Pasar daur ulang baterai EV China melonjak, nilainya tembus Rp 1.300 triliun

.CO.ID, JAKARTA — Industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China memasuki fase baru. Bukan hanya digenjotnya penjualan mobil listrik, melainkan juga ledakan bisnis daur ulang baterai yang kini menjadi salah satu penopang utama rantai pasok otomotif global.

Data Institut Penelitian Industri Qianzhan menunjukkan, nilai pasar daur ulang baterai EV di China telah mencapai 558 miliar yuan atau setara 78 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.302,6 triliun). Angka ini mencerminkan besarnya volume baterai bekas kendaraan listrik yang mulai memasuki masa akhir pakai, seperti dikutip dari Carnewschina, Rabu (31/12/2025).

Bacaan Lainnya

Tak hanya itu, nilai ekonomi dari bahan baterai hasil daur ulang bahkan lebih besar. Sepanjang periode yang sama, penjualan material baterai daur ulang mencapai 647 miliar yuan atau sekitar 90 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.503 triliun). Ini menegaskan bahwa sektor daur ulang bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari ekosistem EV.

Dua jalur daur ulang baterai

Secara umum, daur ulang baterai EV di China berjalan melalui dua jalur utama. Pertama, pemanfaatan berjenjang (cascade utilization), yakni penggunaan kembali baterai bekas untuk aplikasi sekunder seperti penyimpanan energi. Kedua, daur ulang material, yaitu pemulihan logam dan material bernilai seperti litium, nikel, dan kobalt.

Kedua jalur tersebut membentuk rantai industri yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan baterai bekas, pemrosesan, hingga pemanfaatan kembali material di sektor hilir industri otomotif dan energi.

Rantai nilai daur ulang baterai di China melibatkan banyak pemain besar. Di sektor hulu terdapat produsen baterai dan pemasok bahan baku seperti CATL, BYD, Shanxi Coking, dan Yunnan Tin. Sementara di sektor menengah, perusahaan seperti Huayou Cobalt, Ganfeng Lithium, New Energy Times, dan Haopeng Technology fokus pada pemurnian dan pemrosesan kimia.

Di hilir, perusahaan material baterai dan metalurgi serbuk seperti Dangsheng Technology dan Heyuan Fuma memanfaatkan kembali material hasil daur ulang untuk kebutuhan industri otomotif dan energi.

Kapasitas dan skala industri

Hingga 2024, pemerintah China mencatat terdapat 156 perusahaan yang berlisensi melakukan pemanfaatan komprehensif baterai lithium-ion bekas. Total kapasitas pengolahan nominal perusahaan-perusahaan tersebut mencapai 423,3 juta ton per tahun.

Untuk segmen baterai timbal-asam, terdapat 71 perusahaan berlisensi dengan kapasitas pengolahan gabungan mencapai 1,47 miliar ton per tahun. Skala ini menunjukkan kesiapan industri China menghadapi lonjakan baterai EV yang memasuki masa pensiun.

 

Dari sisi pendapatan, penjualan bahan daur ulang baterai lithium menghasilkan sekitar 220 miliar yuan atau setara 31 miliar dolar AS (sekitar Rp 517,7 triliun) pada 2024. Sementara penjualan timbal daur ulang mencapai 427 miliar yuan atau sekitar 59 miliar dolar AS (sekitar Rp 985,3 triliun).

Secara total, nilai penjualan bahan baterai daur ulang menembus sekitar 90 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.503 triliun). Angka ini berbeda dengan nilai baterai bekas yang dikumpulkan, karena mencerminkan nilai tambah setelah proses pemurnian.

Dari sisi kapasitas, Bangpu Recycling dan CATL masing-masing menguasai sekitar 6,4 persen dari total kapasitas daur ulang baterai lithium yang diakui pada 2024. GEM menyusul dengan sekitar 5,9 persen, diikuti Ganfeng Lithium dan Xien Recycling dengan porsi masing-masing sekitar 4,7 persen.

Secara geografis, industri daur ulang baterai terkonsentrasi di provinsi Jiangxi, Guangdong, Zhejiang, dan Anhui. Wilayah-wilayah ini dikenal sebagai pusat manufaktur baterai dan material otomotif China.

Dorongan regulasi pemerintah

Perkembangan industri ini juga ditopang kebijakan pemerintah. Pada Februari 2025, Dewan Negara China menyetujui rencana aksi nasional untuk sistem daur ulang baterai EV. Kebijakan tersebut menekankan pengumpulan terstandarisasi, peningkatan ketelusuran, serta pengetatan pengawasan guna menekan praktik daur ulang informal.

Langkah ini diharapkan menciptakan industri daur ulang yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan.

Ke depan, nilai industri ini diperkirakan terus melonjak. Qianzhan memproyeksikan pasar daur ulang baterai di China akan melampaui 1.000 miliar yuan atau sekitar 139 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.321,3 triliun) pada 2030.

Pada periode yang sama, nilai penjualan bahan baterai daur ulang diprediksi menembus 2.000 miliar yuan atau sekitar 278 miliar dolar AS (sekitar Rp 4.642,6 triliun). Proyeksi ini menempatkan daur ulang baterai sebagai salah satu pilar utama industri kendaraan listrik dan rantai pasok bahan baku global di akhir dekade.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *