapa SOP Bukan Nasi Goreng?
- Risiko dan Skala: Risiko kerugian tukang nasi goreng adalah wajan gosong. Namun, risiko kerugian perusahaan teknologi yang mengelola aset miliaran (seperti Terra Drone) adalah kehancuran total, tuntutan pidana, dan hilangnya nyawa serta mata pencaharian ratusan karyawan.
- Konsistensi vs. Keterampilan Individu: Nasi goreng yang enak adalah hasil keterampilan individu. Perusahaan sukses harusnya berdasarkan sistem yang andal. SOP memastikan kualitas, keamanan, dan skalabilitas berjalan konsisten, sesuatu yang mutlak diperlukan untuk perusahaan yang ingin tumbuh besar.
Saya mulai memikirkan pengunduran diri setelah insiden pernyataan tersebut. Pengunduran diri saya yang terbilang cepat (hanya bekerja 1.5 tahun di perusahaan tersebut) adalah puncak dari ketidaksepahaman filosofis ini. Saya sadar, bekerja di lingkungan yang menganggap SOP sebagai “kekakuan” atau penghalang alih-alih mitigasi risiko hukum dan nyawa adalah bom waktu. Saya tidak mau karir 20 tahun saya tercoreng oleh kecelakaan yang bisa dicegah.
Kasus Terra Drone hari ini adalah validasi pahit atas keputusan saya saat itu. Ketika manajemen puncak membiarkan area berisiko tinggi (ruang baterai) beroperasi tanpa pengaman standar industri, mereka tidak hanya melanggar aturan, tetapi secara sadar menghilangkan nyawa, aset, dan masa depan perusahaan.
Sebagai pengajar Manajemen Logistik dan Leadership di beberapa universitas dalam Program Praktisi Mengajar, saya melihat kasus Terra Drone bukan sekadar kegagalan operasional (tidak adanya sprinkler atau pemisahan baterai). Ini adalah kegagalan leadership dan tata kelola risiko (Risk Governance).
Kepemimpinan yang Toleran terhadap Risiko:
- Leadership yang baik tidak hanya fokus pada revenue (seperti jualan nasi goreng yang laris). Leadership yang bertanggung jawab adalah yang menempatkan keselamatan (K3) dan kepatuhan (Compliance) di atas segalanya.
- Filosofi “tidak perlu kaku” dari pimpinan di masa lalu adalah contoh buruk dari leadership yang mentoleransi risiko demi kecepatan atau penghematan biaya jangka pendek.
Dalam manajemen logistik modern, barang berharga atau berbahaya (seperti data drone penting atau baterai) harus dilindungi oleh sistem berlapis. Ketika direktur utama ditahan, ini menunjukkan adanya kegagalan pengawasan di level tertinggi. Mereka gagal mengaudit dan memastikan bahwa risiko kebakaran, yang sudah diketahui tinggi untuk baterai, telah dimitigasi.
Jika benar Terra Drone menyimpan data sensitif (seperti dugaan pembalakan liar) yang didengungkan di media sosial, maka kegagalan SOP gudang ini memiliki dimensi kerugian yang jauh lebih luas dari properti fisik yaitu hilangnya aset intelektual strategis yang berpotensi memengaruhi kasus hukum atau kepentingan publik.
SOP di perusahaan seperti Terra Drone bukanlah aturan administratif yang bisa dilanggar. SOP adalah protokol yang melindungi aset berharga, data sensitif, dan yang paling utama, nyawa manusia.
Kepada para praktisi dan pimpinan perusahaan di luar sana, mengabaikan SOP bukanlah shortcut menuju efisiensi, tetapi jalan pintas menuju penjara dan kehancuran.
Kepada pihak kepolisian, penahanan Direktur Utama Terra Drone adalah sinyal kuat bahwa kelalaian K3 dan ketidakpatuhan terhadap SOP kini memiliki konsekuensi hukum yang sangat serius. Semoga api di gedung Terra Drone menjadi pelajaran termahal bagi dunia usaha Indonesia. Saya berharap pihak berwenang negeri ini segera melakukan audit K3 dan SOP agar korban berikutnya tak kembali berjatuhan hanya karena ulah segelintir “pemimpin” yang selalu merasa dirinya paling benar padahal dia hanya ingin menutupi kekurangannya.







