Pariwisata Lembang bangkit dari keterpurukan: Libur Nataru bawa ribuan pengunjung

PIKIRAN RAKYAT – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 membawa angin segar bagi sektor pariwisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bacaan Lainnya

Pasalnya, kawasan wisata yang sempat lesu akibat kebijakan larangan study tour serta efisiensi anggaran kegiatan pemerintah, kini kembali dipadati wisatawan dari berbagai daerah.

Bagi pelaku usaha, lonjakan kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar keramaian musiman. Nataru dinilai sebagai titik awal pemulihan ekonomi setelah berbulan-bulan mengalami penurunan drastis akibat pembatasan kegiatan luar sekolah dan instansi pemerintahan sebelumnya berdampak langsung pada pendapatan hotel, restoran, hingga pengelola destinasi wisata.

Pantauan “PR” pekan ketiga di Senin, 29 Desember 2025, geliat pariwisata mulai terasa. Arus kendaraan menuju Lembang meningkat, antrean kendaraan terlihat di sejumlah objek wisata, sementara aktivitas jual beli di kawasan kuliner kembali menggeliat.

Momentum libur panjang ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha di kawasan Lembang untuk menutup defisit pendapatan yang terjadi sepanjang tahun.

Salah satu destinasi yang kembali dipadati pengunjung adalah Floating Market Lembang. Objek wisata keluarga tersebut ramai oleh wisatawan yang menikmati wahana air, kuliner khas, hingga permainan anak. Keramaian ini membawa dampak berantai bagi pedagang, operator wahana, serta pekerja harian yang menggantungkan penghidupan dari sektor pariwisata.

Di antara wisatawan, Dina (19), pengunjung asal Tangerang Selatan, Banten, memilih Lembang sebagai tujuan liburan bersama keluarganya. Meski telah berkali-kali berkunjung, Lembang tetap memberikan pengalaman berbeda.

“Ke Lembang sudah sering, mungkin lebih dari lima kali. Sekarang liburan bareng keluarga,” ujar Dina saat ditemui, Senin, 29 Desember 2025.

Pada liburan kali ini, Dina untuk pertama kalinya menjajal Floating Market. Ia tertarik dengan konsep wahana yang bisa dinikmati semua usia, mulai dari kereta danau hingga kuliner apung yang menjadi ciri khas destinasi tersebut.

“Tadi naik kereta dulu, terus keliling dan coba kuliner apungnya. Unik karena belinya pakai koin,” katanya.

Menurut Dina, udara sejuk dan ragam pilihan wisata menjadi alasan Lembang selalu menarik untuk dikunjungi kembali. Daya tarik inilah yang dinilai pelaku usaha sebagai kekuatan utama pariwisata Lembang.

“Udaranya sejuk, tempatnya banyak, rasanya enggak bikin bosan,” ucapnya.

Upaya inovasi juga terus dilakukan pengelola destinasi untuk menjaga minat kunjungan. Public Relations Floating Market Lembang, Intania Setiati, menyebutkan pihaknya rutin menghadirkan wahana baru di tengah ketatnya persaingan pariwisata.

Salah satunya adalah kereta danau dengan lintasan sekitar satu kilometer yang mengelilingi kawasan danau, melewati saung, taman, kolam ikan, kampung leuit, pasar apung, hingga area permainan anak. Selain itu, tersedia pula perahu wisata bergaya Lamborghini.

“Total wahana di Floating Market ada sekitar 15 sampai 20, mulai dari perahu bajak laut, flying fox, rainbow slide, ATV, gokart, sampai taman tematik. Wahana air masih paling diminati,” jelas Intania.

Pemulihan juga terasa signifikan di sektor akomodasi. Sejumlah hotel dan penginapan di Lembang yang sebelumnya mencatat okupansi rendah, kini kembali mengalami peningkatan.

General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Sapto Wahyudi, mengatakan sejak 19 Desember 2025 tingkat hunian kamar meningkat bertahap hingga 20–30 persen, bahkan mencapai penuh pada puncak libur Natal.

“Sejak tadi malam sampai malam ini, kamar full okupansi,” ungkapnya.

Tak hanya hotel, kunjungan ke wisata pendukung seperti outbound, kuliner, hingga Hutan Mycelia di kawasan TWGC juga melonjak sekitar 30–35 persen dibandingkan akhir pekan biasa.

Peningkatan ini turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar. Bahkan, Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bandung Barat memperkuat tren positif tersebut.

Kepala Bidang Pariwisata Disparbud KBB, David Oot menyampaikan, bahwa dari total 307 hotel dan penginapan di wilayah KBB, seluruhnya melaporkan peningkatan pemesanan kamar selama libur Nataru, meski dengan persentase yang bervariasi.

“Okupansi naik antara 10 sampai 40 persen, dan kami memprediksi masih akan bertambah hingga akhir masa liburan,” kata David.

Dijelaskan David, dengan 159 daya tarik wisata terdiri atas 91 wisata alam, 19 wisata budaya, dan 49 wisata buatan serta ratusan restoran dan pelaku UMKM, Lembang perlahan bangkit dari tekanan kebijakan dan perlambatan kunjungan.

“Libur akhir tahun ini pun menjadi harapan baru bagi pelaku pariwisata untuk memulihkan ekonomi lokal sekaligus menatap tahun mendatang dengan optimisme yang lebih kuat,” katanya menandaskan. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *