Pembiayaan Mobil Baru 2026 Terkendala Daya Beli dan STNK Only

https://mediahariini.com, JAKARTA — PT BRI Multifinance Indonesia atauBRI Finance menilai pertumbuhan pembiayaan mobil barupada akhir 2025 dan awal 2026 tidak bersifat agresif, karena masih terpengaruh oleh tantangandaya beli masyarakat dan kehati-hatian konsumen.

Meskipun demikian, Direktur Utama BRI Finance Wahyudi Darmawan menyatakan permintaan akan tetap ada, didorong oleh kebutuhan mobilitas, dominasi pembelian kendaraan melaluimultifinancedan program promosi yang ditawarkan oleh perusahaan pembiayaan.

“Oleh karena itu, BRI Finance melihat peluang tetap terbuka dengan strategi pertumbuhan yang selektif, fokus pada pelanggan berkualitas dan penguatan pengelolaan risiko guna menjaga kesehatan portofolio,” katanya kepadaBisnis, dikutip Rabu (10/12/2025).

Wahyudi menambahkan bahwa saat ini BRI Finance sedang mengamati perubahan minat pelanggan terhadap pembiayaanmobil bekasMenurutnya, masyarakat menginginkan pilihan yang lebih murah di tengah tekanan kemampuan beli.

Bagi mereka, tambahnya, mobil bekas dianggap memberikan nilai ekonomis dengan cicilan yang lebih terjangkau, sementara kebutuhan akan mobilitas tetap terpenuhi.

“Di samping itu, terdapat peningkatan minat terhadap segmen pembiayaan lain yang lebih bersifat defensif dan berbasis kebutuhan, sehingga perusahaan memilih untuk mengambil peluang tersebut dengan tetap memprioritaskan prinsip kewaspadaan dan kualitas portofolio,” ujar Wahyudi.

Selain itu, berdasarkan data terbaru perusahaan pada Oktober 2025, diketahui bahwa kontribusi pembiayaan mobil baru terhadap seluruh portofolio pembiayaan mencapai 22,17% dan yang paling mendominasi adalah kendaraan.fast moving.

BRI Finance mengadopsi prinsip kewaspadaan dalam mengevaluasi profil risiko calon debitur mobil baru dengan mempertimbangkan kemampuan pembayaran, riwayat kredit, serta ketetapan pendapatan debitur.

Analisis ini didukung oleh penggunaan data Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK OJK], penerapancredit scoring, dan penilaian terhadap rasio hutang terhadap penghasilan,” kata Wahyudi.

Selain itu, tambahnya, perusahaan juga mempertimbangkan sifat kendaraan yang dibiayai, uang muka (DP), serta jangka waktu pembiayaan. Langkah ini dilakukan agar risiko pembiayaan tetap dapat dikendalikan dan sesuai dengan kebijakan manajemen risiko perusahaan.

Selanjutnya, Wahyudi menjelaskan berbagai metode yang dilakukan perusahaannya untuk meningkatkan pendanaan mobil baru. Mulai dari memperkuat kerja sama dengandealerdan pihak agen pemegang merek (APM), menyusun program pendanaan yang kompetitif dan fleksibel, serta memaksimalkan saluran pemasaran digital untuk memperluas cakupan pelanggan.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya, BRI Finance melakukan diversifikasi portofolio pembiayaan dengan memperluas segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, serta segmen lain yang memiliki profil risiko yang lebih terkendali. 2. BRI Finance juga menerapkan strategi diversifikasi portofolio pembiayaan dengan memperluas cakupan segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, dan segmen pembiayaan lain yang memiliki risiko yang lebih dapat dikelola. 3. Dalam langkah berikutnya, BRI Finance mengembangkan diversifikasi portofolio pembiayaan dengan memperluas segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, serta segmen lain yang memiliki tingkat risiko yang lebih terkontrol. 4. BRI Finance juga melaksanakan diversifikasi portofolio pembiayaan dengan memperluas segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, dan segmen pembiayaan lain yang memiliki profil risiko yang lebih terkelola. 5. Selanjutnya, BRI Finance melakukan pengembangan portofolio pembiayaan melalui diversifikasi dengan memperluas segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, serta segmen pembiayaan lain yang memiliki risiko yang lebih dapat dikendalikan.

“Perluasan ini dilakukan guna mempertahankan keseimbangan pertumbuhan bisnis serta kualitas portofolio di tengah perubahan pasar,” tegas Wahyudi.

Setuju, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai bahwa diversifikasi portofolio, khususnya pembiayaan di sektor produktif dapat lebih ditingkatkan oleh perusahaan pembiayaan.

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno memberikan contoh perusahaanmultifinancenasabah yang telah selesai melakukan pembayaran dengan berakhirnya masa angsuran, dapat ditawarkan pembiayaan modal kerja dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).

Yang bisa dimanfaatkan adalah BPKB-nya, lebih baik dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman modal kerja.Ini adalah pengertian dari pinjaman modal kerja untuk sektor yang sangat kecil, yaitu UMKM dan segala sesuatu terkait,” katanya kepadaBisnissaat dihubungi pada Senin (8/12/2025) malam.

Oleh karena itu, Suwandi menganggap perusahaan pembiayaan memiliki banyak peluang untuk menawarkan pinjaman yang bersifat produktif kepada pelanggan mereka.

Di sisi lain, Direktur Utama Chandra Sakti Utama Leasing ini tidak menyangkal adanya perkiraan bahwa permintaan pembelian kendaraan pada tahun ini mengalami penurunan, karena kemampuan beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

“Namun, selain penurunan kemampuan beli, perusahaan pembiayaan juga sangat waspada dalam memberikan kredit kepada calon pembeli kendaraan. Karena banyaknya kegiatan atau tindakan yang membuat kami sangat khawatir,” ujarnya.

Misalnya, tambahnya, debitur tidak mampu membayar atau memang memiliki niat buruk sejak awal, sehingga saat masa kredit berlangsung, kendaraannya justru dijual hanya dengan menggunakan STNK saja.

“Nah, dengan demikian karena ketatnya kita menyetujui di tengah-tengah penurunan daya beli yang juga berlanjut dan segalanya, maka penjualan kendaraan sendiri juga volumenya menjadi agak sedikit terganggu,” tegas Suwandi.

Oleh karena itu, untuk prospek pembiayaan mobil baru pada tahun 2026 mendatang, APPI akan terlebih dahulu memperhatikan proyeksi yang dikeluarkan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Namun, dia berharap segera ada pengaturan atau penutupan saluran-saluran praktik penjualan kendaraan tanpa BPKB aliasSTNK Onlyseperti yang terdapat di platform Facebook, Instagram, YouTube, hingga TikTok.

Biarkan masyarakat juga menyadari bahwa tindakan jual beli kendaraan dengan STNKonlyini bersifat ilegal, lho. Jika [ditangani segera], maka kita mungkin bisa perlahan berkembang dan mulai membaik, itu harapan kita,” kata Suwandi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *