Libur Nataru bikin terasi Toboali diserbu pembeli, omzet UMKM naik lebih dari dua kali lipat

, BANGKA– Momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) membawa berkah bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Lonjakan jumlah pengunjung ke kawasan destinasi wisata dan arus belanja masyarakat dari berbagai daerah turut mendongkrak omzet penjualan. Khususnya produk pangan khas daerah.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya yang dirasakan oleh salah satu pelaku UMKM lokal Toboali, Muzaina atau yang akrab disapa Cik Pudeng.

Selama momentum libur Nataru banyak wisatawan yang berbondong-bondong mendatangi lapak sederhananya di kawasan Batu Perahu, Kelurahan Tanjung Ketapang. Sejak pagi, pengunjung terus berdatangan ke lapak sederhana miliknya.

Lapak kecil itu nyaris tak pernah lengang dengan pembeli bergantian memilih kemplang, terasi, dan kue tradisional sebagai oleh-oleh. Sejumlah pengunjung tampak memperhatikan dan memilih kemplang serta kue tradisional yang digantung dalam kantong plastik.

Cik Pudeng sibuk melayani pembeli sambil menata stok terasi dan kue isi nanas. Bahkan udara di sekitar lapak tersebut tercium kuat aroma khas terasi dan ikan kering yang baru dikemas. 

Suasana tampak ramai, mencerminkan tingginya permintaan oleh-oleh lokal menjelang libur akhir tahun.

Muzaina mengungkapkan selama libur Natal 2025 ada peningkatan penjualan yang cukup signifikan dibandingkan hari biasa. 

Terutama produk unggulan seperti belacan (Terasi), kemplang, kue isi selai nanas, hingga kue papan menjadi komoditas yang paling banyak diburu pembeli selama masa liburan. Bahkan omzet penjualan meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari normal.

“Kalau hari biasa, penjualan paling di kisaran Rp300.000 sampai Rp500.000 per hari. Tapi sekarang bisa tembus sampai Rp1 juta per hari,” kata dia kepada di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Minggu (28/12/2025).

Menurutnya peningkatan penjualan tersebut mulai terasa sejak memasuki masa libur Natal dan diperkirakan masih akan bertahan hingga libur Tahun Baru 2026. Kondisi ini seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat yang berkunjung ke Bangka Selatan maupun yang sengaja berburu oleh-oleh khas daerah.

Belacan atau terasi asli Toboali menjadi produk paling diminati. Selain itu, kemplang ikan, kemplang udang, kue papan, serta kue isi selai nanas juga tak kalah laris dibeli konsumen. 

Tak hanya masyarakat lokal, pembeli datang dari berbagai wilayah di Pulau Bangka. Tidak sedikit pelanggan dari luar daerah yang sengaja singgah untuk membeli terasi khas Toboali.

Terasi memang menjadi komoditas yang paling diburu setiap momentum libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini tidak lepas dari reputasi terasi Toboali yang dikenal memiliki kualitas baik dan cita rasa khas.

“Yang beli kebanyakan dari Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, hampir seluruh Pulau Bangka. Bahkan orang Palembang juga ada yang datang khusus beli terasi,” jelas Cik Pudeng.

Untuk harga jual, terasi Toboali dipasarkan dengan kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, tergantung kualitas dan biaya produksi.

Sementara itu, kemplang ikan mentah dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram, kemplang udang Rp50.000 per kilogram, serta kue papan dibanderol Rp10.000 per bungkus. Diakuinya, peningkatan omzet penjualan ini sangat membantu kondisi keuangan keluarga.

Terlebih di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang masih dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap, tren positif penjualan ini dapat terus berlanjut, tidak hanya pada momentum libur panjang, tetapi juga di hari-hari biasa.

Dukungan masyarakat terhadap produk lokal sangat berperan dalam menjaga keberlangsungan UMKM di daerah.

“Alhamdulillah, lumayan penghasilan ini bisa membantu menambah untuk beli kebutuhan pokok. Apalagi sekarang harga bahan pokok lagi naik,” katanya.

Cik Pudeng mengaku bersyukur meningkatnya omzet pada masa libur akhir tahun menjadi gambaran bahwa produk lokal masih memiliki daya tarik kuat di mata konsumen.

Selain menjadi oleh-oleh khas daerah, produk UMKM juga berkontribusi langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat kecil di Bangka Selatan.

Momentum libur Natal dan Tahun Baru pun menjadi peluang strategis bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi lokal di tengah tantangan kenaikan harga dan kondisi ekonomi yang dinamis.

“Mudah-mudahan kondisi seperti ini bisa terus berlanjut. Penjualan terasi meningkat, keuangan juga terbantu,” ujar Cik Pudeng.

Yusinta (37) warga asal Sungailiat, Kabupaten Bangka menyebut kunjungannya ke lapak UMKM Toboali dilakukan saat momentum libur Natal dan Tahun Baru untuk membeli terasi dan kemplang sebagai oleh-oleh sebelum kembali ke daerah asal. 

Sebab, karena kualitas dan cita rasa terasi khas Toboali sudah dikenal baik serta cocok dijadikan oleh-oleh bagi keluarga.

“Terasi dan kemplangnya memang khas, jadi setiap ke Bangka Selatan selalu beli,” ucapnya.

Sebab itu, dirinya berharap kualitas terasi dan kemplang khas Toboali tetap terjaga. Sehingga produk UMKM lokal tersebut terus diminati dan mampu bersaing dengan produk serupa dari daerah lain.

Pelaku UMKM di Toboali terus mendapat dukungan sehingga produk lokal tetap lestari dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. 

(/Cepi Marlianto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *