Isi Artikel
, BANGKA– Musim durian kembali datang ke Bangka Belitung pada akhir tahun 2025. – Pada akhir tahun 2025, musim durian kembali tiba di Bangka Belitung. – Tiba waktu musim durian di Bangka Belitung pada penghujung tahun 2025. – Penghujung tahun 2025 menjadi masa musim durian kembali hadir di Bangka Belitung.
Selain durian khas desa, durian yang dijual di pasar adalah durian bermerk hasil dari perkebunan masyarakat.
“Ketika musim durian tiba, pasar ini terasa lebih ramai dan lebih bersemangat,” ujar Nobi, seorang pedagang durian di Pasar Pagi Taman Sari, Pangkalpinang, kepada Bangkapos.com, Kamis (18/12/2025).
Setiap buah berduri tajam itu diangkat secara perlahan, diputar pelan, lalu disusun kembali dengan rapi. Begitu pula tangan pria berusia 45 tahun itu bergerak dengan hati-hati, seakan-akan sedang menghadapi sesuatu yang memiliki nilai lebih dari sekadar buah biasa. Baginya, buah musiman yang menjadi barang dagangannya tersebut adalah amanat rezeki yang tidak boleh dianggap remeh.
Saat sore hari, Pasar Pagi Taman Sari di Pangkalpinang terasa lebih ramai. Suara para pedagang bersahutan memanggil pembeli, kendaraan melintas perlahan, dan aroma durian mengisi udara. Musim durian selalu membawa suasana yang berbeda.
Nobi bukanlah wajah asing di pasar tersebut. Lebih dari 15 tahun ia menjalani kehidupannya di lokasi yang sama. Setiap hari, ia menjual sayuran. Namun ketika musim durian tiba, lapaknya berubah sepenuhnya, penuh dengan tumpukan buah raja yang selalu menarik perhatian para pembeli.
“Jika sayuran, terkadang untung, terkadang rugi. Namun durian selalu dicari orang,” katanya sambil tersenyum.
Durian yang dijual Nobi adalah durian lokal Bangka yang berasal dari kebun tetap di Desa Nangka, Bangka Selatan. Ukurannya beragam, sesuai dengan preferensi dan kemampuan pembeli.
“Yang ingin makan secara bersamaan biasanya memilih ukuran besar. Ibu-ibu lebih sering memilih ukuran sedang,” jelasnya.
Berangkat Dini Hari
Sore hari, sekitar 130 buah durian berjejer rapi di lapak seluas tiga meter. Jumlah tersebut merupakan hasil dari usaha yang telah dilakukan sejak pagi hari.
Nobi menceritakan, ia bersama rekan-rekannya harus berangkat sekitar pukul 02.00 WIB untuk memperoleh buah yang terbaik.
“Jika tidak berangkat pagi hari, mendapatkan buah yang bagus itu sulit,” katanya.
Buah durian pertama-tama disimpan di rumahnya yang berada di kawasan Tuatunu sebelum dibawa ke pasar dengan menggunakan sepeda motor yang dilengkapi keranjang besar.
Pada akhir pekan ketika permintaan meningkat, mereka menggunakan mobil pick-up milik teman.
Setiap hari biasa, saya mengambil 100 hingga 150 buah. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa mencapai 250 sampai 300. Terkadang masih kurang,
ungkapnya.
Bersama rekanannya, Zaki, Nobi tidak hanya berprofesi sebagai pedagang, tetapi juga menjadi perantara langsung antara kebun durian yang terletak di pelosok Bangka dengan para pembeli di kota. Informasi mengenai kebun mereka diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari sesama pedagang hingga media sosial.
Sesampainya di perkebunan, proses tidak berakhir begitu saja. Mereka memilih pohon dan buah secara teliti, sesuai dengan preferensi pasar yang telah mereka kuasai selama bertahun-tahun.
“Kami melihat pohonnya, buahnya, bentuk duri, ukuran, hingga aromanya. Pembeli kini sudah memahami apa yang diinginkannya,” katanya.
Menurut Nobi, kualitas dan harga tidak dapat dipisahkan. Jika buah sesuai dengan selera pasar dan harganya wajar, maka kerja sama dengan petani dapat berlangsung dalam jangka panjang.
