Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Asia mencatat dominasi negara dengan rasio utang terendah dunia pada 2025 berdasarkan data IMF.
- Makau bahkan nol persen utang terhadap PDB, sementara Indonesia masih mengandalkan pembiayaan utang demi menopang pembangunan dan belanja negara.
–Asia kembali menunjukkan dominasinya dalam daftar negara dengan tingkat utang paling rendah di dunia pada 2025.
Berdasarkan data terbaru World Economic Outlook (WEO) yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) dan diolah oleh Visual Capitalist, mayoritas negara dengan rasio utang terendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari kawasan Asia.
Daftar ini menjadi sorotan karena memperlihatkan kontras tajam antara negara-negara dengan pengelolaan fiskal superketat dan negara berkembang besar seperti Indonesia, yang masih mengandalkan pembiayaan utang untuk menopang pembangunan.
Makau Nol Utang, Andalkan Industri Kasino
Makau menempati posisi puncak sebagai wilayah dengan tingkat utang terendah di dunia pada 2025, yakni 0 persen terhadap PDB.
Wilayah administrasi khusus China itu mampu membiayai seluruh kebutuhan fiskalnya tanpa berutang, berkat pemasukan jumbo dari industri kasino dan pariwisata judi yang menjadi yang terbesar di dunia.
Pendapatan dari sektor tersebut menghasilkan surplus fiskal berkelanjutan serta cadangan kas pemerintah yang sangat kuat.
Kondisi ini membuat Makau relatif kebal terhadap tekanan utang global, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Brunei dan Negara Asia Lain Ikut Menguat
Posisi berikutnya ditempati Liechtenstein dari Eropa dengan rasio utang 0,5 persen, menjadikannya satu-satunya negara Eropa dalam 10 besar.
Negara kecil ini memiliki struktur ekonomi unik, dengan jumlah perusahaan dan lapangan kerja yang bahkan melebihi jumlah penduduknya.
Sementara itu, Asia kembali mendominasi peringkat selanjutnya. Brunei Darussalam berada di posisi ketiga dengan rasio utang hanya 2,3 persen terhadap PDB.
Kekayaan sumber daya minyak dan gas membuat Brunei mampu menjalankan belanja negara tanpa ketergantungan pada pinjaman.
Negara-negara kecil lain juga masuk dalam daftar, seperti Tuvalu (3,6 persen), Turkmenistan (3,9 persen), Kuwait (7,3 persen), Kiribati (8,7 persen), Hong Kong (11,7 persen), Haiti (11,8 persen), dan Timor Leste (13,9 persen).
Kuwait, misalnya, mampu menjaga utang tetap rendah karena sekitar 80 persen pendapatan negara berasal dari sektor minyak, sehingga anggaran negara ditopang oleh ekspor energi.
Daftar tersebut menunjukkan dominasi negara-negara Asia yang memiliki utang paling sedikit di 2025 dibagi dengan PDB.
Liechtenstein sebagai negara kecil kuat berada di peringkat kedua dan satu-satunya negara Eropa di daftar 10 besar ini.
Dilansir dari Visual Capitalist, Liechtenstein memiliki lowongan pekerjaan lebih banyak dari jumlah penduduknya di 2025.
Selain itu jumlah perusahaan yang ada di negara Liechtenstein juga lebih banyak dari jumlah penduduknya.
Indonesia: Utang Masih Jadi Instrumen Pembangunan
Jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut, posisi Indonesia berada di spektrum yang sangat berbeda.
Indonesia bukan termasuk negara dengan rasio utang terendah, meski tetap berada dalam kategori aman secara fiskal.
Pada 2025, rasio utang pemerintah Indonesia berada di kisaran 38–39 persen terhadap PDB, jauh di atas negara-negara Asia dengan utang rendah.
Namun, angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal 60 persen PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Perbedaan ini tidak lepas dari karakter ekonomi Indonesia yang sangat kontras.
Sebagai negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia membutuhkan belanja besar untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi energi, serta perlindungan sosial.
Utang menjadi salah satu instrumen utama untuk membiayai pembangunan jangka panjang.
Berbeda dengan Makau atau Brunei yang memiliki sumber pendapatan tunggal bernilai tinggi, Indonesia mengandalkan basis ekonomi yang luas dan beragam, namun dengan kebutuhan fiskal yang juga jauh lebih besar.
Skala Ekonomi Jadi Faktor Pembeda
Ekonom menilai perbandingan langsung antara Indonesia dan negara-negara dengan utang sangat rendah perlu melihat konteks skala ekonomi dan demografi.
Negara seperti Makau, Liechtenstein, atau Brunei memiliki populasi kecil dan struktur ekonomi yang sangat spesifik.
Sementara Indonesia adalah negara besar dengan tantangan pembangunan yang kompleks dan merata di ribuan pulau.
Meski demikian, pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga disiplin fiskal dengan menekan defisit anggaran, memperpanjang tenor utang, serta mengoptimalkan pembiayaan kreatif agar utang tetap produktif dan tidak membebani generasi mendatang.
Asia Jadi Contoh, Tapi Tak Bisa Disalin Mentah
Dominasi Asia dalam daftar negara dengan utang terendah dunia pada 2025 menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal yang kuat, sumber pendapatan strategis, serta belanja negara yang terkendali dapat menjaga ketahanan ekonomi.
Namun bagi Indonesia, model tersebut tidak bisa diterapkan secara mentah.
Tantangan pembangunan nasional membutuhkan pendekatan yang berbeda, dengan utang tetap dijaga sebagai alat, bukan tujuan.
Ke depan, kunci keberlanjutan fiskal Indonesia terletak pada kualitas belanja, peningkatan penerimaan pajak, serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten agar rasio utang tetap terkendali di tengah kebutuhan pembangunan yang terus meningkat.
(/Kontan.co.id)
Sebagian Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul “Ini 10 Negara dengan Utang Paling Sedikit di 2025, Asia Mendominasi”,







