Ringkasan Berita:
- BMKG Depati Amir Pangkalpinang memperkirakan hujan sedang hingga lebat akan mendominasi Bangka Belitung menjelang Natal dan Tahun Baru 2025.
- Wilayah utara Bangka Barat dan pesisir barat Belitung berpotensi terdampak cuaca ekstrem, termasuk angin kencang dan gelombang laut hingga 2,5 meter.
- Warga diminta memantau informasi cuaca terkini dan menyesuaikan aktivitas.
–Curah hujan masih diprediksi akan mendominasi wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sepanjang periode perayaan Natal hingga menjelang pergantian Tahun Baru.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir masih cukup tinggi.
Prakirawan BMKG Depati Amir Pangkalpinang, Bimo Satria Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi cuaca basah tersebut dipengaruhi oleh masuknya wilayah Kepulauan Bangka Belitung ke puncak musim hujan.
Pada fase ini, suplai uap air di atmosfer terpantau melimpah dan mendukung pembentukan awan hujan secara masif.
“Untuk periode menjelang Tahun Baru, masih terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir,” ujar Bimo saat dihubungi, Minggu (28/12/2025).
Ia menambahkan, hujan berpeluang terjadi hampir di seluruh wilayah Bangka Belitung, terutama pada waktu siang hingga sore hari.
Namun demikian, masyarakat juga diminta tidak lengah karena hujan berintensitas cukup signifikan juga berpotensi turun pada dini hari hingga menjelang pagi.
Perlu perhatian Khusus
BMKG mencatat, beberapa wilayah perlu mendapatkan perhatian khusus karena berpotensi mengalami cuaca lebih ekstrem.
Di Pulau Bangka, daerah yang perlu diwaspadai antara lain Bangka Barat bagian utara, khususnya Kecamatan Jebus dan Parittiga.
Sementara di Pulau Belitung, wilayah pesisir barat juga diperkirakan mengalami kondisi cuaca yang cukup signifikan.
Menurut Bimo, dinamika atmosfer saat ini cukup aktif.
Selain suplai uap air yang tinggi, pola angin di lapisan bawah hingga menengah atmosfer terpantau mendukung terjadinya pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lebat dalam waktu singkat.
“Wilayah Bangka Belitung juga dipengaruhi oleh fenomena atmosfer seperti gelombang Kelvin. Fenomena ini berperan dalam memperkuat proses pembentukan awan hujan, sehingga potensi hujan bisa terjadi dalam skala yang cukup luas,” jelasnya.
Gelombang Kelvin merupakan salah satu fenomena atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di sekitar wilayah ekuator.
Ketika melintas, gelombang ini sering membawa peningkatan aktivitas konveksi yang ditandai dengan pembentukan awan hujan tebal.
Kondisi tersebut kerap memicu hujan lebat, terutama ketika bertemu dengan faktor lokal seperti pemanasan permukaan dan kelembapan udara yang tinggi.
Selain hujan dan angin kencang, BMKG juga memantau kondisi gelombang laut di perairan Bangka Belitung.
Secara umum, tinggi gelombang laut masih berada pada kategori rendah hingga sedang, yakni berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter.
Meski demikian, Bimo mengingatkan bahwa pada kondisi tertentu, terutama saat kecepatan angin meningkat akibat pertumbuhan awan hujan, tinggi gelombang berpotensi naik hingga mencapai 2,5 meter di beberapa perairan.
“Ketika terjadi peningkatan kecepatan angin, otomatis tinggi gelombang juga akan ikut meningkat. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di laut,” kata Bimo.
Tidak terdampak langsung
Terkait isu berkembangnya siklon tropis di kawasan sekitar Indonesia, BMKG memastikan bahwa wilayah Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya tidak terdampak langsung oleh siklon tropis.
Hal ini disebabkan letak geografis Bangka Belitung yang berada di sekitar lintang minus 2 derajat atau dekat dengan garis ekuator, sehingga tidak menjadi lintasan utama siklon tropis.
Namun demikian, Bimo menegaskan bahwa keberadaan siklon tropis di wilayah utara maupun selatan Indonesia tetap dapat memberikan dampak tidak langsung. Dampak tersebut biasanya berupa perubahan pola angin di sekitar Bangka Belitung.
“Perubahan pola angin ini dapat membentuk area konvergensi atau perlambatan angin. Kondisi tersebut memicu udara berkumpul dan naik ke atas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan,” jelasnya.
Dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem selama periode libur Natal dan Tahun Baru, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama yang dilakukan di luar ruangan.
Warga diminta mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat menyebabkan genangan air, banjir lokal, maupun gangguan lalu lintas.
Masyarakat pesisir, nelayan, serta wisatawan yang hendak melakukan perjalanan laut juga diingatkan agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca dan kondisi gelombang sebelum berangkat.
Aktivitas pelayaran dan wisata bahari sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca demi menghindari risiko kecelakaan.
Selain itu, masyarakat yang merencanakan kegiatan wisata alam, seperti berkunjung ke pantai, pulau-pulau kecil, maupun kawasan perbukitan, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang, petir, serta pohon tumbang akibat cuaca buruk.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk terus bersinergi dalam menyampaikan informasi cuaca kepada masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana hidrometeorologi.
“Selalu pantau informasi cuaca terkini dari BMKG melalui kanal resmi dan sesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang ada,” pungkas Bimo.
Dengan kewaspadaan bersama dan kesiapsiagaan sejak dini, diharapkan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung dapat menjalani periode libur Natal dan Tahun Baru dengan aman, meski di tengah dominasi cuaca hujan yang masih berpotensi terjadi.
(/Andini Dwi Hasanah)






