Banyak orang tua merasa cemas ketika anak mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM) dan menolak untuk makan. Padahal, GTM bukan hanya sekadar masalah anak tidak suka makan, tetapi bisa menjadi tanda adanya rasa tidak nyaman pada anak.
Menurut dokter sekaligus ahli laktasi, dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), IBCLC, penting bagi para orang tua untuk memahami penyebab GTM sebelum menentukan metode mengatasinya.
Mengenali Penyebab GTM pada Anak
Salah satu penyebab gangguan makan (GTM) yang paling umum dan cukup mudah dikenali adalah masalah sensori. Anak bisa menolak makan karena merasa tidak nyaman dengan rasa, tekstur, atau sensasi tertentu dari makanan tersebut.
Sebagai contoh, anak belum siap secara motorik oral sehingga belum mampu mengunyah atau memproses tekstur makanan tertentu. Keadaan ini sering terlihat pada anak yang hanya mengunyah makanan tanpa benar-benar mengunyah atau menelannya.
Selain itu, kondisi kesehatan juga memiliki pengaruh besar. Anak yang sedang sakit pasti wajar jika nafsu makannya berkurang, mirip dengan orang dewasa. Namun, terdapat pula kondisi penyakit yang tidak tampak secara langsung, seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK).
Meskipun tidak terlihat jelas dari luar, kondisi ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut sehingga anak menolak untuk makan. Proses pertumbuhan gigi juga bisa menjadi faktor penyebab, karena gusi yang membengkak dan sakit membuat anak enggan mengunyah makanan.
“Atau, ‘Tidak kok, Dok, anak saya tidak sakit apa-apa’, bisa jadi penyakitnya tidak terlihat. Seperti ISK, Infeksi Saluran Kemih, memang tidak terlihat, tetapi perut tidak nyaman akibatnya,” ujar dr. Ayudya dalam acara Grand Opening Play At Sora di Jakarta Selatan, Minggu (14/12).
Faktor rasa juga sangat penting. Anak bisa menjadi peka terhadap rasa tertentu. Oleh karena itu, ibu yang menyusui disarankan untuk tidak membatasi jenis makanan yang dimakan. Dengan memperkenalkan berbagai rasa melalui ASI, anak akan memiliki pengalaman rasa yang lebih beragam sehingga lebih mudah menerima makanan rumah saat mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI.
Selama proses makan, orang tua juga harus memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba dan mengeksplorasi. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah dengan menyediakan dua piring atau dua mangkuk. Satu digunakan untuk diberi makan oleh ibu, sedangkan yang lainnya untuk anak mencoba sendiri.
Biarkan anak memegang, mencium, merasakan, bahkan tumpahkan makanan. Meskipun terlihat kacau, proses ini penting agar anak mengenal makanan dan tidak melihatnya sebagai sesuatu yang asing.
“Ia boleh merasakan, ia boleh jatuhkan, ia boleh tumpahkan. Banyak sekali penyebabnya yang harus dicari di balik itu mengapa,” tegasnya.