“Beberapa sudah bekerja sama selama empat tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun,” katanya.
Kepercayaan
Keyakinan menjadi dasar utama. Hal yang sama juga dirasakan oleh Zaki. Untuk mempertahankan kualitas, mereka bersedia menjelajahi hampir seluruh Pulau Bangka, khususnya wilayah Bangka Tengah hingga Bangka Selatan.
“Kami pernah memasuki desa yang tidak memiliki sinyal, bahkan ke hutan yang jarang dikunjungi orang,” kata Zaki.
Upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan kepercayaan konsumen. Zaki mengakui bahwa ia baru sekitar empat tahun terlibat dalam membangun jaringan langsung dengan petani. Namun, ia merasakan manfaat yang besar dari kerja sama tersebut.
“Kami melihat petani sebagai mitra. Ada yang merasa terbantu karena kami datang langsung ke kebun, sehingga mereka tidak bingung dalam menjual hasil panen,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika mereka bertemu dengan seorang petani yang selama ini menjual durian dengan harga Rp5 ribu per buah. Padahal, kualitas buahnya dinilai sangat bagus.
“Isinya tebal, rasanya lezat, matang secara alami. Sayang jika dihargai sebesar itu,” kata Zaki.
Mereka berani membeli dengan harga yang lebih mahal. Akibatnya, durian itu laku di pasar.
“Petani itu sampai mengucapkan terima kasih. Katanya baru kali itu hasil panennya dihargai dengan layak,” kata Zaki.
Rp2 Juta-Rp6 Juta
Namun di balik tumpukan durian, tersembunyi modal yang besar. Tahun ini, harga pembelian durian rata-rata Rp20 ribu per buah karena sistem borongan dari pemilik kebun.
“Satu kali ambil bisa habis Rp2 juta hingga Rp6 juta,” ujar Nobi.
Namun, pengalaman yang panjang membuatnya memahami risiko yang ada. Dalam sehari, keuntungan bersih bisa mencapai antara Rp400 ribu hingga Rp2 juta, tergantung pada ramainya pembeli atau tidak.
Menurut Nobi, durian dari kebun sendiri merupakan anugerah terbesar. Tanpa perlu mengeluarkan biaya pembelian buah, keuntungan bisa meningkat signifikan.
“Hanya perlu menuai, membawanya ke pasar, dan menjual. Itu adalah rezeki yang besar,” katanya.
Sayangnya, durian kampung sangat tergantung pada kondisi cuaca. Tahun ini, kebun pribadinya tidak menghasilkan buah yang banyak, sehingga ia kembali mempercayai kebun langganan.
Meski musim durian hanya berlangsung selama 20–35 hari, momen tersebut menjadi sumber utama penghasilan
ekonomi keluarga Nobi.
“Memenuhi kebutuhan rumah tangga, belanjaan anak-anak,” katanya.
Bagi Nobi, selama durian masih tumbuh di kebun Bangka dan tetap diminati masyarakat, ia
akan tetap berdiri di tempatnya.
“Selama masih ada musim durian, kami tetap berdagang. Ini sudah menjadi cara hidup,” tutupnya.
Berdampak Langsung
Ketua Tim Kerja Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edo Maryadi, mewakili Kepala Dinas menyampaikan bahwa durian Babel memiliki variasi yang beragam dan tumbuh dengan baik, mulai dari durian alami di desa-desa hingga durian unggulan hasil pemilihan dan pengembangan pemerintah.
Menurutnya, perkembangan durian berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Pada saat musim durian tiba, peredaran uang dari desa hingga kota mengalami peningkatan yang signifikan.
“Musim durian membuat perekonomian bergerak. Petani mendapat keuntungan, pedagang juga untung, serta aktivitas perdagangan meningkat,” ujar Edo, Jumat (19/12).
Meskipun ada risiko buah yang busuk atau tidak matang, Edo menganggap bahwa secara keseluruhan para petani dan pedagang tetap mendapatkan keuntungan.
“Walaupun beberapa rusak, tetap menguntungkan. Hal ini menunjukkan nilai ekonominya sangat tinggi,” ujarnya.
Berdasarkan data Statistik Pertanian DPKP Babel, pada tahun 2024 luas area tanam durian tercatat sebesar 2.487,20 hektare dengan luas panen mencapai 841,74 hektare. Jumlah produksi durian mencapai 7.061,90 ton dengan rata-rata produktivitas 8,39 ton per hektare setiap tahun.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencatatkan produksi sebesar 5.807,85 ton dari luas panen sekitar 672,23 hektar.
Peningkatan produksi ini dianggap sebagai tanda meningkatnya intensitas panen buah durian lokal di perkebunan milik rakyat, sekaligus memperkuat posisi durian sebagai penggerak perekonomian masyarakat, khususnya para petani dan pedagang musiman.
Tantangan Cuaca Ekstrem
Ketua Tim Kerja Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edo Maryadi, mewakili Kepala Dinas, menyatakan bahwa durian Bangka Belitung memiliki variasi yang beragam dan tumbuh dengan baik, mulai dari durian alami di desa-desa hingga durian unggulan yang berasal dari hasil pemilihan dan pengembangan pemerintah.
“Jika membicarakan durian Bangka, terdapat berbagai jenisnya. Ada durian desa, serta yang sudah memiliki nama seperti Cumasi dan Super Tembaga,” kata Edo saat diwawancara oleh Bangkapos, Jumat (19/12/2025).
Ia menjelaskan, beberapa daerah seperti Mentok, Air Mesu, Mangkol, serta Bangka Tengah dikenal sebagai pusat durian lokal berkualitas tinggi yang tumbuh secara alami.
“Di Mentok, rasa cuminya sangat enak. Rasanya kuat dan khas Bangka. Durian kampung yang sudah ada sejak lama juga memiliki cita rasa yang menggugah,” katanya.
Namun, Edo mengakui bahwa sebagian besar durian kampung masih tumbuh tanpa perawatan yang intensif. Banyak pohon durian di desa hanya dibersihkan menjelang musim panen, tanpa adanya pemupukan dan pengelolaan kebun yang terencana.
Menurut Edo, kondisi cuaca merupakan faktor utama yang memengaruhi kualitas dan jumlah produksi durian. Secara ideal, tanaman durian memerlukan masa panas sekitar 15 hingga 18 hari tanpa hujan agar bunga dan buah dapat tumbuh dengan baik.
“Jika suhunya cukup, kualitas duriannya baik. Namun tahun ini cuacanya sangat ekstrem, hujan terus-menerus, sehingga produksi mengalami penurunan,” katanya.
Akibat situasi tersebut, beberapa petani mengalami kegagalan panen atau hasil yang kurang optimal. Meskipun demikian, sejumlah petani mulai menyesuaikan diri dengan metode perawatan dan pemupukan yang lebih terstruktur.
Selanjutnya, Edo menyampaikan bahwa sejak tahun 2012 pemerintah daerah telah melakukan pembinaan serta melepas varietas durian unggulan Bangka Belitung ke tingkat nasional.
Bahkan, Estik Labuno atau Super Tembaga dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi ikon durian Indonesia.
“Jika Malaysia memiliki Musang King, Thailand memiliki Monthong, kita sebenarnya memiliki Super Tembaga dari Bangka,” tegas Edo.
Selain pengembangan varietas, DPKP Bangka Belitung secara teratur menyelenggarakan pelatihan teknis melalui program Kampung Durian, meskipun pelaksanaannya sangat bergantung pada tersedianya dana.
Pemerintah daerah juga menyelenggarakan lomba durian yang terakhir diadakan pada tahun 2020 dan direncanakan akan diadakan kembali pada tahun depan.
“Kontes durian ini penting. Bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang kebanggaan dan motivasi para petani dalam menjaga kualitas,” katanya.
Edo menganggap, minat terhadap durian Bangka Belitung semakin bertambah, termasuk dari luar negeri.
daerah.
Ia berharap pada masa depan durian Bangka Belitung tidak hanya dianggap sebagai buah musiman, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.
“Jika dikelola dengan baik, durian dapat menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat. Potensinya sangat besar,” ujar Edo.(x1)







