Melihat Bandung Masa Lalu Melalui Karya Sudjana Kerton

SEBANYAK 24 karya lukisan dan karya seni grafis yang diciptakan oleh seorang senimanSudjana Kerton diperlihatkan secara individual di Galeri Old Bandung Paris Van Java, Plataran Bandung.Pameran berjudul Bandoeng Dulu: Kenangan Melalui Pandangan Sudjana Kertonkejadian tersebut berlangsung dari 16 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, hasil kerja sama antara Sanggar Luhur dan ArtMoments.

Sketsa Sudjana Kerton

Karya-karya Sudjana Kerton yang dipamerkan terdiri dari lukisan dan seni grafis. Lukisan-lukisan yang berupa sketsa ini mengabadikan suasana berbagai lokasi dan sudut di Bandung. Sudjana menggambarkan kota tersebut pada masa 1947-1949. Suasana di jalan, pasar, toko-toko, serta jembatan kereta api di Jalan Viaduct digambar menggunakan pena dan tinta di atas kertas.

Bacaan Lainnya

Meskipun tampak dibuat dengan cepat dan kurang teliti, Sudjana tetap memperhatikan hal-hal seperti perspektif gambar yang menggunakan satu titik hilang. Contohnya dalam karya berjudul “Pemandangan Toko-Toko Cina”. Keahliannya dalam menggambar anatomi juga terlihat pada gambar berjudul “Polisi Militer” yang digambarkan dari tiga sudut dalam satu lembar kertas, serta pada karya “Gadis Bersandar”.

Selain itu, beberapa karya seni grafis Sudjana juga dipamerkan, seperti yang berjudul Kampung dengan tahun 1952-1956 yang dibuat menggunakan teknik litografi. Masih pada masa yang sama, terdapat karya grafis lain bernama “Panen” dan “Kuda Lumping” dengan metode cukil kayu. Sementara karya bertajuk “Pagi-pagi di Sawah” menggunakan teknik serigraph, sedangkan teknik etsa digunakan dalam karya berjudul “Petani di Sawah”.

Lukisan karya Sudjana Kerton berjudul “Pemandangan di Sudut Jalan” yang dibuat pada tahun 1948 hingga 1949. Anwar Siswadi

Menurut putri sulungnya, Tjandra Kerton, Bandung menjadi ruang pengalaman, observasi, dan refleksi yang membentuk pandangan ayahnya terhadap kemanusiaan, kehidupan sehari-hari, serta perjalanan waktu. Perasaan visual Sudjana berkembang dari pengamatan di jalan, permukiman, pasar, dan ritme kota yang dilihatnya melalui dua sudut pandang yang saling terkait. “Sebagai lanskap sosial yang luas hasil dari sejarah dan struktur, serta rangkaian peristiwa harian yang intim,” kata Tjandra dalam keterangannya, Kamis 18 Desember 2025.

Bandung adalah Lanskap Ingatan

Sementara Sendy Widjaja dari ArtMoments mengatakan, karya Sudjana Kerton yang menghadirkan Bandung bukan sebagai kenangan romantis tetapi sebagai lanskap ingatan yang reflektif dari sebuah kota yang pernah dikunjungi namun terus terdengar hingga saat ini. Pameran ini dirancang sebagai sebuah perjalanan naratif melalui Bandung sebagaimana dilihat oleh seniman tersebut. “Penggunaan pensil dan tinta menegaskan ketajaman pengamatan, sementara teknik grafis menciptakan struktur, repetisi, dan disiplin visual,” katanya.

Sudjana Kerton lahir di Bandung pada tanggal 22 November 1922, dan meninggal di kota kelahirannya pada 6 April 1994 ketika berusia 71 tahun. Karier seninya yang dimulai secara mandiri dimulai pada tahun 1940 dari studionya dengan menggambar potret, alam, dan benda-benda. Selanjutnya sejak tahun 1943 ia belajar sambil bekerja bersama beberapa seniman dan pengajar gambar asal Belanda di Bandung.

Pada masa 1944 hingga 1950, Sudjana Kerton turut serta dalam perjuangan dan menciptakan karya seni yang berkaitan dengan perang serta bekerja sebagai jurnalis. Setelah itu, Sudjana melanjutkan studinya ke Belanda, Paris, New York, dan Kota Meksiko, lalu memutuskan untuk kembali ke Bandung pada tahun 1976 dan terus mengembangkan kariernya sebagai seniman hingga akhir hayatnya.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak untuk mengenal Sudjana Kerton. Pameran ini juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga dalam adegan-adegan kecil kehidupan sehari-hari.

Pos terkait