Penenun disebut maestro, kain Sumba kini jadi diplomasi budaya dunia

Laporan Reporter , Irfan Budiman

, WAINGAPU – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyebut kain Sumba telah menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia ke pentas dunia. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada para penenun yang disebutnya sebagai maestro.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut disampaikannya saat peresmian Rumah Ibu Bumi, sebuah ruang bagi komunitas penenun Sumba Timur yang berlokasi di Maojawa, Kelurahan Kadumbul, Kecamatan Pandawai, Sabtu (27/12/2025).

Fadli Zon mengatakan, dirinya secara perlahan mengamati perkembangan kain Sumba. Ia menemukan kain itu telah mendunia. 

Kain Sumba kata dia, kini berada di tangan para kolektor internasional, dipamerkan di museum-museum dan sudah biasa dipakai oleh tokoh-tokoh di berbagai daerah di Indonesia.

“Kita berikan aplaus penghargaan kepada para ibu-ibu penenun, para maestro, para pegiat budaya yang telah berhasil memperkenalkan wastra Sumba juga ke pentas dunia,” katanya di hadapan 10 penenun Sumba Timur dan ratusan undangan. Di antaranya penenun dari Kanatang, Kaliuda, dan Kampung Raja Pau.

“Saya pelan-pelan belajar tentang kain-kain Sumba ini. Sudah mendunia, ada di tangan-tangan para kolektor di dunia internasional,” ujar Fadli Zon.

Menteri dari Partai Gerindra ini menjelaskan, dikenalnya kain Sumba di tengah peradaban dunia sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 Ayat 1. Yaitu memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.

“Dan kita sudah membuktikan dalam perjalanan waktu, termasuk ekspresi budaya, warisan budaya dari Sumba ini berupa kain, berupa wastra, sudah menjadi bagian dari upaya kita untuk memperkenalkan Indonesia, diplomasi budaya kita di tengah-tengah peradaban dunia. Ini adalah satu prestasi yang luar biasa yang sudah panjang, yang tentu merupakan bagian dari perjalanan budaya yang ada di Sumba,” ungkapnya.

Aktivasi ruang publik dari Yayasan Umaratu-Rumah Ibu Bumi tersebut kata dia, momentum strategis dalam pemajuan kebudayaan.

Ke depan, ruang publik ini diharapkan menjadi sebuah kantong kebudayaan atau komunitas kultural yang berfungsi sebagai ruang belajar, ruang inspirasi dan ruang pelatihan. Terkhusus bagi generasi muda yang menjadi pewaris.

“Terutama di sini tempat nilai-nilai luhur kearifan lokal diwariskan, budaya ditampilkan, keterampilan dan kewirausahaan juga dipromosikan, identitas dan jati diri bangsa juga diteguhkan,” tegasnya.

Cultural and Creative Industry (CCI)

Menteri Fadli Zon mengungkapkan, tren global saat ini adalah Cultural and Creative Industry (CCI).

Budaya, kata dia, tidak lagi sebagai jati diri dan identitas. Tetapi juga harus dimanfaatkan, dikembangkan dan dibina sesuai amanat undang-undang termasuk diarahkan pada ekonomi budaya.

“Kita menuju kepada cultural industry karena bagaimanapun budaya ini adalah soft power, kekuatan kita. Dan untuk itu kita harus jadikan budaya ini sebagai sebuah national treasure. Kain-kain Sumba ini juga merupakan satu national treasure kita yang bisa juga memperkenalkan, menjadikan ini juga alat diplomasi kita ke dunia internasional,” jelasnya.

“Karena itulah saya kira kita sangat mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh Yayasan Umaratu, termasuk melalui Direktorat Sarana Prasarana kita mendukung untuk mewujudkan mimpi bersama,” ujar Fadli Zon.

Ia pun memberikan apresiasi kepada Asha Smara Darra. Asha adalah inisiator sekaligus ketua Yayasan Umaratu.

Hal yang sama ia juga sampaikan kepada para pegiat budaya di Sumba Timur yang didukung oleh Bupati Umbu Lili Pekuwali dan Wakil Bupati Yonathan Hani.

“Ini semua harus merupakan kerja kolaborasi,” tutupnya.

Rumah Ibu Bumi

Rumah Ibu Bumi yang dinaungi Yayasan Umaratu ini merupakan sebuah gerakan menghidupkan kearifan lokal di bawah Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan.

Acara ini peresmian ditandai dengan aktivasi ruang publik melalui Pameran Rumah Ibu Bumi (Memories and Care).

Pameran ini menjadi ruang budaya berbasis komunitas dengan memahami tenun sebagai praktik hidup yang berakar pada kerja kolektif, relasi dengan alam dan warisan leluhur.

Yayasan Umaratu didirikan sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian budaya dan tradisi di NTT melalui tiga pilar utama yakni sandang, pangan dan papan. 

Ke depan, yayasan ini berfungsi sebagai pusat pengembangan ekosistem budaya untuk mengembangkan ekonomi sirkular berbasis kearifan lokal, khususnya di Sumba Timur.

Selain itu, pemberdayaan perempuan juga menjadi perhatian khusus yayasan ini.

Karenanya, ekosistem yang dikembangkan akan menitikberatkan pada peran perempuan.

Tenun Sumba

Salah satunya melalui Tenun Sumba yang merupakan salah satu ekspresi budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai produk sandang, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang merekam relasi manusia dengan alam, struktur sosial, serta nilai-nilai spiritual masyarakat. 

Pameran Rumah Ibu Bumi digagas sebagai upaya strategis untuk menghadirkan tenun Sumba sebagai pengetahuan melalui pendekatan kuratorial berbasis komunitas dan etnografi dekolonial. 

Kegiatan ini menempatkan para perempuan penenun sebagai subjek utama sekaligus penjaga memori budaya, sejalan dengan arah kebijakan pemajuan kebudayaan dan penguatan ekosistem. (dim)

 

Ikuti berita di GOOGLE NEWS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *