Mengungkap Kondisi TPST Bantargebang yang Disembunyikan

Kondisi TPST Bantargebang yang Mengkhawatirkan

JAKARTA – Gunungan sampah setinggi sekitar 70 meter di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya fasilitas pengelolaan sampah yang telah beroperasi sejak 1989 tersebut. Di balik tumpukan sampah yang terus menjulang, tersimpan banyak cerita dari para pekerja yang sehari-hari berjibaku di lapangan.

Salah satu kelompok yang paling merasakan dampak kondisi TPST Bantargebang adalah para sopir truk pengangkut sampah. Hampir setiap hari, para sopir ini mengangkut sampah dari berbagai wilayah di Jakarta menuju Bantargebang. Namun, seiring dengan kapasitas TPST yang semakin menipis, beban kerja mereka kian berat.

Bacaan Lainnya

Antrean Panjang dan Tuntutan Pihak Pengelola

Para sopir mengaku harus mengantre hingga belasan jam hanya untuk membuang muatan sampah. Antrean panjang itu terjadi karena semakin sulitnya mencari zona pembuangan yang masih bisa digunakan. “Sudah terlalu tinggi, sudah terlalu overload, sempat juga terjadi longsor yang menyebabkan satu truk tebalik dan sopir teman kami terluka itu kayaknya kejadian dua bulan lalu,” ungkap Hendra saat diwawancarai.

Menurut Hendra, antrean belasan jam tersebut sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Situasi itu membuat para sopir harus bekerja hampir tanpa jeda, bahkan hingga 24 jam. Di tengah kelelahan tersebut, sebagian sopir sebenarnya ingin memperlihatkan kondisi Bantargebang yang sesungguhnya kepada publik melalui media sosial. Namun, keinginan itu justru mendapat larangan keras dari pihak pengelola.

Ketika antrean panjang terjadi dan merugikan para sopir, mereka diminta untuk tidak bersuara. “Kami di sini kalau ada antrean panjang kami enggak bisa foto, video, atau share,” jelas Hendra. Para sopir yang nekat memviralkan kondisi TPST Bantargebang yang sudah kelebihan kapasitas berisiko mendapatkan sanksi, mulai dari peringatan hingga pemutusan kontrak kerja.

Zona Pembuangan yang Hanya Mampu Menampung Sebagian

Hendra menyebut, setiap kali antrean panjang terjadi, pihak pengelola langsung mengingatkan para sopir agar tidak mengunggah kondisi tersebut ke media sosial. “Kalau ada antrean panjang dari pengelola langsung peringati kami supaya enggak viralin. Jadi, seolah nutupin kondisi Bantargebang. Mereka bilang ‘kita satu instansi, satu payung, enggak boleh saling menjelekan’.”

Saat ini, terdapat sekitar enam zona pembuangan di TPST Bantargebang. Namun, hampir seluruh zona tersebut telah dipenuhi timbunan sampah yang menjulang tinggi. Kondisi ini membuat tidak semua zona bisa digunakan secara bersamaan. “Zona aktif 1 A, 1B, 5, di Adang buat mobil kecil. Jadi, yang mobil besar cuma tiga zona,” kata Hendra.

Keterbatasan zona pembuangan membuat proses bongkar muat berlangsung lebih lama dan memicu antrean truk hingga belasan jam. Menurut Hendra, pengelola telah membuka zona baru sebagai upaya mengurai kepadatan. Jika proses pembuangan tersendat, antrean truk bisa mengular hingga dua kilometer ke luar area TPST Bantargebang dan berpotensi menimbulkan kemacetan panjang.

Tantangan Pengelolaan Sampah di Bantargebang

Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sri Wahyono, menilai tantangan utama pengelolaan sampah di TPST Bantargebang adalah ketidakseimbangan antara timbulan sampah dan kapasitas pengolahan. Akibatnya, setiap hari 7.500–7.800 ton sampah datang tanpa pemilahan dari sumbernya, sehingga sebagian besar langsung menjadi beban TPA.

Sekitar 50 persen sampah yang masuk ke Bantargebang merupakan sampah organik dengan kadar air tinggi. Kondisi ini mempersulit proses pemilahan, mempercepat pembentukan air lindi dan gas metana, serta meningkatkan beban operasional TPST.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Sri menyebut, TPST Bantargebang kini menghadapi tekanan lingkungan yang sangat berat akibat akumulasi jutaan ton sampah, peningkatan timbulan harian, dan kapasitas landfill yang semakin terbatas. Timbunan sampah yang didominasi material organik menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang dampaknya puluhan kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

Selain gas metana, air lindi juga menjadi persoalan serius. Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL) memang masih beroperasi, tetapi volume lindi yang sangat besar membuat efektivitasnya terbatas. “Salah satu unit IPAL tercatat mengolah sekitar 10 liter per detik atau setara 860 meter kubik per hari. Dari sisi kualitas, lindi mentah Bantargebang memiliki beban pencemar yang sangat tinggi.”

Pemaksaan kapasitas landfill juga meningkatkan risiko longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Longsor sampah dapat membahayakan pemulung, pengepul, sopir truk, dan pekerja TPST. Selain longsor, tumpukan sampah juga berdampak pada kualitas udara. Bau menyengat dari Bantargebang dapat tercium hingga radius 3–5 kilometer akibat gas hidrogen sulfida (H₂S), amonia (NH₃), dan senyawa organik volatil.

Solusi untuk Mengatasi Krisis

Sri menegaskan, kondisi TPST Bantargebang yang kian memprihatinkan tidak bisa dibiarkan. Pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis dan berkelanjutan. Langkah pertama adalah memperkuat upaya pengurangan sampah, seperti pemilahan di tingkat rumah tangga, pengelolaan kawasan, pembangunan dan pengoperasian ITF serta PLTSa, optimalisasi RDF, pengolahan sampah organik terpusat, dan landfill mining.

Dengan landfill mining, Sri yakin kapasitas Bantargebang dapat bertambah tanpa membuka TPA baru yang berpotensi memicu konflik sosial. Selain itu, pemerintah juga perlu menyiapkan alternatif TPA regional di luar Bantargebang dengan pendekatan sanitary landfill modern berbasis kajian lingkungan hidup strategis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *