Pedagang nanas menjamur di jalur wisata Ciater, tetapi sepi pembeli

SUBANG, – Memasuki libur Nataru, penjual nanas di jalur wisata Ciater, Subang kembali menjamur.

Tak hanya penjual nanas, durian, manggis dan alpukat pun marak di jalur wisata Ciater-Lembang tersebut.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya jalur wisata Ciater sepi pedagang setelah penggusuran lapak/kios nanas yang dilakukan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dengan kompensasi ganti rugi Rp 5.000.000-Rp 10.000.000 per pemilik kios.

Sekalipun penjual nanas kembali marak di Jalur wisata Ciater, para pedagang mengeluhkan sepinya pembeli.

Ini sejalan dengan sepinya pengunjung atau wisatawan yang berwisata ke kawasan Ciater.

“Iya, musim Nataru tahun ini sangat sepi pembeli, sekalipun kita para pedagang sudah mengobral dagangan nanas madu yang kita jual seharga Rp 5.000 per buah,” ujar Neneng, salah seorang penjual Nanas di Ciater saat ditemui , Sabtu (27/12/2025)

Menurut Neneng, stok nanas di Subang sedang melimpah karena memasuki masa panen.

Akibatnya, nanas dijual sangat murah seharga Rp 5.000 per buah, bahkan ada yang menjual dengan harga Rp 10.000 per 3 buah nanas.

“Sehari laku 10-20 buah saja sudah untung, kendaraan wisatawan baik motor maupun mobil jarang berhenti menghampiri pedagang nanas,” katanya.

Imbas musim hujan

Neneng mengatakan, musim hujan juga jadi pengaruh menurunnya wisatawan berwisata ke kawasan Ciater, sehingga sangat berdampak pada pedagang nanas yang hanya bisa melamun meratapi dagangannya sepi pembeli.

“Mudah-mudahan, saat tahun baru nanti jalur wisata Ciater bisa di padati wisatawan dan berharap juga dagangan nanasnya laris manis banyak di beli wisatawan,” kata dia.

Hal senada dikatakan Dadang Kustiawan, penjual buah di kawasan tersebut. 

“Sangat sepi wisatawan untuk membeli nanas atau durian asli Subang yang saya jual di pinggiran jalan dikawasan Flora Wisata D’Castello ini,” ucapnya.

Menurut Dadang, menjamurnya pedagang nanas dan durian dikarenakan saat ini di Subang sedang musim nanas dan durian, sehingga banyak yang berjualan di jalan.

“Para pedagang ini berharap momen Nataru yang berbarengan dengan musim panen nanas dan durian bisa membawa berkah dengan banyak nya pembeli khususunya wisatawan, tetapi sayang sampai saat ini tak sesuai harapan,” kata dia. 

“Padahal Nanas yang kami jual sangat murah mulai dari Rp 5.000 per buahnya bahkan untuk durian juga murah mulai Rp 25.000 per buah, begitupun alpukat dijual Rp 25.000 perkilogram,” ucap dia.

Dadang menilai, sepinya pembeli karena menurunnya wisatawan yang berwisata ke kawasan Ciater, sehingga berdampak pada pedagang nanas yang tadinya berharap bisa meraup rezeki akhir tahun tapi malah sebaliknya sepi.

“Banyak obyek wisata baru di Subang ini, sehingga pengunjung atau wisatawan tercepat tidak seperti dulu terpusat di Ciater wisatawa, sekarang hampir setiap kecamatan di Ciater punya tempat wisata menarik yang bisa menjadi daya tarik bari masyarakat untuk berlibur di musim liburan Nataru akhir tahun ini,” katanya.

Dadang hanya bisa berharap, menjelang pergantian tahun nanti, dagangnya bisa laku terjual.

“Kami para pedagang ini baru berjualan sekitaran awal Desember lalu, setelah sama tak berjualan akibat penggusuran lapak atau kios dan sekarang berdagang dengan cara ngampar, tanpa tenda maupun kios, bahkan ada yang pakai mobil kol buntung atau pikap,” kata Dadang. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *