Lebih dari Sekadar Mengamen, Sosiolog Tampilkan Kreativitas Tinggi

Peran Pengamen Biola dalam Dinamika Ruang Publik Jakarta

Pengamen biola di Jakarta kini menjadi fenomena yang menarik perhatian masyarakat. Mereka hadir sebagai simbol kreativitas dan seni yang berbeda dari pengamen jalanan biasanya. Menurut Rakhmat Hidayat, sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kehadiran mereka memberikan corak baru dalam dinamika ruang publik Ibu Kota.

Di tengah stereotip bahwa pengamen jalanan sering dianggap mengganggu atau memaksa, pengamen biola justru tampil sebagai representasi dari kreativitas dan seni yang jarang ditemukan di persimpangan jalan. Menurut Rakhmat, mereka menampilkan sesuatu yang unik dan kreatif. Tidak semua orang bisa memainkan biola, sehingga kemampuan mereka menjadi hal yang istimewa.

Bacaan Lainnya

“Bagi saya, ini harus dihargai karena lebih manusiawi dibanding memaksa atau mengemis,” ujarnya.

Kreativitas dan Bertahan Hidup

Menurut Rakhmat, pengamen biola tidak hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga menunjukkan kreativitas masyarakat perkotaan. Mereka memiliki skill yang berbeda dan menampilkan sesuatu yang unik untuk mendapatkan uang. Ini menjadi bentuk ekspresi diri yang berbeda dari aktivitas lainnya.

“Yang mengganggu itu yang memaksa, ngetok-ngetok pintu mobil, narik-narik. Tapi yang perform, memainkan lagu enak, dan tidak mengganggu, ini menjadi bagian dari seni kota. Lebih manusiawi,” tambahnya.

Rakhmat menilai bahwa pelarangan total terhadap pengamen biola dapat menghilangkan kreativitas yang justru memperkaya budaya jalanan Jakarta. Jika bisa ditata, difasilitasi, dan diberdayakan, mereka bisa menjadi lebih profesional dan terlindungi.

Ruang Kreativitas di Tengah Kota

Pilihan memainkan biola di ruang publik bukan sekadar aktivitas untuk bertahan hidup, tetapi juga sebuah bentuk seni urban. Rakhmat menjelaskan bahwa fenomena ini tumbuh seiring meningkatnya orang yang mencari “ruang bertahan” di kota, terutama ketika pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat dan lapangan kerja formal semakin sulit diakses.

Mereka mungkin tidak punya pendidikan atau keahlian profesional, tetapi memiliki kemampuan tertentu yang bisa mereka jual. Dibanding memaksa atau mengemis, ini jauh lebih manusiawi.

Dalam pengamatannya, kelompok pengamen biola bahkan mulai membentuk formasi musik kecil di beberapa titik lampu merah. Ada yang main drum kecil, ada yang nyanyi, ada yang main biola. Itu art the street. Seni jalanan.

Suara Biola di Antara Deru Kendaraan

Siang itu, Kamis (11/12/2025) pukul 14.30 WIB, deru knalpot dan klakson memenuhi persimpangan Jalan Teuku Cik Ditiro, Cikini, Jakarta Pusat. Di tengah kepadatan kendaraan, suara biola terdengar lirih, memecah kebisingan yang seakan tak pernah berhenti.

Seorang pengamen laki-laki berjaket hitam, topi kuning, dan celana pudar berdiri di tengah jalur kendaraan. Kedua tangannya luwes menggerakkan biola yang tampak sudah lama menjadi sahabat hidupnya. Gelas plastik hitam di pangkal biola menjadi wadah untuk menampung recehan dari pengguna jalan.

Setiap kali lampu merah, ia melangkah cepat menuju barisan pengendara. Langkahnya lincah, tapi selalu berhati-hati agar tak terserempet motor yang melaju perlahan. Melodi pop yang dimainkan terdengar berulang, seirama dengan durasi lampu merah.

Deni Si Pengamen Biola

Di sela jeda lampu merah, pengamen itu memperkenalkan diri. Namanya Deni (22), berasal dari Citayam, Depok. Awalnya dia pakai gitar kecil, lalu melihat teman pakai biola dan meminjam-minjam. Seminggu udah bisa.

Bagi Deni, biola bukan hanya alat musik, tetapi penyelamat hidup. Ia mulai belajar biola pada 2018, bermodal instrumen murah yang ia beli sendiri setelah merasa cepat menguasainya. Kemampuan bermain melodi gitar memudahkan proses belajar biola.

Deni sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia lima tahun. Uang yang didapat dari hasil mengamen digunakan untuk keperluan keluarga. Setiap hari, ia bisa mengantongi pendapatan antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Pendapatan itu langsung ia serahkan kepada keluarganya.

Razia Satpol PP

Selama mengamen, Deni sudah lima kali ditangkap oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Razia terjadi di banyak titik: Lenteng Agung, Pasar Minggu, Menteng, hingga saat ulang tahun Jakarta. Jika razia gabungan datang dengan mobil operasional, ia tak bisa lari.

Tak hanya razia, persaingan sesama pengamen biola atau pengamen lainnya juga menjadi tantangan tersendiri bagi Deni. Persaingan banyak, tetapi ia hanya fokus pada keluarga. Rezeki mah udah ada yang ngatur.

Pedagang Turut Menyaksikan

Laras (38), penjual minuman dan gorengan di trotoar dekat lampu merah Teuku Cik Ditiro, sudah 11 tahun berjualan di lokasi itu. Ia menyaksikan perubahan jenis pengamen dari tahun ke tahun. Dulu mah pengamen biasa, yang biola baru ramai beberapa tahun ini.

Menurut dia, suara biola membuat suasana kadang lebih hidup. Kalau lagunya enak, pembeli malah suka nengok. Enggak bising kayak pengamen lain. Namun, ia juga menyaksikan kerasnya hidup pengamen.

Kebijakan Pemerintah

Satpol PP Jakarta Pusat menegaskan bahwa pengamen tetap masuk dalam objek penertiban sesuai Perda Ketertiban Umum DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menyampaikan bahwa aturan tersebut berlaku jelas.

Penertiban dilakukan secara rutin, terutama di ruas-ruas jalan protokol, di antaranya Cikini, Menteng, dan Sudirman. Razia gabungan dengan mobil operasional dilakukan ketika situasi dianggap sudah mengganggu.

Pos terkait