Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Puluhan pedagang durian musiman bermunculan di sepanjang Jalan Merdeka dan Jalan Lintas Sumatera Martapura, menjelang akhir tahun.
- Durian berasal dari wilayah Baturaja, Muara Dua dan Simpang Meo dengan harga berkisar Rp20 ribu-Rp50 ribu per buah, tergantung ukuran dan jenis.
- Meski hujan memengaruhi kualitas buah, penjualan tetap ramai dan sebagian pedagang mampu menjual hingga puluhan buah per hari.
, MARTAPURA – Menjelang akhir tahun, aroma khas durian mulai terasa di berbagai sudut Kota Martapura, Kabupaten OKU Timur. Satu per satu pedagang musiman bermunculan membawa tumpukan buah berduri dari luar daerah, berharap musim hujan tak menjadi penghalang rezeki mereka.
Pantauan reporter , puluhan lapak terlihat berjejer di sejumlah lokasi strategis. Di sepanjang Jalan Merdeka, mulai dari Pasar Martapura khususnya di kawasan simpang tiga depan Kantor PU Provinsi Sumsel, pedagang durian tampak sibuk melayani pembeli.
Lapak-lapak pedagang durian musiman berdiri berjejer dengan payung dan terpal seadanya. Tumpukan durian disusun rapi di atas meja kayu dan ada juga yang di tepi trotoar, sebagian lagi ditaruh langsung di atas karung agar tidak terkena tanah basah.
Aroma khas durian langsung tercium begitu kendaraan melintas, membuat sejumlah pengendara berhenti sejenak untuk melihat-lihat.
Pemandangan serupa juga terlihat di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, tempat para pedagang menggantungkan hidup dari buah berjuluk “raja buah” ini.
Di tengah lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi, para pedagang tampak sigap melayani pembeli. Ada yang sibuk berbincang soal jenis durian, ada yang membantu membukakan buah untuk memastikan isinya matang sempurna.
Sesekali terdengar suara tawa kecil saat pembeli tawar-menawar harga. Hujan ringan yang turun menjelang malam membuat sebagian pedagang menutup sebagian lapak dengan plastik tambahan, menjaga buah tetap kering agar tidak mudah pecah.
Durian yang dijajakan bukan berasal dari Martapura. Para pedagang mendatangkannya langsung dari wilayah Baturaja khususnya Ulu Ogan dan Muara Dua serta dari kawasan Simpang Meo di Kabupaten Muara Enim. Kondisi inilah yang membuat harga masih terbilang tinggi.
Harga Masih Mahal, Namun Peminta Tak Surut
Mawan, salah satu pedagang di Jalan Lintas Sumatera, mengaku baru sekitar satu minggu terakhir berjualan durian.
Menurutnya, stok yang masuk masih terbatas sehingga harga berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp50.000 per buah, tergantung ukuran dan jenis.
“Buah durian ini berasal dari Curup Muara Dua, Simpang Meo dan Baturaja, kawasan Ulu Ogan. Untuk saat ini harganya memang masih mahal karena barangnya didatangkan dari luar kota,” ujarnya kepada , Minggu (28/12/2025).
Ia juga menyampaikan, harga ini juga disesuaikan dengan biaya angkut dan kondisi barang, karena seluruh durian didatangkan langsung dari luar kota.
“Walaupun begitu, Alhamdulillah pembeli tetap ramai. Dalam sehari bisa terjual sekitar 40 buah dengan ukuran bervariasi, dan hampir setiap hari stoknya habis. Jadi meskipun musimnya belum terlalu puncak, minat masyarakat terhadap durian tetap tinggi,” ujarnya menjelaskan.
Ia menambahkan, pedagang juga harus cermat menjaga kualitas buah, terutama di tengah kondisi cuaca yang kerap diguyur hujan. Yang menjadi tantangan pedagang saat ini adalah hujan yang hampir setiap hari turun.
Durian ini, lanjut kata dia, kalau terkena hujan terlalu lama biasanya kulitnya akan lebih cepat terbuka atau pecah, dan kalau sudah terbuka pembeli cenderung kurang berminat karena dianggap tidak segar lagi.
“Otomatis harga juga ikut turun. Jadi kami harus pintar-pintar menutup dan menata buah agar tetap kering, supaya kualitasnya bisa terjaga sampai ke tangan pembeli,” terang Mawan.
Hujan Jadi Tantangan Pedagang
Namun musim hujan yang hampir setiap hari mengguyur Martapura menjadi tantangan tersendiri. Kulit durian yang lembut saat terkena air membuat buah mudah pecah. Ketika kulit terbuka, minat pembeli menurun dan harga otomatis jatuh.
Sementara itu, Doni yang juga berjualan durian di kawasan Martapura mengakui, cuaca hujan memang menjadi faktor paling memengaruhi daya jual buah durian.
“Durian ini sebenarnya sangat sensitif terhadap air. Kalau terus-menerus kena hujan, kulitnya mudah pecah dan terbuka. Padahal begitu kulitnya sudah terbuka sedikit saja, kebanyakan pembeli langsung mengurungkan niat untuk membeli, karena mereka beranggapan kualitasnya sudah menurun,” paparnya.
Hal itu tentu sangat berpengaruh terhadap harga, karena kami sebagai pedagang terpaksa menurunkan harga demi tetap bisa menjualnya. Tapi bagaimanapun, kami tetap bersyukur karena penggemar durian di Martapura ini banyak sekali.
“Walaupun cuaca tidak menentu, Alhamdulillah penjualan masih berjalan dan tetap ada pemasukan setiap hari. Kalau kena hujan cepat pecah. Pembeli biasanya kurang tertarik kalau duriannya sudah terbuka, jadi harganya juga turun,” ujarnya.
Konsumen Tetap Berburu Durian
Di sisi lain, para penggemar durian tetap berburu buah kesukaan mereka meski harga belum bersahabat. Bagi sebagian konsumen, menikmati durian bersama keluarga menjadi tradisi musiman yang tak tergantikan.
Sebagian pembeli bahkan sengaja memilih langsung di lapak untuk memastikan kualitas buah. Mereka mencari rasa manis legit dengan tekstur lembut khas durian daerah hulu, yang saat ini membanjiri Martapura.
Salah satu pembeli, Rudi (35), warga Martapura, mengaku tetap berburu durian meski harganya masih terbilang mahal.
“Kalau musim seperti ini memang harganya agak tinggi, tapi kami tetap beli karena sudah dari dulu terbiasa menikmati durian menjelang akhir tahun,” katanya sambil memilih buah di lapak pedagang.
Menurutnya, durian yang datang dari Baturaja dan Simpang Meo memang memiliki rasa khas yang disukai banyak warga.
“Rasanya lebih legit dan dagingnya tebal. Selama kualitasnya bagus, saya rasa masih sepadan dengan harganya,” ujarnya.
Rudi juga menambahkan, meski hujan kerap turun, para pembeli tetap memilih datang langsung ke lapak untuk memastikan kondisi buah.
“Kalau sudah pecah biasanya kami tidak ambil, jadi memang harus teliti pilihnya. Tapi suasananya tetap ramai, karena penggemar durian di Martapura ini banyak,” pungkasnya.
Bagi pedagang, momentum ini adalah musim yang hanya datang sesekali. Maka meski berpacu dengan hujan dan resiko barang rusak, mereka tetap setia menunggu di pinggir jalan, berharap pembeli terus berdatangan.
Bagi warga Martapura, keberadaan pedagang durian musiman ini bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga menjadi penanda datangnya musim durian yang selalu dinanti setiap tahun.
Baca berita lainnya di Google News
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp







