Gereja Katolik, sejak Konsili Vatikan II (1962–1965), telah mengalami perubahan signifikan dalam pandangan terhadap agama-agama lain. Salah satu prinsip utama yang muncul adalah “Extra Ecclesiam Nulla Salus” (di luar gereja tidak ada keselamatan) yang kini ditinggalkan. Gereja Katolik kini lebih menekankan penghargaan terhadap kebenaran dan kebaikan yang terdapat dalam agama-agama lain, termasuk agama Hindu.
Dalam bukunya “Iman dan Hati Nurani”, Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno menyatakan bahwa Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan datang melalui Yesus, tetapi Roh Kudus juga bekerja di luar batas-batas gereja. Dengan demikian, orang-orang dari agama lain, termasuk agama Hindu, dapat diselamatkan jika mereka hidup sesuai dengan suara hati mereka. Hal ini didasarkan pada dokumen Lumen Gentium 16 yang menyatakan bahwa orang-orang di luar umat Katolik dapat diselamatkan asalkan mereka berusaha hidup menurut suara hati mereka.
Nostra Aetate, salah satu dokumen penting dari Konsili Vatikan II, menjelaskan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama lain. Dokumen ini secara khusus memuji Islam dan mengakui bahwa agama-agama lain juga memiliki nilai-nilai spiritual yang berasal dari rahmat Allah. Dalam konteks agama Hindu, Nostra Aetate menyatakan bahwa Gereja menghargai cara hidup dan ajaran yang mencerminkan pancaran kebenaran yang menerangi semua manusia.
Agama Hindu memiliki beberapa kesamaan dengan teologi Kristen, terutama dalam konsep ketuhanan. Trinitas dalam agama Kristen, yang terdiri dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sering kali dibandingkan dengan Trimurti dalam agama Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Meskipun terdapat perbedaan mendasar dalam keyakinan tentang surga, neraka, dan reinkarnasi, Gereja Katolik tetap mengakui adanya nilai-nilai spiritual yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi umat Katolik.

Selain itu, Gereja Katolik menekankan pentingnya dialog antaragama sebagai bentuk kasih dan saling pengertian. Melalui dialog, Gereja berupaya untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan saling menghidupkan. Dalam terang Nostra Aetate, perintah Yesus untuk “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” meluas melampaui batas agama, sehingga dialog menjadi jalan untuk menghidupi kasih Kristus secara nyata di tengah masyarakat majemuk.
Dengan semangat persaudaraan, Gereja Katolik mengulurkan tangan kepada semua agama, percaya bahwa di balik perbedaan, terdapat satu kasih yang sama: kasih Allah yang menyatukan seluruh umat manusia. Dengan demikian, pandangan Gereja Katolik terhadap agama Hindu tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga spiritual, memberikan dasar untuk pembangunan perdamaian dan kerja sama lintas iman.







