Nurul Indarti, Guru Besar Manajemen UGM Pertama, Dulu Dimarahi Karena IPK 2,9

Prof. Nurul Indarti: Perjalanan Menuju Puncak Akademik

Prof. Nurul Indarti telah mencatat sejarah sebagai guru besar perempuan pertama dalam bidang manajemen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikukuhkan pada 27 Agustus 2024 lalu, menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk mahasiswa dan rekan sejawatnya.

Latar Belakang dan Perjalanan Akademik

Nurul Indarti, yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Manajemen FEB UGM, memiliki kisah perkuliahan yang tidak selalu mulus. Meskipun kini dikenal sebagai tokoh akademisi wanita terkemuka, ia pernah mengalami masa-masa sulit saat menjalani studi S1. Di semester awal kuliah, IPK-nya hanya mencapai 2,97. Hal ini disebabkan oleh aktivitasnya yang terlalu aktif dalam berorganisasi, terutama di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), sehingga menyebabkan ia meremehkan perkuliahan.

Bacaan Lainnya

Namun, kegigihan dan komitmen Nurul membuatnya berhasil memperbaiki diri. Setelah mundur dari kegiatan organisasi, ia mulai fokus pada studinya dan akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan. Dari sana, ia melanjutkan pendidikan tinggi dengan menempuh S2 di Norwegia dan S3 di Belanda.

Peran Sebagai Guru Besar

Sejak ditunjuk sebagai guru besar, Nurul memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berkomitmen untuk terus memproduksi pengetahuan melalui penelitian, menyebarkan hasilnya melalui beragam kanal publikasi dan pengajaran, serta mengaplikasikannya dalam aktivitas pengabdian kepada masyarakat di berbagai konteks.

Ia juga mengatakan bahwa gelar guru besar bukanlah tujuan utama, tetapi konsekuensi dari menjalankan tanggung jawab dengan baik sebagai dosen. “Ketika kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dijalankan dengan baik maka yang lain akan mengikuti,” ujarnya.

Fokus pada Kewirausahaan Kelompok Marjinal

Nurul dikenal sebagai dosen UGM yang fokus melakukan kajian soal kewirausahaan, terutama dari kelompok marjinal seperti perempuan dan penyandang disabilitas. Dalam pidatonya saat pengukuhan sebagai guru besar, ia membahas topik “Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial”.

Menurut Nurul, kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial sering kali dipinggirkan atau termarginalisasi karena berbagai faktor struktural dan kultural. Mereka menghadapi berbagai hambatan yang membatasi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya yang dinikmati oleh kelompok mayoritas.

Ia menekankan bahwa kewirausahaan yang termarginalisasi bukan hanya tentang penciptaan usaha baru tetapi juga tentang pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi kelompok-kelompok yang kurang terwakili. Dengan memahami tantangan dan hambatan yang dihadapi, strategi yang lebih inklusif dapat dikembangkan untuk mendukung dan mendorong partisipasi mereka dalam ekosistem kewirausahaan.

Kontribusi dalam Kurikulum

Nurul telah mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen pada tahun 2004 silam. Di Magister Manajemen UGM, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan pada 2011. Selain itu, ia juga menginisiasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.

Harapan dan Komitmen

Dengan mengemban jabatan sebagai guru besar, tanggung jawab untuk berkontribusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat semakin besar pula. Nurul terus berupaya untuk memperjuangkan kebijakan yang ramah bagi kelompok marginal dalam berwirausaha.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *