Kisah satpam Sragen jadi relawan banjir Sumatera, baru pamit istri saat tiba di lokasi bencana

Ringkasan Berita:

  • Setiawan (43), satpam asal Sragen, menjadi relawan banjir di Sumatra sejak 1 hingga 26 Desember 2025 bersama tim Basarnas Jawa Tengah
  • Keberangkatannya didorong rasa tanggung jawab kemanusiaan karena banyak relawan Jawa Tengah sebelumnya telah terkuras tenaga menangani bencana di Cilacap
  • Aktif sebagai relawan SAR sejak 2005, Setiawan bukan pendatang baru dalam misi kemanusiaan, dengan pengalaman terjun ke berbagai bencana seperti Padang dan Merapi

 

Bacaan Lainnya

Wajah lelah masih jelas tergambar dari raut Setiawan (43) saat ditemui TribunSolo.com, Senin (29/12/2025).

Meski langkahnya kembali menapak tanah kelahirannya, kelelahan perjalanan panjang dan beratnya tugas kemanusiaan belum sepenuhnya hilang dari tubuh pria asal Kelurahan Sragen Tengah, Kecamatan/Kabupaten Sragen itu.

Dua hari sebelumnya, tepat pada Sabtu (27/12/2025), Setiawan baru saja tiba di Sragen setelah hampir sebulan penuh mengabdikan diri sebagai relawan banjir di Sumatra.

Tanpa banyak jeda untuk memulihkan tenaga, ia langsung kembali menjalani rutinitasnya sebagai satuan pengamanan (Satpam) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 78 Sragen.

Menempuh Jarak, Mengorbankan Waktu

Dengan mengenakan kemeja batik putih, Setiawan mengisahkan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.

Perjalanan itu bukan sekadar berpindah tempat, melainkan langkah penuh tekad untuk menolong sesama.

“Saya berangkat mulai dari 1 Desember pukul 03.00 WIB, pulangnya itu tanggal 26 Desember dari Sumatra dan tiba di Jakarta di tanggal yang sama, kemudian tiba di Sragen hari Sabtu sore,” katanya.

Sebelum meninggalkan Sragen, Setiawan terlebih dahulu meminta izin kepada Kepala SRT 78 Sragen.

Setelah mendapatkan restu, ia menuju Semarang dengan bus untuk bergabung bersama relawan lain asal Jawa Tengah, menyiapkan diri menghadapi medan berat dan situasi darurat di lokasi bencana.

Dari Solo Raya untuk Sumatra

Setiawan, ayah satu anak, menjadi salah satu dari empat relawan asal Solo Raya yang tergabung bersama tim Basarnas Jawa Tengah.

Pada hari keberangkatan, para relawan dibagi menjadi tiga tim, masing-masing membawa logistik yang diperlukan untuk menunjang operasi kemanusiaan di daerah terdampak banjir.

Bagi Setiawan, dunia penyelamatan bukanlah hal baru.

Sejak tahun 2005, ia telah aktif sebagai relawan SAR Himalawu, menjadikannya sosok yang terbiasa menghadapi risiko demi menyelamatkan nyawa orang lain.

Menggantikan Relawan yang Butuh Rehat

Keputusan berangkat ke Sumatra bukanlah keputusan impulsif. Setiawan mengaku dorongan tersebut muncul dari kepekaan nurani dan rasa tanggung jawab sebagai relawan.

“Kalau saya pribadi, melihatnya sebelum bencana Sumatra ini kan ada bencana di Cilacap, yang mana Cilacap belum selesai, ada bencana di Banjarnegara, dari relawan Jateng semua fokus di situ semua,” jelasnya.

Ia menyadari, para relawan di Jawa Tengah telah terkuras tenaga dan emosi akibat rentetan bencana yang datang silih berganti.

“Belum istirahat, dua sampai tiga hari kemudian banjir Sumatra terjadi, saya berpikir teman-teman masih butuh rehat, dari Jawa Tengah kemungkinan sedikit yang berangkat ke sana, akhirnya ini menjadi panggilan jiwa, ya sudah waktunya saya menggantikan relawan yang sedang istirahat,” tambahnya.

Istri Sudah Paham Risiko Sejak Awal

Menariknya, Setiawan mengaku baru berpamitan dengan istrinya setelah tiba di lokasi bencana.

Namun hal itu bukan persoalan besar dalam rumah tangganya, karena sang istri telah lama memahami jalan hidup yang dipilih suaminya.

“Kalau istri sudah biasa, karena dulu pernah berangkat ke Padang, juga ke Merapi, jadi istri sudah paham,” pungkasnya.

Pengabdian Tanpa Sorotan

Kisah Setiawan adalah potret sunyi tentang pengabdian tanpa pamrih.

Tanpa sorotan kamera besar, tanpa gelar kehormatan, ia memilih menempuh ribuan kilometer, meninggalkan keluarga dan kenyamanan rumah demi membantu sesama yang tertimpa bencana.

Saat banyak orang merayakan akhir tahun, Setiawan justru kembali ke pos jaga sekolah, melanjutkan perannya sebagai penjaga bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan.

***

(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari TribunSolo)

Jangan lewatkan berita-berita tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *