Literasi digital untuk Makassarku

Literasi Digital untuk Makassarku

Oleh: Adekamwa

Bacaan Lainnya

Humas Pusjar SKMP LAN

Ringkasan Berita:

  • Makassar memasuki 2026 dengan percepatan pembangunan dan digitalisasi layanan publik, termasuk aplikasi LONTARA+. 
  • Namun keberhasilan Smart City bergantung pada literasi digital warga. 
  • Literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gadget, melainkan kecakapan memahami informasi, memilah sumber, dan bersikap kritis. 
  • Tanpa itu, teknologi berisiko memperlebar ketimpangan.

 

– Tahun 2026 sudah di depan mata.

Kota Makassar memasuki fase baru setelah melewati dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang padat sepanjang 2025. 

Pembangunan fisik berjalan, layanan publik diperluas, dan digitalisasi dipercepat. 

Pada bagian ini, Penulis mencatat satu pertanyaan mendasar.

Sejauh mana kesiapan warga Makassar mengikuti percepatan perubahan kota ini?

Makassar adalah kota yang tumbuh cepat.

Infrastruktur publik terus dibangun. 

Jalan, ruang terbuka, dan layanan berbasis digital semakin tersedia.

Tetapi fasilitas, sebaik apa pun, hanya efektif jika digunakan secara sadar dan bertanggung jawab oleh warganya. 

Di sinilah tantangan utama muncul.

Bagi Penulis, kota ini tidak hanya menuntut ketangguhan fisik, tetapi juga ketahanan sosial dan kecakapan intelektual warganya.

Literasi Digital sebagai Investasi Jangka Panjang

Penulis meyakini, salah satu prasyarat utama adalah literasi digital.

Literasi digital sering disederhanakan sebagai kemampuan menggunakan gadget atau aplikasi. 

Pandangan ini keliru. Literasi digital mencakup pemahaman informasi, kemampuan memilah sumber, sikap kritis terhadap konten, serta kesadaran etis dalam ruang digital. 

Tanpa kemampuan itu, teknologi justru memperlebar ketimpangan, bukan mempersempitnya.

Literasi digital juga berkaitan dengan cara seseorang mencari dan memproses informasi.

Proses ini tidak instan. dimulai dari pencarian, dilanjutkan dengan seleksi sumber, peringkasan, pemantauan, hingga verifikasi.

Setiap tahap menuntut kemampuan berpikir kritis untuk menghindari kebingungan dan disinformasi.

Kesenjangan literasi digital tidak bisa diserahkan pada individu semata.

Intervensi pendidikan menjadi kunci. Keluarga yang terdidik, sekolah yang adaptif, dan kebijakan publik yang konsisten harus bekerja bersama. 

Jika tidak, jurang antara kemampuan teknis menggunakan teknologi dan kemampuan memahami dampaknya akan semakin melebar.

Data global memperkuat urgensi ini.

Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa perilaku pengguna internet semakin kompleks. Pada Februari 2025, rata-rata orang dewasa menghabiskan sekitar 6 jam 38 menit per hari di internet.

Alasan utama penggunaan internet tetap untuk mencari informasi, dengan 62,8 persen responden menyatakan tujuan tersebut. (https://wearesocial.com/id/blog/2025/02/digital-2025-the-essential-guide-to-the-global-state-of-digital/)

Di saat yang sama, akses digital didominasi oleh perangkat mobile.

Tercatat 5,78 miliar pengguna ponsel di dunia, atau lebih dari 70 persen populasi global.

Sebagian besar menggunakan gadget. 

Kecepatan unduh seluler meningkat tajam dalam dua tahun terakhir.

Artinya, hambatan teknis semakin kecil, sementara tantangan pemahaman semakin besar.

Tren ini menunjukkan bahwa literasi digital tidak lagi soal akses.

Pengguna kini menghadapi banyak kanal, format, dan arus informasi yang simultan.

Tanpa kemampuan memilah dan memahami, warga mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan atau manipulatif.

LONTARA + untuk Warga

Dalam konteks inilah kota Makassar meluncurkan LONTARA+ (Layanan Online Terintegrasi Warga Makassar).

Aplikasi ini menandai fase penting transformasi layanan publik pada 2025.

Sebuah inovasi teknologi, yang menunjukkan pernyataan kebijakan tentang arah tata kelola pemerintahan.

Sejak diluncurkan pada 27 Juli 2025, aplikasi layanan aduan LONTARA+ mencatat 2.106 laporan warga kota Makassar hingga 11 Desember 2025.

Aduan didominasi persoalan lampu jalan, disusul persampahan, drainase, serta jalan rusak dan layanan PDAM. 

Dari sisi penggunaan, LONTARA+ telah diunduh 42.391 kali.

Kecamatan Manggala menjadi wilayah dengan tingkat pemanfaatan tertinggi, disusul Tamalate dan Rappocini, sementara penggunaan terendah tercatat di Kepulauan Sangkarrang.

Pemerintah Kota Makassar menegaskan bahwa LONTARA+ hadir untuk menyederhanakan akses layanan, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat akuntabilitas. 

Digitalisasi layanan publik kini menyatu dengan reformasi birokrasi, membuat pelayanan lebih transparan, responsif, dan fokus pada kebutuhan warga.

Smart City dan Kapasitas Warga

Namun, keberhasilan jangka panjang LONTARA+ sangat bergantung pada literasi digital warga.

Aplikasi ini dirancang untuk berbagai kelompok, dari pelajar hingga lansia.

Prinsipnya inklusif.

Tetapi inklusivitas teknis tidak otomatis berarti inklusivitas pemahaman.

“Digital literacy has become a key requirement for effective citizenship in an information-intensive society.” – Prof. David Bawden, Journal of Documentation, 2001.

Jika dicermati lebih jauh, Penulis menilai tanpa literasi digital yang memadai, warga berisiko menjadi pengguna pasif.

Mereka hanya mengakses tanpa memahami hak, kewajiban, dan dampak dari interaksi digital tersebut. 

Makassar sedang membangun Smart City serta membentuk masyarakat digital yang membutuhkan investasi jangka panjang pada pendidikan, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak pada peningkatan kapasitas warga.

Relasi kota dan warga menjadi titik pijak Penulis dalam membaca Makassar hari ini.

Teknologi berfungsi sebagai instrumen. Penentu arah tetap manusia di balik penggunaannya.

Syahdan, di era disrupsi digital, masa depan kota tidak ditentukan oleh kecanggihan aplikasi, tetapi oleh kecakapan warganya dalam memahami, mengawasi, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Wallahu A’lam Bishawab.  (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *