Meski Rebranding, BRI Tetap Konsisten pada Bisnis Inti UMKM

KOMISARIS Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atauBRI Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa bisnis utama BRI tetap berkomitmen untuk melayani kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)UMKM), meski melakukan rebrandingNamun konsep yang dikembangkan adalah ingin menjadikanbank ini lebih luas mencakup berbagai kalangan.

“Semua kami susun menjadi satu ekosistem yang merupakan satu rantai pasok yang menggabungkan antara perekonomian desa dengan kota melalui program-program yang saling terhubung,” ujarnya dalam konferensi pers di Menara BRIlian pada Selasa, 16 Desember 2025.

Bacaan Lainnya

Kartika menyebutkan bahwa BRI memasuki pasar keuangan dengan konsep ekosistem yang meliputi korporasi,consumer, komersial, hingga UMKM. Diharapkan melalui sistem BRI, pendanaan dari perusahaan besar dapat terhubung dengan UMKM.

Pemberdayaan dan pendampingan BRI terhadap UMKM mencakup pola rantai pasok, sehingga kelangsungannya tetap terjaga. Selain itu, menurut Kartika, BRI terkait dengan berbagai program pemerintah seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis (MBG), tiga juta rumah, hingga kredit usaha rakyat.

“Kemudian para nasabah BRI diharapkan dapat bergabung dalam berbagai program ekosistem swasta maupun pemerintah,” katanya.

Kepala Eksekutif BRI Hery Gunardi menyatakan bahwa nasabah perusahaan yang dipimpinnya saat ini masih mayoritas berasal dari kalangan UMKM sebesar 60 persen. Pada masa mendatang, ia merencanakan angka tersebut akan tetap dipertahankan dalam kisaran 40-50 persen.

Hery menyatakan bahwa bank BUMN ini diharapkan memiliki peran penting bagi masyarakat melalui lebih dari 7.400 cabang dan unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Termasuk juga kehadiran layanan BRI yang tersedia di kapal. “Menurut saya, hal ini memang menjadi tulang punggung bagi UMKM di Indonesia.”

Dengan adanya rebranding Di sini, Hery berharap BRI mampu melayani seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya pada kalangan kecil. Selain itu, mendukung ambisi dan memperkuat nasabah, serta bersifat progresif dan mengajarkan nasabah untuk membuat keputusan keuangan yang lebih baik.

Kepala Eksekutif Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria menegaskan bahwa apa yang dimiliki BRI harus menjadi fondasi kuat untuk perubahan tanpa kehilangan identitasnya. Menurutnya, banyak perusahaan BUMN yang sebelumnya baik justru menjadi buruk ketikarebranding.

“Saya ingat dulu, ya, saya baru berbicara dengan teman-teman Telkomsel. Dulu ada Simpati, sekarang membuat yang tidak biasa, justru tidak menjadi lebih baik,” katanya.

Menurutnya rebranding tidak perlu menjadi sesuatu yang baru, tetapi memperkuat posisi agar lebih baik. Terlebih di masa depan harus memenuhi harapan pelanggan yang harus dipenuhi melalui berbagai layanan.

Dony berharap BRI menjadi lebih kuat secara dasar dan tidak ada lagi tindakan yang terkesan baik tetapi sebenarnya tidak. “Kita ingin memasuki era yang berbasis pada hal-hal nyata,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *