Terdapat perasaan sesak yang selalu muncul menghampiri jiwa setiap kali angin Desember berhembus di ufuk Serambi Mekkah. Bagi dunia, bulan Desember mungkin dikenang sebagai momen penuh kegembiraan akhir tahun, liburan, dan tawa yang terdengar di bawah sinar lampu kota.
Namun bagi masyarakat Aceh, bulan Desember merupakan masa suci yang penuh dengan air mata, sebuah periode waktu di mana ingatan bersama membawa kita kembali ke tahun 2004 ketika alam semesta seakan berhenti bernapas dan langit runtuh dalam sekejap. Sudah 21 tahun berlalu, namun getaran peristiwa itu masih terasa dalam lubuk hati yang paling dalam.
Kita tidak hanya membicarakan angka atau data mengenai jumlah jiwa yang hilang, tetapi juga tentang cinta yang terputus tanpa kesempatan untuk berpamitan, tentang pelukan ibu yang lepas di tengah badai gelap, serta tentang sebuah bangsa yang dipaksa tumbuh dewasa akibat luka yang sangat besar.
DETIK-DETIK SAAT BUMI BERGUNCANG:
Pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004, pukul 07.58 WIB. Saat matahari mulai terbit dengan lembut, bumi tiba-tiba bergetar hebat selama sekitar 10 menit.
Gempa bumi dengan kekuatan 9,1 hingga 9,3 skala Richter yang terjadi di Samudra Hindia menghancurkan bangunan dalam sekejap. Namun, ketenangan yang menyelimuti setelah gempa hanyalah permulaan dari malapetaka yang sesungguhnya.
SAAT LAUT MENGARAH KE DARATAN:
Hanya beberapa menit kemudian, air laut menghilang secara aneh, tetapi tidak lama setelah itu terdengar suara gemuruh yang lebih menakutkan daripada ribuan meriam.
Lautan yang berwarna hitam pekat mencapai ketinggian pohon kelapa, mengejar segala sesuatu yang berada di depannya. Lebih dari 230.000 jiwa hilang dalam hitungan menit. Banda Aceh hingga pantai barat daya Aceh hancur total. Tidak ada lagi batas antara rumah, jalan, dan tempat pemakaman massal.
KEAJAIBAN DI TENGAH DUKA:
Di tengah kehancuran yang total, dunia menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Masjid Raya Baiturrahman berdiri tegak di antara puing-puing, menjadi tempat perlindungan terakhir. Demikian pula dengan kisah legendaris Kapal PLTD Apung yang beratnya 2.600 ton terbawa ombak hingga 5 kilometer ke daratan, menjadi saksi bisu betapa hebatnya kekuatan air pada pagi itu.
DESEMBER: WAKTU UNTUK SEMBUH DAN BERIBADAH.
Sampai saat ini, setiap tanggal 26 Desember, Aceh terlihat “berhenti”. Jalan-jalan sepi, suara zikir terdengar dari berbagai sudut desa. Penduduk berbondong-bondong pergi ke Makam Massal Siron untuk meletakkan bunga di atas tanah yang tidak memiliki batu nisan.
Desember di Aceh berkaitan dengan “Menghormati Kenangan” dan menjaga ketangguhan yang luar biasa.
Bulan Desember di Aceh terasa seperti waktu yang mengajak warganya untuk terus merendah dan berdoa. Masih segar dalam ingatan akan luka yang pernah terjadi, kenyataan pahit kembali muncul menyambut.
LUKA YANG KEMBALI BASAH: BANJIR DESEMBER 2025.
Sepertinya ingin menguji ketangguhan yang telah terbukti, di akhir Desember 2025 ini, Aceh tidak hanya diliputi doa peringatan tsunami, tetapi juga kembali harus berjuang dengan air mata.
Curah hujan tinggi yang terus-menerus turun selama beberapa hari menyebabkan sungai-sungai meluap, mengakibatkan ratusan rumah tenggelam di kawasan Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Saat warga sedang bersiap melakukan zikir untuk mengenang 21 tahun tsunami, mereka justru kembali harus berpindah ke tempat pengungsian. Suasana gelap dan dingin di pengungsian tampaknya membangkitkan kembali kenangan buruk masa lalu.
Melihat para ibu yang membawa bayinya melewati genangan air dan para ayah yang berusaha menyelamatkan barang-barang mereka, kita diingatkan bahwa Aceh adalah wilayah yang terus-menerus diuji oleh tantangan alam.
Bencana ini seperti menjadi kenangan menyakitkan bahwa perjuangan masyarakat Aceh dalam hidup berdampingan dengan alam adalah sebuah perjalanan panjang yang belum selesai.
Sekarang, di akhir Desember 2025, rasa sesak itu semakin mengganda. Dua puluh tahun setelah tsunami terjadi, Aceh memang telah berubah wajah dengan bangunan megah dan jalan yang mulus, tetapi luka itu kembali basah oleh banjir yang mengelilingi daratan.
Kami mempelajari bahwa keberanian masyarakat Aceh tidak berarti mereka tidak pernah merasa takut, tetapi kemampuan untuk tetap tegak berdiri meski kaki terendam air dan hati kembali hancur berkeping-keping.
Marilah kita sedikit menundukkan kepala, mengirimkan doa terbaik tidak hanya untuk ratusan ribu syuhada tsunami yang kini tenang dalam pelukan bumi, tetapi juga bagi saudara-saudara kita yang saat ini merasa dingin di tempat pengungsian akibat banjir.
Biarkan rangkaian peristiwa pada bulan Desember ini menjadi kenangan abadi bahwa kehidupan hanyalah singgah sejenak dan alam memiliki cara sendiri untuk menyampaikan pesan. Di atas segalanya, hanya cinta kasih, solidaritas, dan keyakinan yang mampu menjadikan Aceh tetap tangguh.
Aceh tidak akan pernah menyerah, karena dari kesedihan yang paling dalam hingga air yang paling dingin, sebuah bangsa ini telah membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dengan kebanggaan yang jauh lebih kuat.***
