Perjalanan karier Freya JKT48 dari trainee hingga jadi kapten JKT48 gantikan Gracia

 – Sabtu (20/12) malam menjadi tonggak sejarah bagi Freya Jayawardana. Di THE FIRST SNOW – JKT48 14th Anniversary Concert & Gracia Graduation Ceremony, yang berlangsung di ICE BSD, Freya secara resmi diumumkan sebagai Kapten baru JKT48 menggantikan Shania Gracia yang telah lulus.

Pengumuman itu disampaikan oleh Melody Nurramdhani Laksani, GM Teater JKT48, bersama Shani Indira Natio, Wakil GM Teater JKT48, di ujung pertunjukan. Freya, yang baru berusia 19 tahun, kini menyamai catatan Shania Junianatha (Shanju).

Bacaan Lainnya

Satu dari sedikit anggota yang pernah menjadi kapten di usia 19 tahun juga. Momen ini menggarisbawahi siklus regenerasi dalam JKT48: dari era senior ke era generasi baru yang siap membawa kelompok ke fase berbeda.

Awal Masuk JKT48 dan Perjalanan Karier

Member dengan nama lengkap Raden Roro Freyanashifa Jayawardana itu lahir pada 13 Februari 2006 di Tangerang, Banten. Dia diperkenalkan sebagai anggota generasi ke-7 JKT48 pada 2018 ketika usianya masih belia, sekitar 12 tahun.

Dia memulai perjalanan dari JKT48 Academy Class B, kemudian naik ke Class A, sebelum resmi dipromosikan ke Team T pada 2 Juni 2020. Setelah sistem tim dibubarkan pada 2021, Freya tetap dipertahankan dalam struktur JKT48, yang berisi member utama untuk membentuk barisan inti grup.

Tiga tahun awal kariernya lebih banyak diisi proses pembentukan keterampilan: latihan koreografi, vokal, disiplin panggung, serta pembiasaan menghadapi fans di teater. Masa itu menjadi fase seleksi alami bagi para anggota muda, dan Freya lolos dari proses tersebut.

Eksposurnya meningkat drastis sejak 2023, ketika ekspresi wajah dan potongan interaksinya viral di media sosial dan memicu banyak meme. Efeknya, nama Freya mulai dikenal publik di luar basis penggemar hardcore JKT48.

Popularitas itu dibarengi kehadiran di banyak medium lain. Freya tampil dalam acara variety Lapor Pak!, ikut Tokyo Idol Festival 2023, terlibat dalam proyek kampanye Pokemon Trading Card Game, tampil sebagai voice pack kolaborasi Free Fire x JKT48, hingga mengisi berbagai proyek film pendek dan brand endorsement.

Kehadiran lintas format tersebut memberi ruang bagi manajemen melihat Freya sebagai figur publik yang bisa dibawa lebih jauh dari panggung teater. Apalagi, selain bertumbuh sebagai idol panggung, Freya juga mulai menancapkan kariernya di dunia akting.

Tahun 2024 menjadi momentum penting ketika Freya debut di layar lebar lewat film horor Kuasa Gelap dengan memerankan karakter Cilla. Pada tahun yang sama, Freya terjun ke dunia serial streaming melalui drama Dia Angkasa, tampil sebagai Silvana Laurel Kaliska (Vana).

Memasuki 2025, Freya kembali hadir di film 1 Kakak 7 Ponakan dengan peran Nina, semakin menegaskan langkah seriusnya di perfilman arus utama. Bahkan sebelum tiga proyek itu, Freya pernah tampil dalam film pendek bertema pendidikan “Profil Pelajar Pancasila” (2021), yang merilis wajahnya pertama kali kepada publik non-fandom.

Dukungan fandom kemudian berubah menjadi kekuatan konkret dalam JKT48 Senbatsu Sousenkyo 2024, ketika Freya finis di peringkat keenam dan masuk line-up Senbatsu untuk single #KuSangatSuka. Hasil tersebut menegaskan bahwa pengenalannya melalui media bukan sekadar popularitas sesaat, tetapi diikuti dukungan voting riil yang menjadi modal penting seorang kapten JKT48.

Saat diumumkan sebagai kapten di panggung salju artifisial, Sabtu (20/12), Freya menyampaikan apresiasinya dengan hati-hati. “Terima kasih juga atas kepercayaannya. Mungkin bukan saya yang diharap banyak orang, belum tentu juga hadir memenuhi ekspektasinya, tapi selama saya bisa dan selama saya mampu akan selalu saya usahakan yang terbaik,” ujarnya.

Dia menambahkan masih harus banyak belajar. “Masih banyak sekali yang perlu saya pelajari. Semoga seiring berjalannya waktu kita dapat berproses bersama agar bisa menjadi lebih baik ke depannya. Mohon bantuannya dan dukungannya selalu,” lanjutnya.

Masuknya Freya sebagai kapten menutup halaman terakhir era kepemimpinan Gracia, yang memegang jabatan selama setahun penuh dan setia bertahan hingga peluncuran setlist original teater JKT48 Pertaruhan Cinta rilis September lalu.

Jika konser malam itu menampilkan salju, biru, dan simbol perubahan musim, maka di pundak Freya kini jatuh tugas baru: membawa grup ke fase pasca-Gracia, menjaga stabilitas setelah setlist orisinal dirilis, dan memimpin relasi publik yang semakin besar.

 

Momen Besar Malam Itu: Pengumuman Kapten Baru

Konser THE FIRST SNOW sendiri dimulai sebagai perayaan ulang tahun JKT48 yang ke-14, dipadati sorak lebih dari 5 ribu fans offline di ICE BSD, dilengkapi efek salju buatan dan suasana panggung megah. Namun sorotan utama bergeser saat pengumuman kapten baru diumumkan di akhir acara, berbarengan dengan perpisahan Gracia yang resmi lulus.

Begitu namanya diumumkan, suasana langsung pecah. Para member berdiri di panggung, mengenakan seragam merah khasnya, berhamburan memeluk dan mengelilingi Freya. Sorakan dan tepuk tangan panjang menyambut berita tersebut.

Usai momen tersebut, Freya menyampaikan pidato pertamanya sebagai kapten dengan nada rendah hati dan penuh harapan. Dia mengakui tanggung jawab besar yang kini diembannya dan harapannya terhadap masa depan grup.

“Halo selamat malam. Terima kasih banyak atas apresiasinya. Saya sangat senang sekali. Terima kasih juga atas kepercayaannya. Mungkin, mungkin bukan saya yang diharap banyak orang, belum tentu juga hadir memenuhi ekspektasinya, tapi selama saya bisa dan selama saya mampu akan selalu saya usahakan yang terbaik untuk semuanya.”

Dia juga menyampaikan sikapnya terhadap proses belajar sebagai kapten muda. “(Untuk) JKT48 secara keseluruhan, masih banyak sekali yang perlu saya pelajari. Masih banyak sekali hal yang belum saya ahli, tetapi semoga seiring berjalannya waktu kita dapat berproses bersama untuk mempelajari banyak sekali hal agar bisa menjadi lebih baik ke depannya,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *