Longsor dan Pohon Tumbang Tutup Jalan Buleleng dan Jembrana, Baca Beritanya

https://mediahariini.com– Kondisi cuaca buruk di Kabupaten Buleleng menyebabkan terjadinya tanah longsor serta pohon tumbang. Sementara itu, di Kabupaten Jembrana, pohon yang tumbang menimpa rumah dan satu unit dapur semi permanen milik warga mengalami kerusakan parah saat hujan deras.

Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam kejadian tersebut, tetapi bencana yang terjadi di Kabupaten Buleleng menyebabkan jalan tertutup. Seperti yang terjadi di kawasan Banjar Dinas Tista, Desa Dapdap Putih, Kecamatan Busungbiu. Material tanah longsor menutup jalur jalan arah Dapdap Putih – Pupuan, yang merupakan jalan provinsi.

“Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (11/12) sekitar pukul 17.30 Wita. Pada saat itu, wilayah sekitar sedang diguyur hujan, sehingga menyebabkan longsoran dari tebing di sekitar lokasi,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, I Gede Suyasa saat diwawancarai Jumat (12/12).

Setelah kejadian, upaya pengangkutan material longsor telah dilakukan secara manual. Pada hari Jumat pagi, pekerjaan dilanjutkan dengan bantuan alat berat (loader) dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali, serta penyemprotan oleh Damkar Buleleng.

Akses jalan tertutup juga terjadi pada ruas jalan Singaraja – Gilimanuk, khususnya di wilayah Banjar Dinas Madan, Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, yang termasuk dalam jalan nasional. Pohon jenis kayu intaran roboh akibat angin kencang dan kondisi akar yang sudah membusuk pada Jumat (12/12).

Kepala Humas Polres Buleleng IPTU Yohana Rosalin Diaz menyampaikan, kejadian pohon tumbang terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Batang pohon menutupi seluruh permukaan jalan, sehingga menyebabkan kemacetan.

“Peristiwa tersebut menyebabkan kendaraan dari arah Gilimanuk maupun Singaraja tidak dapat melewati jalan dan menimbulkan antrean yang cukup panjang. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa akibat pohon yang tumbang,” katanya.

Pengangkutan bahan pohon yang roboh segera dilakukan. Proses pengangkutan memakan waktu selama satu jam, karena ukuran bahan pohon yang cukup besar.

“Terkait kejadian ini, kami mengajak masyarakat, khususnya pengendara jalan untuk lebih waspada selama musim hujan. Karena kemungkinan pohon roboh dan tanah longsor meningkat,” ujarnya.

Di sisi lain, dua kejadian bencana alam akibat cuaca ekstrem menyebabkan bangunan milik warga Jembrana mengalami kerusakan dalam dua hari terakhir.

Sebuah peristiwa pohon tumbang mengenai rumah dan satu lagi dapur semi permanen milik penduduk roboh saat hujan lebat. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Namun, kerusakan materi diperkirakan mencapai jutaan rupiah.

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh BPBD Jembrana, kejadian pohon tumbang terjadi di Banjar Klatakan, Desa/Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana pada hari Kamis (11/12) sekitar pukul 22.30 Wita.

Peristiwa itu terjadi akibat hujan lebat yang membuat tanah menjadi lunak dan tidak mampu menopang berat pohon.

Pohon jenis santen yang memiliki ketinggian sekitar 25 meter dan diameter sekitar 40 sentimeter roboh dan menimpa rumah tempat tinggal berupa bangunan semi permanen serta bangunan toilet milik warga bernama Suparmanto.

Akibat peristiwa tersebut, bagian atap rumah serta kamar mandi mengalami kerusakan. Sementara luas bangunan yang terkena dampak adalah 6×8 meter.

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun cedera yang terjadi dalam kejadian ini. Setelah peristiwa tersebut, permintaan perbaikan akan disampaikan kepada PMI Kabupaten Jembrana.

Di tempat lain, dapur semi permanen milik warga Banjar Pangkung Lubang, Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo roboh pada hari Rabu (10/12) malam.

Dapur milik I Wayan Suanda (81) roboh saat hujan deras dan diperparah oleh kondisi bangunan yang sudah tua dan rusak.

Sehingga, bentuk bangunan tidak mampu menopang beban dan akhirnya runtuh. Bangunan tersebut sudah tidak digunakan untuk kegiatan memasak sehari-hari.

Dari dua peristiwa tersebut, atap rumah penduduk di Melaya mengalami kerusakan dan bangunan dapur roboh dengan kerugian diperkirakan sekitar Rp 7 juta lebih.

“Semua peristiwa ini telah kami perhatikan dan lakukan penilaian. Kebutuhan pokok juga telah kami serahkan berupa bahan makanan dan terpal,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra saat diwawancarai, Jumat (12/12).

Ia mengajak, sejumlah prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi, seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan persiapan menghadapi bencana.

Di tengah kondisi saat ini, risiko bencana seperti banjir, pohon tumbang, dan longsor tanah sangat mungkin terjadi. “Kami terus-menerus mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada. Jika menemukan kejadian bencana, segera laporkan agar segera ditangani oleh petugas yang berwenang,” ujarnya. (mer/mpa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *