Suara Flores – Seiring meningkatnya harga BBM dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, motor listrik semakin dilirik sebagai alternatif kendaraan harian. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya: apakah benar motor listrik lebih hemat dibanding motor bensin? Bagaimana perbandingan biaya operasionalnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini adalah perbandingan lengkap antara motor listrik dan motor bensin dari sisi biaya harian, perawatan, hingga efisiensi jangka panjang. Artikel ini disusun berdasarkan data terbaru tahun 2026 dan ditulis dengan gaya khas yang mudah dipahami.
Biaya Pengisian Daya vs Biaya BBM
Motor listrik menggunakan daya listrik untuk bergerak, sedangkan motor konvensional mengandalkan bahan bakar minyak (BBM). Perbedaan ini menjadi faktor utama dalam efisiensi biaya.
Untuk menempuh jarak 60 hingga 100 kilometer, motor listrik seperti Gesits atau Alva hanya membutuhkan daya sekitar 1,5 hingga 2 kWh. Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp 1.500 per kWh, biaya pengisian penuh hanya sekitar Rp 3.000.
Sebaliknya, motor bensin dengan kapasitas mesin 110 hingga 150 cc membutuhkan sekitar 2 hingga 3 liter bensin untuk jarak yang sama. Dengan harga Pertalite yang kini menyentuh Rp 10.000 per liter, biaya perjalanan bisa mencapai Rp 20.000 hingga Rp 30.000.
Dari sisi ini saja, motor listrik bisa menghemat hingga 80 persen biaya energi harian dibanding motor bensin.
Biaya Perawatan Rutin
Motor bensin memiliki banyak komponen bergerak seperti mesin, oli, busi, filter udara, dan rantai yang memerlukan perawatan rutin. Biaya servis berkala bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 300.000 setiap tiga bulan, tergantung jenis motor dan bengkel.
Sementara itu, motor listrik memiliki sistem yang jauh lebih sederhana. Tidak perlu ganti oli, tidak ada busi, dan minim perawatan. Biaya servis berkala motor listrik hanya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per tiga bulan.
Dalam jangka panjang, motor listrik jelas lebih murah dalam hal perawatan karena komponennya lebih sedikit dan tidak mudah aus.
Umur dan Biaya Baterai
Salah satu kekhawatiran pengguna motor listrik adalah soal baterai. Umur baterai rata-rata berkisar antara 3 hingga 5 tahun, tergantung pada pola penggunaan dan perawatan.
Biaya penggantian baterai saat ini berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per unit. Namun, beberapa produsen seperti Gesits dan Alva menawarkan sistem sewa baterai atau garansi hingga 3 tahun, yang bisa mengurangi beban biaya di awal.
Sebagai perbandingan, motor bensin memang tidak memiliki baterai utama yang mahal, tetapi setelah 5 hingga 7 tahun pemakaian, biasanya dibutuhkan biaya besar untuk overhaul mesin atau penggantian komponen utama.
Dengan kata lain, meskipun baterai motor listrik mahal, penghematan dari sisi BBM dan servis selama 3 hingga 5 tahun bisa menutupi biaya tersebut.
Pajak dan Insentif Pemerintah
Pemerintah Indonesia memberikan berbagai insentif untuk kendaraan listrik, termasuk pembebasan atau pengurangan pajak kendaraan bermotor (PKB) di beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.
Motor listrik juga dibebaskan dari uji emisi dan memiliki biaya STNK serta BPKB yang lebih murah dibanding motor bensin.
Sebaliknya, motor bensin tetap dikenakan PKB tahunan yang biasanya sebesar 1,5 persen dari nilai jual kendaraan, ditambah biaya administrasi lainnya.
Dari sisi legalitas tahunan, motor listrik jelas lebih hemat dan ramah regulasi.
Infrastruktur dan Kemudahan Pengisian
Salah satu tantangan motor listrik adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Saat ini, SPBKLU (Stasiun Pengisian Baterai Kendaraan Listrik Umum) mulai tersedia di SPBU Pertamina, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran di kota besar.
Namun, untuk pengguna di daerah, pengisian daya di rumah masih menjadi solusi utama. Proses pengisian membutuhkan waktu 3 hingga 5 jam tergantung kapasitas baterai dan daya listrik rumah.
Motor bensin masih unggul dalam hal fleksibilitas, karena SPBU tersedia hampir di seluruh wilayah Indonesia dan pengisian bahan bakar hanya memakan waktu beberapa menit.
Total Biaya Operasional per Tahun
Jika dihitung secara kasar, motor listrik hanya membutuhkan sekitar Rp 500.000 untuk biaya energi selama setahun, ditambah servis sekitar Rp 400.000, dan pajak yang sangat minim atau bahkan gratis. Totalnya berkisar di angka Rp 1 juta per tahun.
Sementara itu, motor bensin membutuhkan sekitar Rp 3 juta untuk BBM, Rp 1,2 juta untuk servis, dan Rp 500.000 hingga Rp 700.000 untuk pajak dan legalitas. Totalnya bisa mencapai Rp 5 juta per tahun.
Motor Listrik Lebih Hemat untuk Harian
Jika digunakan untuk kebutuhan harian seperti kerja, kuliah, atau antar jemput anak, motor listrik jelas lebih hemat dan efisien. Dalam jangka waktu 3 hingga 5 tahun, penghematan bisa mencapai belasan juta rupiah.
Namun, untuk perjalanan jauh atau daerah yang belum memiliki infrastruktur pengisian, motor bensin masih menjadi pilihan yang lebih fleksibel.
Dengan semakin banyaknya pilihan motor listrik di tahun 2026 dan dukungan pemerintah yang terus meningkat, kini saatnya mempertimbangkan transisi ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.







