Ringkasan Berita:
- Kongres Nasional PEKHI 2025 akan diadakan di Surabaya dengan fokus pada peningkatan pelayanan terapi oksigen hiperbarik yang menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
- Kongres menekankan standarisasi peralatan, fasilitas dan infrastruktur, peningkatan sumber daya manusia, serta memperkuat kerja sama antar pihak.
- Terapi hiperbarik kini semakin sering digunakan dalam pengobatan berbagai kondisi medis seperti stroke, diabetes, dan luka yang sulit pulih.
- Kepala Puskesal Laksma TNI dr Sujoko Purnomo terpilih sebagai pemimpin PEKHI untuk masa jabatan 2025–2029.
| SURABAYA –Kongres Nasional Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia (PEKHI) 2025 akan diadakan di Surabaya.
Salah satu hal yang mendapat perhatian serius adalah peningkatan layanan hiperbarik, dengan fokus utama pada keamanan pasien.
Selain itu, pengaturan alat dan fasilitas serta peningkatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian yang tidak boleh diabaikan.
“Yang penting juga memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak,” ujar Ketua Kongres Nasional PEKHI 2025 Laksma TNI dr Sujoko Purnomo, Selasa (16/12/2025).
Di Kongres Nasional PEKHI, hadir pejabat puncak dari Pusat Kesehatan TNI AL (Puskesal), direktur rumah sakit yang menyediakan terapi oksigen, para akademisi di bidang kesehatan, penyelam, serta perwakilan delegasi dari Malaysia.
Pengamatan di lokasi konferensi, mereka antusias mengikuti setiap sesi, termasuk sesi ilmiah dan diskusi.
Terdapat pula peralatan Chamber atau kapsul oksigen yang umum digunakan untuk memeriksa kondisi para penyelam.
Kepala Puskesmas Laksma yang juga ketua Kongres Dokter Sujoko Purnomo terlihat memeriksa dan mengamati kapsul oksigen yang masih dibungkus kain.
Alat ini disediakan oleh Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL.
Kongres Nasional tersebut juga merespons perkembangan terus meningkatnya kasus penyakit klinis.
Pasien yang mengalami stroke dan diabetes saat ini sering menggunakan terapi hiperbarik.
Terapi oksigen murni dengan tekanan tinggi yang berfungsi mempercepat proses pembentukan sel tubuh.
Luka akibat diabetes dapat dihindari dari amputasi serta tidak sampai mengalami nekrosis melalui pengobatan hiperbarik.
Demikian pula untuk suntikan jaringan mati dan berbagai penyakit klinis lainnya.
“Penyakit klinis semakin meningkat setiap tahun dengan variasi kasus yang beragam. Jumlah pasien yang menjalani terapi hiperbarik tentu juga meningkat,” ujar Kalakesla, Kolonel Laut (K/W) Dr. dr. Titut Harnanik, M.Kes., Sp.KI., Subsp. PH (K).
Sujoko Purnomo Pimpin PEKHI
Kepala Pusat Kesehatan TNI AL (Kapuslesal) Laksma TNI dr Sujoko Purnomo terpilih dalam musyawarah besar PEKHI 2025.
Sosok mantan Kepala RSPAL Surabaya akan memimpin organisasi hiperbarik ini hingga tahun 2029.
Joko menyatakan bahwa kongres tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkuat peran terapi oksigen hiperbarik (TOHB) dalam pelayanan kesehatan nasional. Semua pihak perlu bekerja sama secara sinergis.
Tenaga perawat, teknisi, penyelam, serta akademisi memainkan peran yang tak terpisahkan dalam memastikan layanan terapi oksigen hiperbarik yang aman, berkualitas, dan berlandaskan standar keselamatan.
Terapi oksigen hiperbarik tidak hanya digunakan dalam situasi penyelaman.
Di tengah perkembangan ilmu kesehatan, TOHB telah menjadi terapi pendukung dalam berbagai kondisi medis seperti luka yang sulit pulih, penyakit degeneratif, gangguan autoimun, hingga penguatan kondisi fisik.
PEKHI berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi seluruh profesi yang tergabung, memperkuat standar keselamatan dalam penyelaman serta kesehatan hiperbarik, memperluas penelitian, pelatihan, dan inovasi, serta menciptakan kerja sama dengan komunitas penyelam, institusi maritim, pendidikan, dan organisasi profesi.







