, JAKARTA — Pemodelan iklim yang dilakukan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan Pulau Sumatra menjadi wilayah paling rentan terhadap peningkatan cuaca ekstrem, khususnya hujan dan angin ekstrem, dalam periode 2021–2040.
Profesor Riset BRIN sekaligus Ahli Iklim dan Cuaca Ekstrem, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa proyeksi cuaca ekstrem yang disusun menggunakan 14 model iklim memperlihatkan peningkatan signifikan kejadian hujan ekstrem dan angin ekstrem, terutama pada periode musim hujan Desember–Februari.
“Berdasarkan peringkat hasil proyeksi hingga 2040, Sumatra menduduki posisi pertama untuk peningkatan angin ekstrem pada musim hujan. Wilayahnya paling luas dan intensitasnya paling tinggi,” ujarnya dalam diskusi daring bertema Risiko Cuaca Ekstrem dan Solusi Iklim, Kamis (18/12/2025), dikutip dari YouTube Madani Berkelanjutan.
Erma menuturkan bahwa cuaca ekstrem dianalisis melalui dua komponen utama, yakni hujan ekstrem dan angin ekstrem, serta keterkaitan keduanya. Hasil simulasi menunjukkan Sumatra secara konsisten menempati peringkat teratas baik untuk angin ekstrem maupun hujan ekstrem.
Secara spasial, peningkatan hujan ekstrem di Sumatra terkonsentrasi di wilayah Sumatra bagian utara serta kawasan Riau, termasuk Pekanbaru dan daerah pesisir yang berbatasan dengan Selat Malaka. Di wilayah ini, peningkatan hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan penguatan angin ekstrem.
“Kondisi ini menjadi indikasi awal keterkaitan dengan aktivitas badai tropis, karena hujan dan angin ekstrem meningkat secara simultan,” kata Erma.
Selain Sumatra, Kalimantan juga menunjukkan peningkatan signifikan pada kedua komponen cuaca ekstrem. Wilayah Kalimantan bagian tengah hingga selatan serta barat tercatat mengalami lonjakan hujan ekstrem dan angin ekstrem yang relatif merata. Menurut Erma, pola ini berkaitan dengan peningkatan intensitas fenomena Borneo Vortex yang memicu cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
Sementara itu, Sulawesi relatif tidak menunjukkan peningkatan signifikan pada angin ekstrem, meskipun hujan ekstrem tercatat meningkat pada periode tertentu. Papua dinilai relatif stabil dari sisi angin ekstrem, namun berpotensi mengalami peningkatan hujan ekstrem, terutama pada periode musim kemarau, yakni September–November.
Adapun Pulau Jawa dinilai termasuk wilayah yang relatif paling stabil dibanding pulau besar lainnya. Meski demikian, peningkatan hujan ekstrem dan angin ekstrem tetap teridentifikasi pada periode Maret–Mei, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah.
Perubahan pola paling mencolok, menurut Erma, terjadi di wilayah Bali dan Indonesia bagian timur. Kawasan ini mengalami perubahan signifikan baik pada pola hujan maupun angin ekstrem, yang diduga kuat dipengaruhi oleh pemanasan suhu permukaan laut di perairan timur Indonesia, seperti Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Maluku.
Ia menambahkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya terletak pada peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, tetapi juga pada kesiapan sistem mitigasi risiko. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki mekanisme perhitungan risiko cuaca ekstrem yang terintegrasi ke dalam skema keuangan maupun asuransi, sebagaimana telah diterapkan di sejumlah negara maju.
Menurut Erma, cuaca ekstrem yang berkaitan dengan badai tropis bersifat high frequency dan high impact, sehingga dampaknya berpotensi lebih besar dibandingkan bencana alam lain yang jarang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan sistem pemantauan, pemodelan beresolusi tinggi, serta inovasi kebijakan untuk mengelola risiko cuaca ekstrem secara berkelanjutan.







