Pameran arsip ‘Beyond the Notes – Andi Bayou’ ajak merenung

Rumah Tua yang Menyimpan Jejak Kreatif Andi Bayou

Di sebuah sudut yang tenang, tidak jauh dari Museum Diponegoro, berdiri sebuah rumah tua yang kini berubah menjadi museum. Di sana tersimpan kisah panjang seorang musisi yang memilih pulang setelah puluhan tahun berkelana di industri musik nasional. Di rumah inilah, Pameran Arsip Beyond The Notes – Andi Bayou digelar selama empat hari awal Desember lalu.

Pameran ini bukan hanya sekadar memamerkan benda-benda, tetapi juga mempertemukan manusia dengan bunyi, kenangan, dan perjalanan batin di balik proses kreatif seorang musisi. Pengunjung tidak hanya melihat alat musik, catatan lirik, atau pita rekaman yang mulai memudar. Mereka serasa diajak masuk ke ruang terdalam seorang musisi. Ada kegelisahan yang terekam dalam catatan, ada pencarian yang terjaga dalam rekaman, ada kerja panjang yang mengendap di balik setiap nada.

Bacaan Lainnya

Di sebuah meja kayu tua, benda-benda milik keluarga tersusun rapi. Piano antik peninggalan nenek, yang usianya lebih dari seabad, berdiri sebagai saksi pertama perjalanan musikal Andi Bayou. “Ini sangat monumental. Dengan piano ini juga saya belajar bermain,” ujarnya sambil menyentuh tuts yang masih berfungsi dengan baik.

Di sampingnya, terpajang keyboard dan gitar yang pernah dipakai mengisi rekaman Sheila on 7 dan Kangen Band, potongan lirik tulisan tangan, hingga piagam dan piala dari masa remajanya ketika ia masih aktif sebagai atlet bulutangkis. Ada juga kaset dengan tulisan tangan, foto studio era sembilan puluhan, dan surat-surat pribadi—semuanya menyimpan jejak pergulatan seorang anak dari keluarga dokter yang memilih jalan berbeda.

Jejak Kreatif yang Panjang

Andi Bayou, dengan nama lengkap Raden Andi Haryo Setiawan, lahir dari keluarga akademisi medis. Banyak yang menduga ia akan meneruskan tradisi besar itu. Namun ia justru memilih jalan sunyi menuju musik. Keputusan untuk hijrah ke Jakarta pada usia muda menjadi titik awal perjalanan yang kemudian menempatkannya di barisan penting para penggerak musik Indonesia.

Dari band Bayou yang mencuri perhatian pada era sembilan puluhan, hingga keterlibatannya dalam produksi album-album musisi besar seperti Iwan Fals, Sheila on 7, Judika, Nicky Astria, Agnez Mo, dan banyak jebolan ajang pencarian bakat nasional, jejak panjang itu tidak pernah lepas dari kerja keras yang tidak banyak diketahui publik.

Tetapi pameran ini tidak ingin sekadar mengabarkan deretan sukses. Ia ingin membuka ruang untuk melihat sisi lain—ruang batin yang mengiringi proses kreatif seorang seniman.

Dalam pameran yang berkolaborasi dengan Program Studi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta ini, Dr. Mikke Susanto menyebut karya-karya Andi Bayou sebagai “jejak batin, sebuah doa”. Sebuah ungkapan yang menemukan bentuknya begitu pengunjung melihat langsung instrumen yang menua bersama perjalanan, master rekaman yang melewati lintas waktu, dan catatan harian yang mencatat titik-titik perubahan hidup sang musisi.

Perjalanan musikal Andi telah membawanya ke panggung global. Ia pernah dua kali diundang ke kantor pusat Roland di Hamamatsu, Jepang, dan menghadiri pameran musik berskala dunia seperti Frankfurt Musikmesse dan NAMM Show di Anaheim, Amerika Serikat.

Namun seperti nada yang kembali kepada akarnya, Andi memilih pulang. Ia kembali ke Yogyakarta untuk menemukan makna baru tentang musik, tentang kesunyian, tentang ketulusan, dan tentang menata ulang hubungan dengan dirinya sendiri.

Dari kesadaran itu, lahir Andi Bayou Museum—museum musik pribadi pertama di Indonesia yang hadir dari prakarsa seorang seniman.

Museum yang Hidup

Museum ini tidak sekadar memamerkan benda. Ia hidup. Di dalamnya ada studio rekaman interaktif yang membuat pengunjung merasakan bagaimana sebuah lagu terbangun. Ada ruang pertunjukan kecil bagi musisi muda yang ingin belajar. Ada zona edukasi yang memetakan perjalanan musik Indonesia dari waktu ke waktu.

Pada salah satu dinding, sebuah kutipan Andi menyambut setiap orang yang datang: “Musik bukan hanya tentang nada. Ia adalah perjalanan, tentang bagaimana manusia menemui dirinya di antara bunyi, waktu, dan ketulusan.”

Pengunjung yang keluar dari museum ini biasanya membawa lebih dari sekadar pengetahuan baru. Mereka membawa renungan tentang pencarian, tentang jatuh bangun dalam proses kreatif, tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, dan tentang pulang pada rumah yang sesungguhnya: diri sendiri.

Pameran ini mendapat apresiasi luas dari para tokoh permuseuman, seniman, dan pemerhati budaya. Hadir dalam pembukaan antara lain Ketua Barahmus DIY Hajar Pamadhi, Penasihat Barahmus Budiharjo, Sekretaris Barahmus Asroni, Ketua Forum Museum Bantul yang juga Kepala Museum HM Soeharto Gatot Nugroho, serta Ketua Forum Museum Sleman Nanang Dwinarto.

Sejumlah tokoh lain juga hadir, seperti Wakil Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Ki Bambang Widodo, perwakilan Dinas Kebudayaan Bantul Devi Puspitasari, penyanyi jazz Iga Mawarni, maestro musik Singgih Sanjaya, Memet Chairul Slamet, maestro lukis Hani Santana, dan Eddy Sulistyo.

Semua yang datang seakan sepakat bahwa arsip dalam museum ini bukan sekadar kumpulan benda, melainkan cermin kehidupan seorang musisi yang terus bergerak, tumbuh, dan melampaui nada—beyond the notes.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *