Isi Artikel
- 1 Tekanan Lingkungan dari Gas Metana
- 2 Air Lindi yang Mengkhawatirkan
- 3 7.000 Ton Sampah Datang Setiap Hari
- 4 Bau Menyengat dan Ancaman Kesehatan
- 5 Antrean Truk dan Risiko Keselamatan
- 6 Fasilitas Pengolahan: Ada, Tapi Terbatas
- 7 Berapa Lama Bantargebang Bertahan?
- 8 Sorotan DPRD dan Tanggung Jawab Pemerintah
Bekasi, sebuah kota yang berada di sebelah timur Jakarta, sering kali menghadapi masalah lingkungan yang cukup rumit. Bau menyengat dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sering kali menjadi keluhan warga setempat. Ketika angin bertiup dari arah timur, warga di sekitar TPST Bantargebang harus menutup jendela mereka rapat-rapat.
Dari kejauhan, gunungan sampah tampak hijau dan seperti bukit alami. Namun, di balik penampilan yang menenangkan itu, tekanan terhadap lingkungan semakin besar. TPST Bantargebang, yang selama lebih dari tiga dekade menjadi tempat pembuangan akhir sampah Jakarta, kini berada di tengah krisis.
Timbunan sampah yang terus bertambah, kapasitas pengolahan yang tertinggal, serta dampak lingkungan dan kesehatan yang semakin nyata membuat masalah Bantargebang tidak lagi sekadar isu teknis. Masalah ini telah menjadi persoalan ekologis dan kemanusiaan.
Tekanan Lingkungan dari Gas Metana
Tekanan terbesar yang dialami Bantargebang datang dari gas metana. Timbunan sampah organik dalam jumlah besar secara alami menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang daya rusaknya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Dr Sri Wahyono, Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri BRIN, menjelaskan bahwa Bantargebang pernah memiliki fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar gas metana dengan kapasitas sekitar 16,5 megawatt (MW). Namun, karena produksi gas tidak sesuai desain awal, hanya dua unit yang sempat beroperasi dengan daya sekitar 3 MW, sebelum akhirnya berhenti akibat berbagai kendala teknis.
Gas metana yang tidak tertangkap berpotensi lepas ke atmosfer, meningkatkan risiko kebakaran, ledakan, sekaligus memperparah krisis iklim.
Air Lindi yang Mengkhawatirkan
Selain gas, air lindi juga menjadi masalah serius. Lindi Bantargebang memiliki kadar pencemar yang sangat tinggi, dengan nilai chemical oxygen demand (COD) sekitar 3.100 mg/L dan biological oxygen demand (BOD) sekitar 930 mg/L sebelum diolah. Meski Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL) mampu menurunkan kadar pencemar hingga 95 persen, lonjakan volume air lindi saat musim hujan membuat sistem bekerja mendekati batas maksimal.
Jika pengendalian tidak optimal, lindi berisiko mencemari air tanah dan badan sungai di sekitar Bantargebang.
7.000 Ton Sampah Datang Setiap Hari
Pengamat lingkungan Mahawan Karuniasa menjelaskan, rata-rata sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mencapai sekitar 7.000 ton per hari. Angka tersebut menjadi patokan utama untuk membaca besarnya tekanan yang terjadi di lokasi itu.
TPST Bantargebang memiliki luas sekitar 110 hektar. Dari luasan tersebut, timbunan sampah yang telah terkumpul diperkirakan mencapai 55 juta ton. Jika angka tersebut diasumsikan sebagai 80 persen kapasitas, total daya tampung Bantargebang berada di kisaran 70 juta ton.
Bau Menyengat dan Ancaman Kesehatan
Dampak yang paling dirasakan warga adalah bau menyengat yang dapat menjangkau radius 3–5 kilometer, terutama akibat gas hidrogen sulfida, amonia, dan senyawa organik volatil. Risiko kesehatan juga mengintai para pekerja dan sopir truk sampah yang setiap hari beraktivitas di area TPST.
Prof. Ari Fahrial Syam menegaskan, jam kerja panjang dan kurang tidur dapat berdampak serius. Paparan polutan dan gas metana tanpa perlindungan juga berbahaya. Paru-paru bisa terdampak, mulai dari asma hingga penyakit paru obstruksi kronis. Dalam jangka panjang, kelelahan dan kurang tidur juga meningkatkan risiko hipertensi, stroke, dan gangguan metabolik.
Antrean Truk dan Risiko Keselamatan
Pengamat perkotaan Universitas Indonesia Muh Aziz Muslim melihat antrean panjang truk sampah sebagai gejala struktural. Volume sampah Jakarta terus bertambah, sementara kapasitas penampungan dan pengolahan sudah tidak lagi memadai. Kurangnya perencanaan jangka panjang membuat Bantargebang menanggung beban berlebihan.
Infrastruktur jalan yang rusak dan antrean panjang berdampak langsung pada keselamatan sopir. Intervensi harus dilakukan dari hulu sampai hilir, termasuk perubahan perilaku masyarakat dan pemanfaatan teknologi.
Fasilitas Pengolahan: Ada, Tapi Terbatas
Di atas kertas, Bantargebang memiliki berbagai fasilitas pengolahan. Namun, kontribusinya masih jauh dari memadai. Composting plant yang berjalan sejak 2003 hanya mengolah sampah organik tertentu dan berskala terbatas. PLTSa Merah Putih, yang berstatus sebagai proyek percontohan, pada 2024 hanya mampu menginsinerasi sekitar 69 ton sampah per hari, jumlah yang sangat kecil dibandingkan timbulan harian yang mencapai ribuan ton.
Sementara itu, Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant memiliki kapasitas terpasang 2.000 ton per hari. Namun, realisasi produksinya hanya sekitar 103 ton RDF per hari. Kegiatan landfill mining pun lebih banyak menghasilkan humus soil untuk penataan landfill, bukan untuk mengurangi volume sampah secara signifikan.
Berapa Lama Bantargebang Bertahan?
Mahawan memperkirakan, dengan sisa kapasitas sekitar 15 juta ton dan laju sampah sekitar 2,5 juta ton per tahun, TPST Bantargebang hanya memiliki waktu bertahan sekitar enam tahun. Kalau kapasitas ditingkatkan dan pemrosesan diperkuat, mungkin bisa 6 sampai 10 tahun. Namun, tanpa pengurangan signifikan dari hulu, waktu tersebut bisa jadi lebih singkat.
Keterbatasan anggaran membuat peran investor menjadi penting. Mahawan menilai, swasta bisa berperan membangun unit pengolahan, menjadi offtaker RDF atau energi, hingga mendukung pengolahan sampah berbasis komunitas.
Sorotan DPRD dan Tanggung Jawab Pemerintah
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Bun Joi Phiau menegaskan, tumpukan sampah setinggi belasan lantai memunculkan risiko longsor dan keselamatan. Ia minta Pemprov DKI memonitor ketahanan tanggul secara berkala. Hibah Rp 363 miliar ke Pemkot Bekasi, menurut dia, harus benar-benar digunakan untuk memperbaiki dampak lingkungan dan infrastruktur.
Para pakar sepakat, masa depan Bantargebang tidak bisa hanya mengandalkan perluasan landfill. Kunci utamanya ada pada pengurangan sampah dari hulu, pemilahan di sumber, penguatan TPS 3R, pembangunan ITF dan PLTSa skala besar, serta landfill mining berkelanjutan.






