Pasangan Korban Kecelakaan Simpang Susun Krapyak Dimakamkan Bersama

, KLATEN– Jenazah Yanto (47) dan Listiana (44) dikuburkan dalam satu liang di kampung halaman mereka di Klaten, Selasa (23/12/2025).

Pasangan suami istri tersebut merupakan dua dari 16 korban yang meninggal dalam kecelakaan tunggal bus Cahaya Trans di Simpang Susun Krapyak, Jalan Tol Dalam Kota Semarang, Senin (22/12/2025).

Bacaan Lainnya

Upacara pemakaman di Dukuh Dosaran, Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, pada siang hari Selasa berlangsung dengan penuh perasaan.

Kedua mayat dimakamkan di dalam satu lubang.

Pemakaman yang dimulai pukul 13.00 dihadiri oleh ratusan orang yang datang untuk menghormati.

Saat peti jenazah keduanya dibawa ke mobil ambulans, keluarga mulai menangis dengan hancur.

Sampai tiba di lokasi pemakaman, cucu kedua korban masih terus menangis di tengah kegiatan penggalian kubur.

Meskipun dikuburkan di dalam satu lubang, makam di permukaan dibuat menjadi dua tumpukan.

Kedua makam berdiri berdampingan.

Kepala Desa Kalikebo, Purwanto mengungkapkan, kedua korban adalah penduduk asli desanya.

Keduanya adalah pasangan suami istri sehingga dikuburkan dalam satu liang.

“Pemakaman dilakukan dalam satu liang karena kondisi semua orang,” kata Purwanto kepada wartawan di lokasi, Selasa (23/12/2025).

Sebelumnya, bus Cahaya Trans mengalami kecelakaan tunggal di Simpang Susun Krapyak, Tol Dalam Kota Semarang, Senin (22/12/2025) pagi.

Setidaknya 16 orang tewas dan belasan lainnya mengalami cedera akibat kecelakaan tersebut.

Ayah-anak

Sehari sebelumnya, pada sore hari Senin, jenazah pasangan suami istri korban kecelakaan di Simpang Susun Krapyak dikuburkan di Boyolali.

Penguburan jenazah Sugimo (62) beserta putranya, Aris Munandar (36), dilaksanakan di Dukuh Gotakan, Desa/Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.

Tidak lama setelah tiba dari Semarang, jenazah diadakan salat, lalu segera dibawa ke tempat pemakaman umum desa yang tidak terlalu jauh dari rumah duka.

Keduanya dikuburkan dalam satu liang kubur yang sama.

Kepala Dusun II Desa Banyudono, Waity Maradona menyampaikan bahwa sehari-hari Sugimo tinggal bersama putra pertamanya.

Dua korban bersama tiga kerabat lainnya berangkat ke Jakarta untuk mengunjungi keluarga mereka yang baru saja melahirkan. Dari lima orang tersebut, selain dua korban, dua keluarga lainnya dilaporkan juga meninggal dalam kecelakaan,” ujar Waity, Senin.

Karena mereka adalah ayah dan anak, masyarakat sepakat untuk menguburkan keduanya dalam satu liang lahat.

“Mas Anis Munandar diketahui masih lajang, sementara ayahnya telah kehilangan istrinya,” ujar Waity.

“Mereka dikenal sebagai penduduk yang baik. Tuan Gimo ini biasa bekerja sebagai petani, sementara Mas Anis sering membantu dalam urusan catering,” tambahnya.

Selain Sugimo dan Anis, dua korban meninggal lainnya juga berasal dari Boyolali.

Mereka adalah Wahyu Eko Utomo (29), penduduk Sikepan, Ngagrong, Kecamatan Gladagsari, dan Ngatiyem (48), penduduk Metuk, Kecamatan Mojosongo.

“Kami menerima informasi pagi ini dari Jasa Raharja bahwa dua warga kami menjadi korban kecelakaan di Tol Semarang. Mereka adalah ayah dan anak, yaitu Sugimo dan Anis Munandar,” kata Kepala Desa Banyudono, Dwi Tanto, Senin.

Ibu-anak

Di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dua korban kecelakaan di Simpang Susun Krapyak dikebumikan pada Senin sore.

Dua korban, Endah (48 tahun) dan putrinya, Mutia (19 tahun), adalah warga Dusun Kebur Lor, Kalurahan Argomulyo, Cangkringan, Sleman.

Dalam kecelakaan tersebut, satu korban, yaitu Purwoko (50), suami Endah, selamat dengan cedera pada punggung.

Tidak lama setelah jenazah diadakan salat, Purwoko tiba menggunakan minibus.

Perjalanan terhambat, matanya merah, sesekali berhenti untuk menyesuaikan langkah.

“Kuat, kuat, aku kuat,” bisiknya, didukung oleh warga yang membantunya berdiri.

Purwoko menolak untuk diangkat. Ia tetap ingin berjalan sendiri menuju rumah, tempat istri dan anaknya sedang disemayamkan.

Pukul 17.58, sesaat setelah adzan maghrib, dua peti mati dilepas.

Endah dan Mutia dikuburkan di dalam satu kuburan.

Mutia terkenal ceria dan memiliki prestasi.

Di kampusnya, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, dia mendapatkan IPK terbaik pada semester kedua. Dia juga aktif berpartisipasi dalam olahraga taekwondo.

“Mutia anak yang cerdas, termasuk mahasiswi berprestasi,” kata Kepala Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta, Bambang Suwerda.

Kepala Bagian Pelayanan Jasa Raharja Kantor Wilayah Yogyakarta, Septian Gunawan, memastikan bantuan sebesar Rp 50 juta disampaikan kepada setiap korban.

Uang dikirim langsung ke rekening penerima warisan, yaitu Purwoko.

“Target pencairan dalam 2×24 jam, jika berkas sudah lengkap kami segera proses,” katanya.(Tribunsolo.com/Tribunjogja)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *