ORANG Utan Tapanuli menjadi salah satu sorotan pasca-bencana banjir Sumatera. Salah satu titik terparah bencana itu terungkap disumbang oleh kerusakan hutan di ekosistem Batang Toru yang selama ini dikenal sebagai habitat satwa endemik tersebut.
Orang Utan Tapanuli dideskripsikan pertama kali sebagai spesies yang berbeda dari Orang Utan Sumatera maupun Kalimantan pada 2017 dan kini berstatus satwa dilindungi karena jumlah populasinya yang tergolong kritis. Temuan terbaru mengungkap bahwa Pongo tapanuliensis ini juga hidup di luar Batang Toru.
Orang Utan Tapanuli terlihat hidup di hutan sekunder di Desa Lumut Maju, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang berjarak 32 kilometer jauhnya dari hutan Batang Toru. Berjumlah tak sampai 100 individu, populasi Orang Utan Tapanuli di hutan rawa gambut ini bukan berarti lebih aman dibandingkan di Batang Toru.
Direktur Eksekutif Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YSOL-OIC) Syafrizaldi Jpang mengatakan hutan rawa gambut di Lumut Maju rentan terhadap perubahan tata guna lahan karena statusnya tidak dilindungi. Pada 2025 saja, dia mengungkapkan, hutannya tersisa kurang dari 1.000 hektare dari yang pernah diperkirakan 1.234 hektare saat keberadaan orang utan dilaporkan di sana tiga tahun sebelumnya.
Menurut Syafrizaldi, sebagian besar bentang alam di Lumut Maju telah dibuka. Petak-petak lahan kosong membentang di atas wilayah yang dulunya adalah hutan lebat. “Masyarakat lokal dan perusahaan kelapa sawit membuka lahan untuk perkebunan,” katanya saat dihubungi pada Senin, 22 Desember 2025.
Tak hanya rentan karena perubahan tata guna lahan, Syafrizaldi menambahkan, populasi Orang Utan Tapanuli di Lumut Maju juga terisolasi. “Mereka tak terhubung dengan hutan manapun,” katanya sambil juga menyebutkan setidaknya dibutuhkan 250 individu untuk membentuk populasi orang utan yang berkelanjutan (lestari).
Padahal, kata Syafrizaldi lagi, temuan habitat baru Orang Utan Tapanuli di Lumut Maju membuka potensi baru keberlangsungan spesies ini. Apalagi jika kelompok ini membawa sifat genetik yang unik, “kelompok orang utan ini bisa berperan sebagai cadangan genetik kritis untuk kelangsungan jangka panjang orang utan Tapanuli.”
Temuan Baru di Luar Batang Toru
Temuan ini berawal dari dokumentasi seekor induk dan bayi orang utan oleh tim dari Yayasan Orangutan Sumatera Lestari pada September 2025. Tim itu sendiri sudah menyorot area rawa gambut tersebut sejak penduduk setempat melaporkan penampakan orang utan kepada Unit Tanggap Konflik Manusia-Orangutan (HOCRU) pada 2022 lalu.
Untuk memastikan isi laporan tersebut, tim segera bertolak dan melakukan penelitian. Awalnya, mereka tidak menemukan keberadaan orang utan yang dimaksud, namun mereka mendapati lima sarang. Pemantauan lebih lanjut juga nihil memndapati orang utan tapi temuan sarang bertambah menjadi 17, dan beberapa terlihat baru dibuat.
Barulah antara 2023 dan 2024, survei gabungan YOSL-OIC dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Sumatera Utara mencatat beberapa orang utan di hutan rawa gambut Lumut Maju. Tatap muka pertama terjadi pada Oktober 2024, ketika para peneliti melihat seekor orang utan jantan.
Orang utan Tapanuli di Blok Hutan Umut terekam kamera pada September 2025 oleh Tim Orangutan Information Centre (OIC). Dok. OIC/Syafrizaldi Jpang
Untuk memastikan spesies orang utan itu, peneliti mengumpulkan sampel kotoran pada Januari 2025 dan mengirimkannya untuk uji DNA. “Hasilnya, spesimen tersebut positif Orang Utan Tapanuli,” kata Syafrizaldi.
Menurut dia, citra drone termal dan survei darat juga menunjukkan adanya tanda pergerakan di petak-petak hutan terdekat. Analisis perilaku makan menambah lebih banyak petunjuk tentang bagaimana spesies ini beradaptasi dengan lingkungannya. Di Lumut Maju, Syafrizaldi menerangkan, “Orang utan sebagian besar memakan buah-buahan dari pohon-pohon seperti Syzygium muelleri, Tetramerista glabra, Artocarpus elasticus, dan Campnosperma coriaceum.”







