Dalam disiplin ilmu yang saya cintai, Sejarah, kami diajarkan bahwa masa lalu adalah rangkaian peristiwa yang membentuk masa depan. Namun, lima tahun lalu, narasi hidup saya berbelok ke arah yang tidak pernah diprediksi oleh buku teks sejarah mana pun. Saya, seorang guru yang lebih akrab dengan silsilah raja-raja Nusantara dan kronologi Perang Dunia, mendadak diberi amanah memegang kunci “kotak pandora” bernama Bendahara Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Hari ini, saat kalender tahun kelima mulai menipis, saya merasa sedang merayakan wisuda yang paling emosional dalam hidup saya. Akhirnya saya lulus dari jabatan bendahara.
Terjebak di Antara Narasi dan Numerasi
Awalnya, menjadi bendahara bagi saya adalah sebuah paradoks. Di ruang kelas, saya berbicara tentang kebebasan, perjuangan, dan dialektika. Namun di depan layar laptop, saya justru “terpenjara” oleh angka-angka desimal yang kaku. Saya yang terbiasa berpikir kualitatif dipaksa mendadak jadi akuntan.
Tidak ada istilah “kira-kira” dalam dana BOS. Jika dalam sejarah kita bisa berdebat tentang motif di balik sebuah diplomasi, di dalam buku kas umum, selisih satu rupiah pun adalah sebuah “tragedi”. Saya belajar bahwa akuntansi bukan sekadar soal tambah-kurang, melainkan soal seni menata kejujuran di atas kertas.
Menghadapi Badai Regulasi
Lima tahun ini bukan perjalanan yang linear. Saya melewati masa-masa transisi besar dalam birokrasi pendidikan kita. Kita semua tahu betapa dinamisnya regulasi dari sistem manual yang melelahkan hingga migrasi ke platform digital seperti ARKAS yang menuntut ketelitian tingkat dewa.
Setiap kali ada pembaruan aturan atau aplikasi, saya merasa seperti menghadapi serangan mendadak di medan perang. Namun, di situlah letak pembelajarannya. Sebagai guru sejarah, saya menyadari bahwa saya sedang mencatatkan sejarah pribadi tentang bagaimana seorang awam akuntansi berjuang menaklukkan algoritma pajak, memahami labirin PPh dan PPN, hingga memastikan setiap kuitansi memiliki “legitimasi” yang sah di mata pemeriksa.
Belajar dari Balik Kuitansi
Banyak yang mengira tugas bendahara hanya soal uang. Bagi saya, lebih dari itu. Menjadi bendahara adalah belajar tentang kerendahan hati. Saya harus belajar lagi dari nol, bertanya pada yang lebih muda, dan seringkali lembur di saat rekan-rekan lain sudah terlelap.
Saya belajar tentang integritas. Bahwa setiap rupiah yang keluar haruslah memiliki dampak bagi kualitas belajar siswa. Di balik setiap nota pembelian buku atau perbaikan atap kelas, ada tanggung jawab besar untuk memastikan hak-hak pendidikan anak bangsa tersalurkan tanpa kebocoran.
Ujian Pamungkas di Malam Tahun Baru
Namun, sebelum “ijazah” kelulusan ini benar-benar saya dekap, sejarah sedang memberikan ujian pemungkasnya. Di saat dunia mulai bersiap menyambut denting jam pergantian tahun, saya justru sedang merayakan “pesta” saya sendiri.
Tepat di akhir bulan ini, di malam tahun baru 2025, saya berdiri di hadapan deadline akhir pengumpulan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BOS. Di saat orang lain meniup terompet, saya justru menikmati tumpukan lembaran nota SPJ yang menggunung. Setiap stempel dan tanda tangan malam ini adalah salam perpisahan saya pada dunia administrasi yang melelahkan namun mendewasakan ini.
Menutup Buku, Kembali ke Lini Masa
Hari ini, saya resmi meletakkan pena bendahara. Ada rasa lega yang sulit dilukiskan, seperti perasaan para pejuang yang berhasil membawa pulang kemenangan setelah gerilya panjang. Saya akan kembali sepenuhnya ke habitat asli saya, ruang kelas yang penuh dengan debat sejarah.
Saya akan menanggalkan jubah “akuntan dadakan” saya dengan kepala tegak. Lima tahun ini telah menempa saya menjadi pribadi yang lebih teliti, lebih sabar, dan lebih menghargai setiap detil proses.
Kepada pengganti saya nanti, selamat datang di labirin ini. Jangan takut pada angka, karena mereka hanya butuh ketekunan untuk dijinakkan. Dan kepada rekan-rekan guru sejarah, saya kembali ke barisan. Mari kita ceritakan kembali masa lalu, tanpa perlu lagi pusing memikirkan saldo pajak yang belum sinkron.
Saya Anditya, Guru Sejarah, dengan ini menyatakan diri “Lulus” dengan predikat Summa Cum Laude dari Bendahara BOS. Selamat menikmati akhir tahun 2025, biarlah tumpukan nota ini menjadi kembang api terakhir saya sebelum fajar Tahun Baru 2026 menyapa.







