Ringkasan Berita:
- Orang utan terlihat di tepi jalan Kutai Timur, terekam sedang duduk santai dan diberi pisang oleh pengendara, video tersebut menjadi viral di media sosial.
- Netizen terpecah pendapat, sebagian merasa prihatin akibat kerusakan habitat, sebagian lainnya khawatir perilaku diberi makan oleh manusia dapat membahayakan hewan.
- Tim BKSDA Kaltim akan turun untuk melakukan pemantauan dan mungkin evakuasi, agar orangutan dapat tetap hidup mandiri di lingkungan alaminya.
Seorang kera orang utan terlihat turun hingga ke tepi jalan di wilayah Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim).
Video ini diunggah oleh akun Facebook Noorwansyah Tri Satrio dan akhir-akhir ini menjadi topik yang banyak dibicarakan di media sosial.
Di dalam video tersebut, seekor orang utan yang berukuran cukup besar terlihat duduk dengan tenang di tepi jalan. Beberapa pengemudi yang melintas tampak berhenti dan memberikannya pisang.
Tayangan tersebut kemudian diunggah kembali oleh akun Instagram @ussfeeds dan telah mendapatkan 19,5 ribu suka.
Sebuah video yang diunggah oleh akun Facebook Noorwansyah Tri Satrio baru-baru ini menjadi perbincangan di media sosial. Isi videonya menampilkan seekor Orang Utan berukuran besar turun hingga ke tepi jalan di wilayah Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Dalam rekaman tersebut, Orang Utan tampak tenang duduk di sisi jalan, sementara pengemudi yang lewat berhenti dan memberikannya pisang,” tulis @ussfeeds sebagaimana dilaporkan, Rabu (17/12/2025).
Netizen secara aktif memberikan respons.
Beberapa orang menganggap munculnya Orang Utan di jalan berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup, sehingga hewan liar terpaksa mendekati daerah kegiatan manusia guna mencari makanan.
“Karena habitatnya rusak, hewan lucu yang tidak bersalah ini terkena dampaknya. Oleh karena itu, dia turun ke jalan, dan terima kasih kepada yang sudah memberinya makan,” kata warganet.
Namun, ada pula yang memperingatkan bahwa memberi makan hewan liar di tepi jalan dapat berisiko mengancam keselamatan hewan tersebut akibat kemacetan lalu lintas kendaraan.
“Jika terbiasa memberikan seperti itu, dia akan menjadi biasa di tepi jalan, berbahaya bagi keselamatannya karena banyak kendaraan yang melintas,” tulis warganet lainnya.
Kata BKSDA
Seorang kera besar berjalan di sepanjang Jalan Poros Bengalon – Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur dan terlihat seseorang memberi makanan berupa pisang kepada kera tersebut.
Setelah diverifikasi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ari Wibawanto mengakui telah menanggapi kejadian tersebut.
Di mana, pihaknya telah mengirimkan tim sebanyak 4 orang dan akan didukung oleh Pusat Penyelamatan Satwa Longsam dari Kabupaten Berau.
Saat ini, pihak terkait masih belum memperoleh informasi pasti mengenai tempat munculnya Orang Utan tersebut.
“Kita akan melihat hasil pemantauan teman-teman yang pergi ke sana. Tapi kemungkinan besar kita akan melakukan evakuasi. Pilihannya apakah nanti translokasi atau penyelamatan, kita lihat dari kondisi kesehatan,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Berdasarkan analisisnya, orangutan yang berjalan di tepi Jalan Poros Bengalon – Kaliorang diduga merupakan jenis kelamin jantan desawa, yang mana ciri khas orangutan jantan dewasa adalah memiliki naluri turun dari pohon untuk menjelajahi dan mencari makanan.
Ternyata hutan yang terletak di kawasan Jalan Poros Bengalon – Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur menjadi tempat tinggal alami dari klaster tiga dan empat Orang Utan Morio.
Menurutnya, Orang Utan itu turun ke jalan karena kebiasaan masyarakat yang sering melintas dan peduli terhadap satwa, sehingga memberi makan menjadi hal yang biasa bagi Orang Utan.
“Jika orangutan Morio termasuk dalam kategori orang utan yang cerdas. Jadi, berdasarkan pengalaman mereka diberi makan, serta pengalaman mereka menyukai pemberian makanan, mereka akan terbiasa melihat manusia atau mendekati manusia,” katanya.
Sebenarnya, jika Orang Utan diberi makan oleh manusia, hal tersebut justru dapat mengurangi naluri alaminya untuk mencari makan di hutan, sehingga menjadi kebiasaan buruk dan tergantung pada makanan yang diberikan manusia.
“Nanti dampaknya mereka, Orang Utan itu tidak mampu mencari makan di hutan,” ujarnya. (*)






