KOMET antarbintang 3I/ATLAS terpantau semakin terang dan memancarkan warna kehijauan saat bergerak mendekati Bumi. Temuan ini berdasarkan citra terbaru teleskop Gemini North di Hawaii yang menunjukkan peningkatan aktivitas komet sejak lintasan dekatnya dengan Matahari pada akhir Oktober lalu.
Gambar yang direkam pada 26 November dari puncak Gunung Mauna Kea memperlihatkan komet 3I/ATLAS berada dalam salah satu fase paling aktif sejauh ini. Pemanasan akibat radiasi Matahari menyebabkan es di dalam komet menyublim dan menyembur ke angkasa bersama debu dalam jumlah besar, membentuk koma terang di sekitar inti komet serta ekor panjang yang bercahaya.
Pengamatan dilakukan menggunakan empat filter warna—biru, merah, oranye, dan hijau. Hasilnya menunjukkan gas di dalam koma komet kini memancarkan cahaya kehijauan samar, yang sebelumnya tidak terdeteksi beberapa bulan lalu. Warna hijau ini berasal dari karbon diatomik (C2), gas yang lazim dilepaskan komet ketika teraktivasi oleh panas Matahari.
Perubahan warna tersebut dinilai signifikan karena 3I/ATLAS tampak lebih kemerahan saat pertama kali diamati pada akhir Agustus, jauh sebelum mendekati Matahari. Kondisi ini menunjukkan adanya pelepasan molekul baru seiring meningkatnya suhu komet, sekaligus memberikan petunjuk baru mengenai komposisinya.
NOIRLab menyatakan perilaku komet ini masih sulit diprediksi ketika mulai menjauhi Matahari dan mendingin. “Yang masih belum diketahui adalah bagaimana perilaku komet ini saat meninggalkan lingkungan Matahari dan mulai mendingin,” tulis perwakilan NOIRLab dalam pernyataan tertulis, dikutip dari laporan Live Science, 13 Desember 2025.
“Banyak komet mengalami reaksi tertunda terhadap panas Matahari karena adanya jeda waktu bagi panas untuk merambat ke bagian dalam komet. Penundaan ini dapat mengaktifkan penguapan bahan kimia baru atau memicu semburan komet,” tambahnya.
3I/ATLAS dijadwalkan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember, dengan jarak sekitar 170 juta mil atau 270 juta kilometer. Para peneliti memperkirakan masih ada kemungkinan munculnya aktivitas lanjutan menjelang maupun setelah momen tersebut.
Komet ini merupakan objek antarbintang ketiga yang pernah ditemukan, setelah 1I/‘Oumuamua dan 2I/Borisov. 3I/ATLAS terdeteksi pada akhir Juni saat melintas di tata surya dengan kecepatan sekitar 130 ribu mil per jam atau 210 ribu kilometer per jam dalam orbit hiperbolik yang tidak akan membawanya kembali ke sekitar Matahari.
Para astronom memperkirakan 3I/ATLAS sebagai objek antarbintang terbesar dan kemungkinan tertua yang pernah diamati. Meski menampilkan sejumlah karakteristik unik, komunitas ilmiah sepakat bahwa komet ini merupakan benda alami, bukan objek buatan atau teknologi alien sebagaimana klaim yang beredar di media sosial.
Puluhan observatorium dan wahana antariksa terus memantau pergerakan 3I/ATLAS untuk mempelajari ukuran, lintasan, komposisi, dan asal-usulnya. Kajian ini diharapkan dapat membuka pemahaman baru tentang ruang antarbintang dan proses pembentukan sistem bintang awal di Galaksi Bima Sakti.
