– Di saat kesibukan duniawi biasanya mewarnai persiapan jelang pergantian tahun, sebuah pemandangan syahdu tersaji di pelataran Masjid Agung Kota Tasikmalaya.
Bukan deru knalpot atau riuh kembang api yang terdengar, melainkan lantunan bait-bait suci nadhom tauhid yang menyayat kalbu, membasuh jiwa masyarakat Kota Santri dalam dekapan spiritualitas yang mendalam pada Ahad , 28 Desember 2025.
MENANAM AKIDAH, MENJAGA WARISAN:
Acara bertajuk “Festival Nadhom Tauhid: Menanam Akidah di Akhir Tahun” ini menjadi magnet bagi ratusan pejuang masjid. Sebanyak 203 peserta dari 17 grup yang mewakili Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di 10 kecamatan se-Kota Tasikmalaya “turun gunung”.
Mereka hadir bukan sekadar untuk berkompetisi, melainkan untuk merawat tirkah atau warisan para ulama terdahulu yang kian tergerus zaman.
Wakil Ketua Panitia, KH. Yusron Rosidi, mengungkapkan bahwa kegiatan yang kini memasuki tahun kedua ini adalah ikhtiar kolektif untuk membentengi umat.
“Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah upaya kita menjaga pondasi akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Kita ingin memastikan bahwa estafet perjuangan para guru dan tokoh agama kita dalam menjaga tauhid di Kota Tasikmalaya tetap berlanjut,” ujarnya saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Festival.
PENILAIAN PROFESIONAL DARI PARA GURU:
Kualitas festival ini tidak main-main. Untuk menjaga marwah keilmuan dan objektivitas, panitia menghadirkan tiga juri profesional yang berkompeten di bidangnya. Mereka adalah Ustadz Oni Nurul Husni, Ustadz Pardi Ridwan, dan Ustadz Imran Rosadi.
Ketiga juri ini bertugas memberikan penilaian mendalam, mulai dari ketepatan makhraj, pemahaman isi bait, hingga keharmonisan lantunan. Kehadiran para dewan juri ini memastikan bahwa tradisi nadoman yang dibawakan tetap terjaga kemurniannya sesuai dengan kaidah ilmu tauhid dan seni islami.

SUASANA TERKINI: GEMA TAUHID MASIH BERLANGSUNG.
Hingga berita ini diturunkan, Festival Nadhom Tauhid masih berlangsung dengan sangat khidmat. Delegasi dari berbagai penjuru, mulai dari perwakilan DKM Tawang hingga DKM Cihideung silih berganti menaiki panggung di bawah tatapan jeli para juri dan antusiasme penonton.
Suara rima yang teratur tentang sifat-sifat wajib Allah dan Rasul-Nya menciptakan atmosfer yang menggetarkan hati para pejalan kaki dan jemaah yang melintas.
Banyak warga yang sengaja berhenti, menyimak bait demi bait dengan mata berkaca-kaca, seolah menemukan oase di tengah gempuran modernitas. Kehadiran tradisi nadoman yakni syair pujian dalam bahasa Sunda, menjadi pengingat akan kekayaan budaya lokal yang menjadi ruh kehidupan masyarakat Kota Tasikmalaya.
SOLIDARITAS UNTUK NEGERI:
Puncak acara yang direncanakan pada pukul 20.00 WIB nanti akan diisi dengan momen refleksi “Samen” akbar. Panitia akan menayangkan kilas balik perjuangan para pengurus DKM dalam menjaga syiar Islam di wilayah masing-masing sepanjang tahun.
Tak hanya urusan batiniah, festival ini juga membawa misi kemanusiaan. Di sela-sela lantunan doa, terselip solidaritas yang kuat bagi saudara-saudara di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Seluruh elemen yang hadir diajak untuk melangitkan doa bersama demi keselamatan bangsa Indonesia dari berbagai tantangan dan musibah.
Festival Nadhom Tauhid ini adalah bukti nyata bahwa Kota Tasikmalaya tidak akan pernah kehilangan jati dirinya. Di bawah naungan menara Masjid Agung, masyarakat menunjukkan bahwa cara terbaik menyambut masa depan bukanlah dengan pesta yang fana, melainkan dengan memperkuat pegangan pada Yang Maha Kekal.
Berada di bawah komando sosok kharismatik, KH. Aminudin Bustomi, S.Ag, gerakan ‘Samen DKM Se-Kota Tasikmalaya’ ini membawa misi besar: mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban dan sumber ketenangan masyarakat.
Semoga bait-bait doa yang dilangitkan hari ini menjadi berkah yang memayungi setiap jengkal tanah Kota Santri di tahun-tahun mendatang.***
