,PALEMBANG-Pabrik Pertamina Plaju memperkenalkan inovasi alat pengkondensasi ikan asap dengan emisi rendah, sebuah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan yang mengadopsi prinsip kerja pabrik untuk meningkatkan efisiensi UMKM sambil mengurangi polusi dan dampak terhadap lingkungan.
Inovasi ini merupakan bagian dari Program Belida Musi Lestari, sebuah inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju, yang menggabungkan pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi, serta penerapan teknologi ramah lingkungan berdasarkan kompetensi inti perusahaan.
Teknologi yang digunakan mengacu pada prinsip kerja Crude Distillation Unit (CDU), unit utama di pabrik pengolahan minyak bumi yang menggunakan proses pemanasan dan pendinginan (kondensasi) untuk memisahkan komponen minyak mentah berdasarkan titik didihnya.
Prinsip ini diubah sesuai dengan proses pengasapan ikan, di mana asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar alami seperti kayu atau tempurung kelapa dialirkan melalui pipa spiral yang didinginkan dengan air, sehingga suhu asap menurun dan uapnya mengembun menjadi asap cair atau cairan asap.
Menggunakan sistem ini, asap tidak lagi dibuang ke udara terbuka, tetapi dikelola menjadi produk turunan yang memiliki manfaat, sekaligus menghasilkan proses pengasapan yang lebih bersih dan terkontrol.
Penggunaan alat ini telah terbukti meningkatkan efisiensi dan hasil kerja secara signifikan. Durasi produksi yang sebelumnya memakan waktu 10 jam kini bisa dikurangi menjadi 7 jam per siklus.
Penggunaan bahan bakar kayu berkurang dari 30 kilogram menjadi 19,125 kilogram per produksi, sementara kapasitas produksi meningkat dari 20 kilogram menjadi 35 kilogram ikan per siklus.
Suhu dalam proses pengasapan menjadi lebih stabil dan dapat dikendalikan pada suhu 60 derajat Celsius, menghasilkan tingkat kematangan ikan yang lebih merata serta kualitas produk yang lebih unggul.
Selain meningkatkan efisiensi, alat ini juga memberikan dampak nyata terhadap penurunan emisi. Emisi karbon dari proses pengasapan berhasil ditekan dari 2,72 ton CO₂e menjadi 1,73 ton CO₂e per siklus produksi.
Output proses pengasapan yang sebelumnya berupa asap menyebar kini berubah menjadi asap cair yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut, sehingga proses produksi menjadi lebih ramah lingkungan dan berkontribusi pada upaya pengendalian perubahan iklim.
Optimalisasi panas melalui sistem perangkap asap ini memastikan tidak ada asap terbuang, mempercepat proses pengasapan, dan menjaga kualitas udara di sekitar lokasi produksi.
“Inovasi ini merupakan contoh nyata bagaimana kompetensi inti kilang di bidang distilasi dan kondensasi dapat ditransformasikan menjadi solusi lingkungan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kami berupaya menghadirkan inovasi yang relevan dengan keberadaan kilang dan berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan UMKM,” ujar Siti Fauzia, Area Manager Communication, Relations & CSR RU III PT Kilang Pertamina Internasional.
Alat Kondensasi Ikan Asap Rendah Emisi ini telah diserahkan kepada UMKM Jasmine Suger di wilayah Sungai Gerong. UMKM tersebut memperoleh pasokan bahan baku ikan segar dari kelompok pembudidaya ikan setempat, seperti patin, nila, dan gurame, yang kemudian diolah menjadi ikan asap ramah lingkungan dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp75.000 per kemasan.
Dengan pola tersebut, terbentuk ekosistem ekonomi terintegrasi mulai dari budidaya ikan, pengolahan berbasis teknologi bersih, hingga pemasaran produk bernilai tambah, sekaligus memperkuat kohesivitas sosial antara UMKM dan masyarakat sekitar.
Apresiasi datang dari Ir. Septi Fitri, M.M., yang saat diwawancarai pada 25 Agustus 2025 masih menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuasin.
“Saya mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Pertamina, khususnya melalui program CSR berupa pengembangan alat destilasi ikan asap. Inovasi ini merupakan terobosan baru dan pertama di Sumsel. Apabila inovasi ini berhasil diimplementasikan secara optimal, tentu akan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus pendapatan pelaku usaha perikanan, khususnya di Kabupaten Banyuasin,” ujarnya.
Selama ini, proses pengasapan ikan masih dilakukan secara manual dengan menggunakan kayu dan tungku tradisional, yang kurang efisien dan berdampak pada kualitas serta lingkungan.
“Melalui inovasi destilasi ikan asap ini, diharapkan dapat dihasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik, biaya produksi yang lebih rendah, dan proses yang lebih ramah lingkungan. Jika hal tersebut dapat terwujud, maka inovasi ini akan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para pelaku usaha dan generasi muda di Banyuasin,” ujarnya.
Keberadaan teknologi ini turut membawa dampak sosial yang lebih luas.
Masyarakat di sekitar lokasi produksi tidak lagi terganggu oleh polusi udara yang ditimbulkan dari proses pengasapan tradisional, sementara pelaku UMKM merasakan peningkatan kenyamanan kerja, kapasitas produksi, dan daya saing produk.
Inovasi ini juga menjadi yang pertama di Sumatera Selatan, serta berkontribusi dalam meningkatkan kapabilitas individu dan kelompok UMKM untuk menerapkan praktik produksi yang lebih modern dan berkelanjutan.
Melalui inovasi berbasis kompetensi inti ini, Kilang Pertamina Plaju memperkuat komitmennya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Program ini sekaligus mencerminkan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasional Pertamina dengan menghadirkan solusi yang menyeimbangkan kinerja bisnis, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Baca berita lainnya di google news






