, JAKARTA – Perkembangan nilai tukar mata uang kuat di dunia (hard currencies), khususnya dolar Amerika Serikat (AS), terus menjadi pemantauan pelaku pasar sejak awal 2025 dan pada 2026 ini.
Data dari sebuah portal bank investasi berbasis di AS mencatat bahwa nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lain turun sekitar 11% pada paruh pertama 2025, penurunan terbesar dalam lebih dari 50 tahun, sekaligus mengakhiri siklus bullish 15 tahun.
Bank investasi tersebut memperkirakan mata uang AS bisa kehilangan 10% lagi pada akhir 2026. Dampak kenaikan tarif bea masuk barang-barang impor ke pasar AS selain ketidakpastian kebijakan kemungkinan akan terus menekan dolar AS. Para pelaku pasar keuangan global sepertinya tengah “menghukum” dolar AS setelah pemerintahan AS di bawah Donald Trump mengguncang dunia dengan kebijakan tarif yang dinilai kontroversial. Para investor asing kini telah menambahkan lindung nilai ke eksposur mereka terhadap aset berdenominasi AS, yang kemungkinan akan semakin melemahkan dolar AS. Terbukti, dolar AS mengakhiri paruh pertama 2025 lalu dengan kerugian terbesar sejak 1973. Indeks dolar AS, yang mengukur mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama AS, turun sekitar 11% dari Januari hingga akhir Juni.
Penurunan tersebut juga menandai akhir dari siklus bullish struktural untuk dolar AS, yang dimulai pada 2010 dan berakhir pada 2024 dengan akumulasi kenaikan sekitar 40 persen.
Meskipun dolar AS sempat menguat 3,2% pada Juli 2025, hal yang memulihkan sebagian dari depresiasi dolar AS tahun lalu, tetapi penurunan nilai tukar dolar AS diperkirakan berlanjut, menambah kisaran kerugian 10% lagi pada akhir 2026.
DAMPAK DEPRESIASI
Depresiasi mata uang AS dapat berdampak signifikan bagi konsumen, pebisnis, investor, dan pada akhirnya untuk ekonomi secara keseluruhan. Faktanya, akan terasa lebih mahal bagi orang AS untuk bepergian ke luar negeri. Aset dengan denominasi AS bisa kurang menarik bagi investor asing. Harga impor bisa naik, memberi tekanan pada inflasi AS. Namun, di sisi positifnya, dolar AS yang lebih lemah bisa menjadi dorongan bagi barang-barang ekspor buatan AS.
Pada awalnya menyeruak potensi penguatan dolar AS setelah Donald Trump ditetapkan sebagai Presiden AS di penghujung 2024 lalu. Konsensus yang terbentuk pada waktu itu adalah fase ekspansi ekonomi yang kuat dimulai, arus modal masuk berkelanjutan dan kinerja korporasi lebih baik dari ekuitas AS dan dolar AS. Namun, pandangan itu berubah frontal pada April silam pasca-pengumuman tentang penyesuaian tarif bea masuk dan ketidakpastian kebijakan ekonomi berikutnya. Meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan, inflasi, dan utang publik menambah tekanan negatif pada green-back. Indeks dolar AS kehilangan hampir 7% dari awal April hingga akhir Juni 2025.
Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat menjadi 1,5% pada 2025 dan 1,0% pada 2026, setelah mampu tumbuh cukup baik sebesar 2,8% pada 2024. Di sisi lain, muncul perkiraan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan menurunkan suku bunga acuan dari kisaran waktu itu 5,25%—5,50% menjadi serendah 2,50% pada akhir 2026. Karena perbedaan suku bunga acuan adalah pendorong fundamental kekuatan mata uang suatu negara, semakin banyak suku bunga AS turun untuk menyamai level koleganya, semakin besar kemungkinan dolar AS akan melemah. Pada awal Agustus, suku bunga utama di zona euro adalah 2,0%; 0,5% di Jepang dan 3,0% di China.
Bahwa dolar AS sempat menguat di Juli lalu, hal itu disebabkan penyesuaian tarif masih belum berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi. Pascapenetapan tarif baru, sekitar Agustus lalu, pergerakan nilai tukar dolar AS semakin mengkhawatirkan dengan tendensi melemah yang serius terutama terhadap mata uang kuat lainnya. Perkiraan inflasi AS terbaru akan mencapai puncaknya pada kuartal ketiga, dengan dampak negatif kebijakan tarif pada pertumbuhan dan lapangan kerja kemungkinan akan mengikuti. Kombinasi ini berpotensi mencegah The Fed menurunkan suku bunga acuan di sisa tahun ini dan kemudian mempercepat pemotongan pada 2026.
Tekanan terhadap dolar AS di 2026 nanti boleh jadi didalangi oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi AS, transisi pergantian pucuk pimpinan The Fed sesuai dengan selera Donald Trump, dan kinerja ketenagakerjaan yang tidak memuaskan.
LANGKAH RESPONSIF
Diyakini pelaku pasar global terus mencermati perkembangan nilai tukar dolar AS dengan segala pemicunya. Sumber masalahnya bukan dari faktor eksternal, tetapi lebih kepada faktor internal AS sendiri.
Perilaku investor asing seputar kepemilikan dolar AS menyuguhkan perspektif baru tentang bagaimana nilai tukar dolar AS dapat berubah dalam beberapa bulan mendatang. Saat ini, orang asing memiliki lebih dari 30 triliun dolar AS dari total aset AS, dengan investor Eropa sendiri memegang 8 triliun dolar AS terdiri dari obligasi dan saham AS. Sejauh ini terpantau bahwa lebih dari setengah kepemilikan Eropa tidak dilindungi nilai, atau dilindungi dari penurunan dengan menggunakan instrumen seperti forward dan opsi.Fakta bahwa sebagian besar investor asing telah memilih untuk tidak melakukan lindung nilai eksposur mereka, terutama di sisi ekuitas, mencerminkan pandangan bahwa dolar AS akan terapresiasi.
Namun, kini banyak investor asing mulai memikirkan kem-bali pandangan itu dan menam-bahkan lindung nilai valuta asingnya. Data awal menunjukkan bahwa lindung nilai telah meningkat pada kuartal kedua, tetapi karena ukuran kepemilikan aset AS yang besar dan pada awalnya sedikit yang dilindung nilai, maka aliran dana asing ke aset AS dalam jangka panjang akan tetap meningkat secara signifikan.
Bagi investor global, memiliki aset dalam dolar AS tetap menjadi salah satu instrumen vital mengingat dan menimbang kedayatahanan dolar AS yang sudah teruji dari berbagai dekade yang sudah berjalan selama ini. Kepemilikan aset dalam dolar AS juga menjadi strategi sebaran risiko mengingat dinamika global.
